Psikolog: Kritik Sosial Anak Muda Jangan Langsung Dilabel Depresi
Jakarta, CNBC Indonesia - Laporan Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin perihal program Cek Kesehatan Gratis terkait tingginya gejala depresi dan kecemasan pada anak dan remaja menjadi perhatian publik. Namun, psikolog mengingatkan agar data tersebut dibaca sebagai alarm dini, bukan vonis gangguan mental secara massal.
Psikolog Anak & Keluarga, Astrid W.E.N., M.Psi menilai, lonjakan gejala kesehatan mental pada kelompok usia muda tidak bisa dilepaskan dari dampak panjang pandemi Covid-19. Menurutnya, pandemi meninggalkan efek psikologis jangka panjang yang belum sepenuhnya selesai hingga kini, terutama bagi anak dan remaja yang berada pada fase krusial perkembangan emosi dan sosial.
"Dampak pandemi tidak berhenti saat status darurat dicabut. Ada long-term effect yang bisa berlangsung bertahun-tahun (hingga saat ini), dan ini sangat terasa pada anak dan remaja," ujarnya kepada CNBC Indonesia, Selasa (20/1/2026).
Astrid juga menyoroti perubahan karakter generasi muda saat ini. Generasi Z dan Generasi Alpha dinilai memiliki tingkat kesadaran yang jauh lebih tinggi terhadap isu kesehatan mental, kualitas hidup, hingga masa depan lingkungan.
Mereka juga lebih terbiasa menamai dan mengungkapkan apa yang dirasakan. Media sosial pun, kata Astrid, menjadi ruang utama ekspresi.
Akibatnya, hal-hal yang dulu tersembunyi kini lebih terlihat dan terdengar. Kondisi ini membuat gejala psikologis tampak meningkat, meski tidak selalu berarti terjadi lonjakan gangguan mental secara klinis.
"Hal yang sering terlewat untuk dipahami publik adalah bahwa gejala tidak sama dengan diagnosa," tegasnya.
Astrid menegaskan, munculnya gejala depresi atau kecemasan tidak otomatis berarti seseorang mengalami depresi atau gangguan kecemasan secara medis.
"Diagnosis psikologis memerlukan asesmen mendalam, pemenuhan kriteria tertentu, serta pemantauan dari waktu ke waktu. Skrining hanya berfungsi sebagai langkah awal, bukan penentu diagnosis," jelasnya.
"Mengapa Aku WNI"
Dalam konteks ini, Astrid juga menanggapi narasi-narasi yang kerap ramai di media sosial, seperti ungkapan kekecewaan terhadap kondisi sosial dan kebijakan negara. Menurutnya, ekspresi semacam itu tidak bisa serta-merta dimaknai sebagai depresi.
"Narasi kritik sosial bisa mencerminkan stres, frustrasi, atau kekecewaan. Generasi muda saat ini memang lebih vokal, reflektif, dan kritis karena kepedulian mereka terhadap masa depan dan keadilan lebih tinggi dibanding generasi sebelumnya," ujarnya.
Karena itu, ia mengingatkan agar orang dewasa, orang tua, pendidik, hingga pembuat kebijakan tidak gegabah memberi label patologis. Data tingginya gejala kesehatan mental seharusnya menjadi peringatan bagi negara untuk memperkuat sistem dukungan, bukan justru memicu stigma baru.
Menurut Astrid, yang dibutuhkan anak dan remaja adalah ruang dialog yang aman, literasi kesehatan mental yang memadai, serta sistem pendukung yang responsif agar keresahan dapat disalurkan secara sehat dan konstruktif.
"Gejala yang meningkat adalah sinyal. Ini alarm agar kita lebih serius mendengar, memahami, dan merespons kebutuhan psikologis generasi muda, bukan langsung menghakimi mereka sebagai 'sakit'," kata ia menutup.
(miq/miq)