Ikan Favorit Warga RI yang Ternyata Menyerap Racun dalam Air

Tim Redaksi,  CNBC Indonesia
08 January 2026 08:00
Harun petugas PPSU mengecek lele yang di budidayakan di Kolong Tol Becakayu, Jakarta Timur, Selasa, 2 Februari 2020. Memanfaatkan lahan kosong di kolong Tol Becakayu Harun bersama warga kelurahan Cipinang Melayu membuat sejumlah kolam dengan bak yang berisi 70 kg lele. Harun bersama warga rutin memberikan pakan  ke lele lele tersebut. Budidaya lele tersebut dengan metode kolam bioflok. Dia mengatakan budidaya ikan lele sistem bioflok adalah suatu sistem pemeliharaan ikan dengan cara menumbuhkan mikroorganisme yang berfungsi mengolah limbah budi daya itu sendiri menjadi gumpalan-gumpalan kecil yang bermanfaat sebagai makanan alami ikan. Hasil panenya ia jual ke warga dengan harga Rp 25 ribu/kg.  (CNBC Indonesia/ Muhammad Sabki)
Foto: Budidaya Lele di bawah kolong tol Becakayu (CNBC Indonesia/ Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Lele merupakan salah satu ikan paling populer di Indonesia. Lezat, kaya nutrisi, dan mudah disiapkan, ikan lele memiliki sejarah panjang di seluruh dunia. Terdapat lebih dari 2.000 spesies ikan lele, yang ditemukan di setiap benua kecuali Antartika.

Mengutip Seafood Watch, ikan lele memiliki profil lemak yang sehat. Kandungan lemak jenuhnya rendah (sekitar 1 gram per porsi tergantung jenisnya) sekaligus merupakan sumber asam lemak omega-3 DHA dan EPA yang kaya (hingga 300 miligram per porsi). Artinya, ikan ini juga membantu mendukung kesehatan jantung dan fungsi otak.

Meski begitu, penelitian menunjukkan ikan lele (Clarias sp. dan spesies catfish lainnya) mampu mengakumulasi berbagai polutan seperti logam berat dan polutan organik persisten melalui penyerapan air, bahan makanan yang terkontaminasi, dan limbah industri, yang kemudian dapat terakumulasi di jaringan ikan tersebut. 

Ikan lele dapat mengakumulasi polutan seperti PCB, pestisida, dan logam berat (merkuri, timbal, kadmium) dari air dan sedimen yang terkontaminasi, menurut riset yang dipublikasikan di Environmental Research. 

Ikan lele liar dari sungai yang tercemar memiliki risiko lebih tinggi daripada ikan lele dari perairan yang lebih bersih.

Studi di Sungai Paraopeba (Brasil) melaporkan bahwa logam berat seperti Hg, Cd, Cr, Pb, dan Zn terakumulasi dalam jaringan ikan lele. Kandungan logam berat sering kali lebih tinggi di organ internal, yang menunjukkan potensi risiko bagi kesehatan jika dimakan secara terus-menerus. 

Agar tidak waswas saat mengonsumsi ikan lele, pilihlah ikan yang dibudidayakan dalam kolam bersih dan terawasi. Sebab, risiko kesehatan pada lele umumnya berasal dari paparan polutan lingkungan, bukan dari ikannya sendiri.

(hsy/hsy)
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Ilmuwan Sebut Mikroplastik Bisa Menyusup ke Otak, Begini Dampaknya!


Most Popular
Features