Jerawat Punya Kaitan dengan Kesehatan Mental? Begini Penjelasan Dokter
Jakarta, CNBC Indonesia - Jerawat kerap dianggap sebagai masalah kulit yang wajar dialami remaja. Namun di balik kemunculannya, kondisi ini bisa membawa dampak psikologis yang jauh lebih serius, termasuk gangguan kepercayaan diri hingga depresi.
Dokter spesialis kulit, Dr Akriti Gupta, menyebut jerawat pada remaja seringkali memengaruhi cara mereka memandang diri sendiri. Masalahnya bukan hanya soal tampilan fisik, tetapi juga kesehatan mental.
"Banyak remaja berpikir jerawat hanyalah masalah kulit. Padahal beban emosionalnya bisa sangat berat," ujar Dr Gupta dikutip dari Hindustan Times, Jumat (2/1/2026).
Ia menambahkan, sebagian besar pasien remaja yang datang ke kliniknya bukan semata ingin menghilangkan jerawat, tetapi karena kondisi tersebut mulai mengganggu rasa percaya diri mereka. Menurut Dr Gupta, jerawat muncul di fase kehidupan yang sangat rentan.
Masa remaja adalah periode pembentukan identitas, rasa percaya diri, dan posisi sosial. Di saat yang sama, munculnya jerawat bisa membuat remaja menarik diri dari lingkungan.
"Banyak remaja menghindari kontak mata, menolak ikut kegiatan sosial, bahkan memilih bolos sekolah saat jerawat sedang meradang," jelasnya.
Dampak emosionalnya sering kali tidak terlihat secara langsung. Perubahan suasana hati, mudah marah, kehilangan minat pada hobi, hingga ketergantungan pada filter media sosial kerap dianggap sebagai perilaku remaja pada umumnya. Padahal, menurut Dr Gupta, tanda-tanda ini perlu mendapat perhatian serius.
"Ketika seorang remaja menghabiskan satu jam di depan cermin untuk menganalisis setiap pori-pori wajahnya, itu jarang soal kesombongan. Biasanya itu kecemasan," katanya.
Lingkaran Jerawat dan Depresi
Dr Gupta menjelaskan, jerawat dan depresi memiliki hubungan dua arah. Jerawat bisa memicu depresi, sementara depresi juga dapat memperburuk jerawat melalui perubahan hormon, kualitas tidur yang buruk, serta peradangan akibat stres.
"Kondisi ini menciptakan lingkaran setan. Stres memicu jerawat, jerawat memperdalam stres," ujarnya.
Tekanan media sosial memperparah situasi. Perbandingan tanpa henti, standar kecantikan yang tidak realistis, dan penggunaan filter berlebihan membuat remaja merasa tidak cukup baik.
"Masalah utamanya bukan jerawatnya, tapi keyakinan bahwa jerawat membuat mereka kurang berharga," tegas Dr Gupta.
Kabar baiknya, siklus ini bisa diputus dengan penanganan yang tepat. Menurut Dr Gupta, terapi dermatologi saat ini jauh lebih efektif dibandingkan sebelumnya, mulai dari retinoid topikal, eksfoliasi kimia ringan, hingga terapi hormonal dan obat oral yang lebih terarah.
Ia juga menekankan peran orang tua untuk tidak meremehkan perasaan anak. Menyuruh remaja "tidak usah dipikirkan" justru jarang membantu. "Yang dibutuhkan adalah validasi perasaan mereka dan rencana perawatan yang jelas," ujarnya.
Dr Gupta merekomendasikan beberapa langkah dasar yang bisa dilakukan:
1. Gunakan pembersih wajah yang lembut dua kali sehari untuk mengontrol minyak tanpa mengiritasi kulit.
2. Aplikasikan retinoid topikal pada malam hari untuk mencegah pori-pori tersumbat.
3. Gunakan benzoyl peroxide atau asam salisilat untuk jerawat aktif dan peradangan.
4. Hindari memencet jerawat karena dapat memperparah bekas dan memperlambat penyembuhan.
5. Konsultasikan ke dokter kulit sejak dini jika jerawat bersifat hormonal, menetap, atau berisiko meninggalkan bekas.
"Menangani jerawat pada remaja bukan sekadar urusan kosmetik, ini adalah bagian dari perawatan kesehatan mental," ujar Dr Gupta. "Kulit yang lebih bersih memang penting, tapi ketenangan pikiran jauh lebih berharga. Ketika keduanya ditangani bersamaan, proses penyembuhan akan jauh lebih cepat, luar dan dalam," ujarnya menambahkan.
[Gambas:Video CNBC]