Studi: Pelari Marathon Berisiko Lebih Tinggi Terkena Kanker Usus Besar
Jakarta, CNBC Indonesia - Studi yang dipresentasikan pada American Society of Clinical Oncology (ASCO) tahun 2025 mengungkap, pelari jarak jauh intensif memiliki risiko lebih tinggi mengalami advanced adenomas (AA), yakni jenis polip usus yang berpotensi berkembang menjadi kanker. Penelitian yang masih dalam proses publikasi ini menganalisis hasil kolonoskopi terhadap 100 pelari marathon dan ultramarathon berusia 35-50 tahun.
Hasil penelitian itu kemudian menunjukkan, hampir 50% partisipan memiliki polip, dan 15% di antaranya terbukti memiliki advanced adenomas. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan populasi umum usia 40-49 tahun yang hanya berada di kisaran 1,2% hingga 6%.
"Setelah bertemu tiga atlet ekstrem (dua di antaranya berlari ultramaraton 100 mil dan seorang wanita yang mengikuti puluhan triathlon) dengan kanker usus besar stadium IV sebelum usia 40 tahun, saya mulai curiga ada kaitannya," kata Onkolog dari Inova Schar Cancer Institute, Virginia, Dr. Timothy L. Cannon dikutip dari Medscape Medical News, Jumat (2/1/2026).
Salah satu temuan mencolok adalah tingginya kasus perdarahan rektal setelah berlari. Sebanyak 30% partisipan melaporkan mengalami perdarahan, terutama mereka yang memiliki advanced adenomas, dengan perbandingan 53% vs 22% pada mereka yang tidak memiliki lesi berbahaya. Menurut Cannon, banyak atlet menganggap perdarahan ini sebagai hal normal.
"Beberapa atlet diberitahu bahwa berdarah setelah lari adalah hal biasa. Itu sangat mengkhawatirkan," ujarnya.
Para peneliti menduga, saat lari jarak jauh, aliran darah dialihkan ke otot kaki sehingga usus mengalami kekurangan suplai darah (iskemia). Kondisi ini memicu peradangan, kerusakan sel, dan mempercepat regenerasi sel yang tidak teratur yang berpotensi meningkatkan risiko mutasi.
Selain faktor fisiologis, pola makan atlet juga menjadi sorotan.
"Banyak pelari mengonsumsi bar dan gel ultra-proses, minum dari botol plastik jauh lebih sering, dan sepertiga peserta bahkan vegetarian atau vegan," ungkap Cannon.
Tim peneliti kini menyiapkan survei lanjutan yang lebih detail terkait diet, mikrobioma usus, dan pola latihan. Walau begitu, Profesor gastroenterologi dari Indiana University, Dr. Thomas F. Imperiale menilai, hasil ini menarik namun masih memiliki keterbatasan metodologi, termasuk penggunaan pembanding data historis dan belum adanya kelompok kontrol.
"Pertama, patokan perbandingan prevalensi adenoma lanjut sebesar 1,2% didasarkan pada data kolonoskopi skrining dari 25 tahun yang lalu. Setidaknya, patokan terkini harus digunakan," ujar Dr.Thomas Imperiale.
"Masalah kedua adalah tidak adanya kelompok kontrol yang terdiri dari orang-orang yang mungkin berolahraga tetapi tidak mengikuti marathon," ujarnya menambahkan.
Sementara Dr. Hamed Khalili dari Harvard Medical School menyebut temuan ini masih sangat awal dan memerlukan studi berskala lebih besar. "Ukuran sampelnya kecil, dan kelompok pembandingnya adalah kontrol historis, jadi tidak jelas apakah perbedaan yang diamati hanyalah masalah pengambilan sampel," katanya.
Meski belum cukup kuat untuk mengubah pedoman skrining nasional, Cannon memberikan pesan tegas: "Jangan pernah menganggap perdarahan setelah lari sebagai hal sepele. Kondisi ini harus diperiksa secara medis."
[Gambas:Video CNBC]