Waspada Kasus Campak Lagi Tinggi, Orang Dewasa Juga Bisa Kena

Lifestyle - Rindi Salsabilla, CNBC Indonesia
20 January 2023 20:38
Imunisasi Campak Ditengah Pandemi Covid-19 (CNBC Indonesia/Tri Susilo) Foto: Imunisasi Campak Ditengah Pandemi Covid-19 (CNBC Indonesia/Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Kasus campak di Indonesia pada 2022 tercatat meningkat 32 kali lipat dibanding tahun sebelumnya. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) pun mengingatkan risiko bagi orang dewasa terjangkit virus campak, terutama bila sebelumnya belum pernah memiliki riwayat campak. Sebab, virus ini dapat menginfeksi segala usia.


"Campak ini bisa terkena kepada orang dewasa. Pokoknya orang yang tidak pernah memiliki kekebalan terhadap campak, ya, masih bisa terkena campak," tegas Direktur Pengelolaan Imunisasi Ditjen P2P Kementerian Kesehatan, dr. Prima Yosephine dalam konferensi pers daring, Jumat (20/1/2023).


Prima mengatakan, salah satu cara untuk mencegah virus campak adalah melalui imunisasi. Namun, saat ini Indonesia masih belum memiliki program khusus imunisasi atau vaksin untuk dewasa.


"Saat ini kita memakai vaksin campak rubella dan itu untuk anak-anak. Untuk dewasa, saya mesti lihat dulu karena belum masuk program untuk dewasa," sebut dr Prima.


"Saat ini, sebetulnya yang biasa diberikan untuk dewasa ada vaksin MMR (Measles Mumps Rubella) untuk dewasa. Itu yang biasanya dipakai. Jadi bukan vaksin yang dipakai untuk anak," lanjutnya.


Vaksin MMR adalah vaksin yang mengandung kombinasi virus campak, gondongan, dan rubella. Vaksin ini digunakan untuk melindungi tubuh dari tiga jenis penyakit, yaitu campak (measles), gondongan (mumps), dan rubella.


Dalam kesempatan yang sama, Kemenkes menyatakan bahwa Indonesia telah mencatat 3.341 total kasus campak sepanjang 2022. Data tersebut adalah jumlah kumulatif dari 223 kabupaten dan kota dari 31 provinsi di Indonesia.


"Kalau kita bandingkan dengan keadaan di 2021, memang ada peningkatan yang cukup signifikan. Meningkat kurang lebih 32 kali lipat," jelas Direktur Pengelolaan Imunisasi Ditjen P2P Kementerian Kesehatan, dr. Prima Yosephine dalam konferensi pers daring, Jumat (20/1/2023).


Prima mengatakan, melonjaknya kasus tersebut karena keterbatasan Kemenkes untuk mencapai target pelayanan imunisasi rutin pada 2020 dan 2021 sehingga anak-anak yang tidak diimunisasi semakin banyak dan kasus penularan semakin cepat.


"Sebagian besar kasus [campak] pada 2022 sebagian besar tidak pernah diimunisasi dan beberapa ada yang sudah diimunisasi, tetapi tidak lengkap," ujar dr. Prima.

Umumnya, gejala yang dikeluhkan penderita campak adalah demam tinggi, batuk, pilek, dan radang mata. Kemudian, dua hingga empat hari setelah gejala awal akan muncul bintik-bintik kemerahan pada seluruh tubuh.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

[Breaking] Kasus Gagal Ginjal Naik Terus, 133 Anak Meninggal


(hsy/hsy)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
LAINNYA DI DETIKNETWORK
    spinner loading
Features
    spinner loading