Gunung Berapi Bawah Laut Antartika Picu Potensi 85 Ribu Gempa

Lifestyle - Lynda Hasibuan, CNBC Indonesia
28 April 2022 19:28
A collapsed section of a cliff is seen in Shiogama, Miyagi Prefecture, northern Japan Saturday March 20, 2021, after a powerful earthquake struck northeastern Japan. A strong earthquake struck Saturday off northern Japan, shaking buildings even in Tokyo and triggering a tsunami advisory for a part of the northern coast. (Kyodo News via AP)

Jakarta, CNBC Indonesia - Gunung berapi bawah laut yang lama tidak aktif di dekat Antartika dikabarkan kembali aktif. Hal ini memicu 85.000 gempa bumi.

Gempa yang dimulai pertama pada Agustus 2020 dan mereda pada November 2020 adalah aktivitas gempa terkuat yang pernah tercatat di wilayah tersebut.

Menurut penelitian gempa tersebut kemungkinan disebabkan oleh "jari" magma panas yang menyembul ke dalam kerak Bumi.


"Ada intrusi serupa di tempat lain di Bumi, tetapi ini adalah pertama kalinya kami mengamatinya di sana. Biasanya, proses-proses ini terjadi dalam skala waktu geologis, yang bertentangan dengan rentang hidup manusia, kata Cesca. Jadi di satu sisi, kita beruntung melihat ini," kata Simone Cesca, ahli seismologi di Pusat Penelitian Geosains Jerman GFZ.

Sekumpulan gempa itu terjadi di sekitar Orca Seamount, sebuah gunung berapi tidak aktif yang menjulang 2.950 kaki (900 meter) dari dasar laut di Selat Bransfield, sebuah lorong sempit antara Kepulauan Shetland Selatan dan ujung barat laut Antartika.

Di wilayah ini, lempeng tektonik Phoenix berada di bawah lempeng Antartika, menciptakan jaringan zona patahan, meregangkan beberapa bagian kerak, dan membuka celah di tempat lain, menurut sebuah studi 2018 di jurnal Polar Science.

Para ilmuwan di stasiun penelitian di Pulau King George pertama kali merasakan gemuruh gempa kecil tersebut. Kabar tersebut diterima oleh Cesca dan rekan-rekan ilmuwan lainnya di seluruh dunia.

Tim ahli ingin memahami apa yang sedang terjadi, tetapi Pulau King George terpencil sehingga sulit untuk dijangkau karena hanya ada dua stasiun seismik di dekatnya, kata Cesca.

Oleh karena itu, para peneliti menggunakan data dari stasiun seismik serta data dari dua stasiun Bumi untuk sistem navigasi satelit global. Data tersebut untuk mengukur perpindahan tanah.

Mereka juga melihat data dari stasiun seismik yang lebih jauh dan dari satelit yang mengelilingi Bumi dengan menggunakan radar untuk mengukur pergeseran di permukaan tanah.

Dua gempa bumi terbesar dalam rangkaian tersebut adalah gempa berkekuatan 5,9 pada Oktober 2020 dan gempa berkekuatan 6,0 pada November. Setelah gempa November, aktivitas seismik berkurang.

Gempa tampaknya menggerakkan tanah di Pulau King George sekitar 4,3 inci (11 sentimeter), demikian temuan studi tersebut. Hanya 4% dari perpindahan itu yang dapat dijelaskan secara langsung oleh gempa bumi.

Para ilmuwan berpikir bahwa hal itu dapat terjadi jika adanya erupsi bawah laut.

Hingga saat ini, belum ada bukti langsung untuk letusan sehingga para ahli tidak dapat mengonfirmasi bahwa gunung berapi meledak. "Apa yang kami pikirkan adalah bahwa 6 magnitudo entah bagaimana menciptakan beberapa rekahan dan mengurangi tekanan dari tanggul magma," kata Cesca.

Jika terjadi erupsi bawah laut di gunung bawah laut, kemungkinan besar terjadi pada saat itu. Tapi sampai sekarang, tidak ada bukti langsung untuk letusan.

Untuk mencari bukti ini, para ilmuwan harus mengirim misi ke selat untuk mengukur batimetri atau kedalaman dasar laut dan membandingkan dengan peta sebelumnya.


[Gambas:Video CNBC]

(pgr/pgr)
Terpopuler
    spinner loading
Artikel Terkait
Features
    spinner loading