Kisah Pilu Ramadan dari Pengungsi Afghanistan di AS

Lifestyle - Tim Redaksi, CNBC Indonesia
06 April 2022 18:05
An Afghan girl in a bus waits to leave after arriving with her family at the Incheon International Airport, South Korea, Thursday, Aug. 26, 2021. (AP Photo/Ahn Young-joon)

Jakarta, CNBC Indonesia - Sambil duduk bersila di lantai, Wolayat Khan Samadzoi menatap langit sore New Mexico, Amerika Serikat, melalui pintu balkon yang terbuka. Ketika matahari telah terbenam di balik gunung gurun, sambil mengunyah kurma, mantan tentara Afghanistan berjanggut lebat itu berbuka puasa Ramadhan pertamanya di Amerika Serikat, jauh dari ancaman Taliban, dan juga jauh dari keluarga besarnya yang masih berada di Khost, Afghanistan.

Setelah menyantap roti naan yang dicelupkan ke dalam mangkuk berisi okra dan kacang rebus, Samadzoi, istri dan dua anak tertuanya menunaikan ibadah shalat maghrib. 

"Saya berdoa untuk mereka, dan mereka berdoa untuk saya, mereka merindukan saya," kata Samadzoi, seperti dikutip Arab News. 


Sepupu Samadzoi, Noor Rahman Faqir, yang sekarang berada di Las Cruces, menerjemahkan dari bahasa Pashto ke bahasa Inggris sederhana yang dipelajarinya saat bekerja dengan pasukan Amerika di Afghanistan.

Sambil terus menyesuaikan diri dengan komunitas baru mereka, keluarga Afghanistan yang dievakuasi ke Amerika Serikat merayakan Ramadhan dengan rasa syukur atas keselamatan mereka. Namun ada juga rasa pilu karena jauh dari orang-orang terkasih. Mereka khawatir, keluarga yang mereka cintai berada dalam bahaya di bawah kepemimpinan Taliban yang semakin represif.

Ada puluhan ribu orang Afghanistan yang baru tiba di Amerika Serikat belum lama ini. Mereka berbagi satu kekhawatiran yang sama. Saat ini mereka hanya punya status imigrasi sementara dan pekerjaan bergaji rendah. Mereka merasa tidak berdaya untuk mengurus keluarga mereka di sini dan di rumah.

Abdul Amir Qarizada mengingat momen ketika ia diperintahkan untuk lepas landas dari bandara Kabul saat ribuan orang kalang kabut berusaha kabur dari Afghanistan. Saat itu, ia tak punya cukup waktu untuk membawa serta istri dan lima anaknya, yang masih berada di Afghanistan lebih dari tujuh bulan kemudian.

"Kekhawatiran saya adalah pesawat itu aman, tetapi keluarga saya tidak aman," kata mantan insinyur penerbangan itu, setelah salat Jumat di satu-satunya masjid Las Cruces.

Hal yang sama dirasakan Qais Sharifi. Dia tidak bisa tidur karena khawatir akan anak-anaknya yang ditinggalkan di Afghanistan, termasuk seorang putri yang lahir dua bulan setelah dia melarikan diri ke Amerika sendirian.

Mereka menyesalkan fakta bahwa sebagian besar keluarga Afghanistan yang terlantar tidak memiliki status hukum permanen di Amerika Serikat, terlepas dari layanan mereka untuk pemerintah AS, militer, atau sekutu mereka selama perang Afghanistan pasca-9/11. Padahal, status permanen bisa memberi mereka akses ke banyak tunjangan pemerintah dan jalan yang lebih mudah untuk bekerja dan menyatukan kembali keluarga mereka. 

Perang Afghanistan yang terjadi selama beberapa dekade memang telah membuat perayaan Ramadhan tidak semeriah di negara lainnya, tetapi Qarizada tetap ingat hidangan khas Ramadhan yang biasa dibuat ibunya, yaitu roti goreng isi seperti samosa raksasa.

Di Texas, Dawood Formuli merindukan rutinitas sebelum buka puasa khas keluarganya. Di mana semua orang riuh dan tak sabar menanti azan magrib.

Di apartemen barunya di Fort Worth, suara azan sekarang datang dari aplikasi di ponsel, bukan dari menara masjid.

Perubahan ini sangat sulit bagi istrinya yang sedang hamil, yang juga masih belajar bahasa Inggris. Namun ada jejak yang akrab di komunitas baru mereka: tetangga Muslim, masjid untuk shalat tarawih, dan pasar makanan halal.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Tradisi Ramadan Unik di Dunia, dari Lebanon sampai Mesir


(hsy/hsy)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading