Selain Putin, Ini Tiga Tokoh yang Pernah Pimpin Rusia

Lifestyle - Linda Hasibuan, CNBC Indonesia
25 February 2022 19:14
Participants march during preparations for a military parade to mark the anniversary of a historical parade in 1941, when Soviet soldiers marched towards the front lines during World War Two, on Red Square in central Moscow, Russia November 7, 2019. REUTERS/Evgenia Novozhenina

Jakarta, CNBC Indonesia - Rusia tengah menjadi perhatian dunia karena negara yang dipimpin Presiden Vladimir Putin itu melancarkan serangan militer ke negara tetangganya, Ukraina. Aksi Rusia ini tak pelak mendapatkan kritikan internasional. 

Bicara soal Rusia memang rasanya tak mungkin tanpa membahas Putin. Sejarah mencatat bahwa Putin pernah dua kali menjabat sebagai presiden dan dua kali pula menjadi perdana menteri. Ini karena Rusia dikategorikan sebagai negara yang berbentuk republik federal karena negara ini memiliki bentuk sistem politik presidensial dan parlementer. 

Putin sendiri sering disebut sebagai pemimpin abadi dalam sejarah kontemporer Rusia. Namun, sebelum kepemimpinan Putin, Rusia juga pernah dipimpin oleh sejumlah tokoh berikut:


1. Dmitry Medvedev (2008-2012)

Pada usia 42 tahun, Dmitry Medvedev telah menjadi presiden Rusia ketiga dan termuda yang pernah menjabat. Resmi dilantik pada 2 Maret 2005, Medvedev menggantikan posisi rekan dekatnya, Vladimir Putin.

Kemudian, ketika Vladimir Putin terpilih kembali sebagai presiden Rusia pada 8 Mei 2012, Medvedev bertukar posisi menjadi Perdana Menteri Federasi Rusia. Ia menduduki jabatan itu sampai pengunduran diri kabinet.

Pada 26 Mei 2012, Medvedev juga ditunjuk sebagai pemimpin partai Rusia Bersatu yang berkuasa.

Perlu diketahui, konstitusi Rusia menerapkan kebijakan boleh menjabat kembali di pemerintahan setelah dua kali diangkat sebagai presiden selama tidak berurutan. Beberapa kalangan menduga telah terjadi kesepakatan sejak lama antara Putin dan Medvedev, untuk menjabat posisi strategis di pemerintahan Rusia. Keduanya pertama kali bertemu sebagai rekan kerja di kota asal mereka, St. Petersburg, pada dekade 1990-an.

2. Boris Yeltsin (1991-1999)

Boris Yeltsin merupakan presiden pertama Rusia yang dipilih publik. Boris Yeltsin telah membawa Rusia melewati badai politik dan ekonomi sampai pengunduran dirinya pada malam tahun 2000.

Sebelum menduduki jabatan presiden, Yeltsin pernah menentang para pemimpin kudeta yang menggulingkan Presiden Gorbachev. Ketika kudeta runtuh beberapa hari setelah dimulai, Yeltsin muncul sebagai tokoh politik paling kuat di negara itu. Pada Desember 1991 ia dan presiden Ukraina dan Belarusia mendirikan Persemakmuran Negara-Negara Merdeka baru yang akan menggantikan Uni Soviet.

Ketika Uni Soviet runtuh setelah pengunduran diri Gorbachev sebagai presiden Soviet pada 25 Desember, pemerintah Rusia di bawah kepemimpinan Yeltsin kemudian mengambil alih banyak tanggung jawab untuk pertahanan, urusan luar negeri, dan keuangan.

Pada akhir 1990-an, manuver politik mendominasi sebagian besar pemerintahan negara itu ketika Yeltsin memecat empat perdana menteri dan pada 1998 memecat seluruh kabinetnya, meskipun banyak yang kemudian diangkat kembali.

Tahun berikutnya, Duma Negara (State Duma) memprakarsai upaya pemakzulan Yeltsin dan menuduh bahwa dia telah mendorong pecahnya Uni Soviet pada tahun 1991, di antara tuduhan lainnya.

Yeltsin pun mengumumkan pengunduran dirinya pada 31 Desember 1999. Dia lalu menunjuk Perdana Menteri Vladimir Putin untuk menggantikannya sebagai presiden.

3. Mikhail. S Gorbachev (1985-1991)

Pada tahun 1950, Gorbachev terdaftar sebagai kandidat anggota Partai Komunis Uni Soviet. Setelah lulus dari universitas pada 1955, Gorbachev dikirim untuk bekerja di Kantor Kejaksaan Wilayah (Krai) Stavropol.

Pada puncak karir Mikhail Gorbachev, ia dipilih sebagai Sekretaris Jenderal Komite Sentral Partai Komunis Uni Soviet pada bulan Maret 1985. Jabatan ini menempatkan Gorbachev sebagai pemimpin Uni Soviet.

Mikhail Gorbachev segera mengenalkan program reformasi bagi masyarakat Uni Soviet. Program ini secara populer disebut sebagai Glasnost dan Perestroika yang berarti 'keterbukaan'. Melalui Glasnost, Gorbachev ingin meningkatkan diskusi publik tentang isu-isu negara dan memberikan akses informasi kepada publik. Glasnost ini diumumkan secara resmi pada pertengahan 1986.

Adapun Perestroika yang memiliki arti 'restrukturisasi', diperkenalkan pada tahun 1987. Tujuan dari Perestroika adalah untuk memperbaiki ekonomi Uni Soviet melalui desentralisasi, yang menyebabkan melemahnya kekuatan pemerintah pusat Uni Soviet.

Pada 15 Maret 1990, Kongres Deputi Rakyat memilih Gorbachev sebagai presiden pertama Uni Soviet. Dengan kekuatan politik Gorbachev yang melemah dan ketidakpercayaan masyarakat, Uni Soviet mendekati masa akhirnya. Pada 25 Desember 1991, Gorbachev mengundurkan diri sebagai Kepala Negara. Keesokan harinya, Uni Soviet secara resmi telah runtuh.



[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Ini Alina Kabaeva, Pacar Putin yang Heboh Diperbincangkan


(hsy/hsy)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading