Duh! Resesi Seks Makin Hantam China? Angka Kelahiran Ambruk

Lifestyle - Linda Hasibuan, CNBC Indonesia
19 January 2022 10:25
condom

Jakarta, CNBC Indonesia - Belakangan, fenomena 'resesi seks' makin nyata di China. Istilah ini merujuk tulisan koresponden CNBC International yang mengambarkan menurunnya mood pasangan untuk melakukan hubungan seksual, menikah dan punya anak.

Di sejumlah negara, resesi seks kini muncul sebagai dampak dari sejumlah soal. Pandemi Covid-19 dan perubahan iklim disebut-sebut menjadi salah satu biang keladi terbaru penyebab resesi seks.

Di China, dalam laporan terbaru Selasa (23/11/2021), angka kelahiran China pada tahun 2020 mengalami penurunan yang sangat drastis. Bahkan, angka ini merupakan angka terendah dalam 43 tahun terakhir.


Lalu apakah China terinfeksi resesi seks?

Dalam pemberitaan media resmi China, Global Times, Biro Statistik Nasional China mengumumkan tingkat kelahiran pada tahun 2020 tercatat 8,52 per seribu orang. Selain itu, badan resmi pemerintah itu mencatat bahwa tingkat pertumbuhan alami populasi menyumbang 1,45 per seribu, nilai terendah dalam 43 tahun.

Mengutip Strait Times yang melansir Bloomberg, tak ada alasan langsung mengapa angka kelahiran turun. Tetapi angka-angka baru mengonfirmasi pertumbuhan populasi di ekonomi nomor dua dunia itu melambat secara dramatis, bahkan diperkirakan akan semakin turun, sebagaimana ditegaskan sejumlah pejabat sejak Juli 2021.

Sementara itu, beberapa pakar demografi menyebut bahwa hal ini diakibatkan oleh rendahnya wanita yang menginginkan kehamilan. Pada Oktober lalu, Liga Pemuda Komunis China mengeluarkan publikasi yang mencatat hampir setengah atau 50% dari wanita muda yang tinggal di perkotaan negeri itu enggan menikah.

Ada beberapa alasan yang menyebabkan keengganan untuk menikah ini. Mulai dari tak punya waktu hingga biaya keuangan pernikahan dan beban ekonomi memiliki anak.

"Mereka yang disurvei mengatakan tidak punya waktu atau energi untuk menikah," kata laporan tersebut.

Sepertiga responden juga mengatakan mereka tidak percaya pada pernikahan. Bahkan dalam persentase yang sama, mereka juga mengatakan tidak pernah jatuh cinta.

Dari seluruh alasan itu, ada juga satu alasan terkait kultur bekerja 9-9-6. Budaya ini adalah posisi bekerja di mana warga bekerja 9 pagi sampai 9 malam, enam hari seminggu.

Budaya ini paling kentara di perusahaan digital seperti Alibaba, Pinduoduo, dan JD.com. Hal ini membuat pekerja merasa terhalang dalam membina keluarga. Perusahaan menyebut kultur ini merupakan program "perjuangan". Karyawan diminta melepas hak dan tunjangannya untuk perkembangan perusahaan.

Pengadilan China pun sudah mulai menindak perusahaan semacam ini. Para Hakim mengingatkan agar perusahaan tetap menghormati hak dan kewajiban perusahaan dalam mempekerjakan para karyawannya.

 


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

'Resesi Seks' Landa 4 Negara Asia, Kenapa pada Ogah Kawin?


(hsy/hsy)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading