Internasional

Paus Fransiskus Kritik Cancel Culture, Kenapa?

Lifestyle - Thea Fathanah Arbar, CNBC Indonesia
11 January 2022 12:55
Pope Francis kisses a statue of baby Jesus as he leads the Christmas Eve mass in Saint Peter's Basilica at the Vatican, December 24, 2018. REUTERS/Max Rossi     TPX IMAGES OF THE DAY

Jakarta, CNBC Indonesia - Paus Fransiskus menolak adanya cancel culture. Menurutnya hal ini hanya akan membawa pemikiran umat manusia ke "satu jalur" sehingga dikhawatirkan bisa menyangkal bahkan menulis ulang sejarah sesuai dengan standar sendiri.

"Krisis kepercayaan dalam diplomasi multilateral telah menyebabkan agenda semakin didikte oleh pola pikir yang menolak fondasi alami kemanusiaan dan akar budaya yang merupakan identitas banyak orang," kata Paus Fransiskus, dikutip dari Reuters, Senin (10/1/2022).


"Suatu bentuk kolonisasi ideologis, yang tidak meninggalkan ruang untuk kebebasan berekspresi, sekarang mengambil bentuk 'cancel culture', yang menyerang banyak kalangan dan lembaga publik," tambah Paus Fransiskus, menggunakan dua kata dalam bahasa Inggris di tengah pidato panjang dalam bahasa Italia.

Paus Fransiskus membuat komentar ini dalam sebuah pidato kepada para diplomat. Tujuan utama komentar ini adalah kecaman atas informasi tak berdasar atau salah soal vaksin Covid-19, dukungan dari kampanye imunisasi nasional seraya menyebut perawatan kesehatan sebagai kewajiban moral.

"Ini berisiko membatalkan identitas dengan kedok membela keragaman," kata Paus Fransiskus menambahkan lagi.

Kontroversi cancel culture muncul di negara-negara berbahasa Inggris, seperti Amerika Serikat (AS) dan Inggris. Ini juga terjadi di negara-negara Asia, khususnya Korea Selatan (Korsel).

Di AS, penghancuran patung-patung tokoh sejarah seperti Christopher Columbus dan St. Junipero Serra dikaitkan dengan budaya ini. Selain penghapusan patung, beberapa juga menuntut perubahan nama institusi seperti sekolah dan rumah sakit yang dinamai menurut nama tokoh sejarah karena dianggap "berperan dalam penghancuran budaya asli Amerika".

Di Korsel, cancel culture biasanya digunakan kepada orang-orang penting atau public figure yang tidak selaras dengan keinginan masyarakat luas. Aktor Korea Kim Seon Ho, yang bermain di Hometown Cha-cha-cha adalah salah satu korbannya.

Sementara paus tidak menyebutkan contoh budaya pembatalan tertentu. Dia mengatakan situasi sejarah apa pun harus ditafsirkan dalam konteks zamannya dan bukan dengan standar saat ini.


[Gambas:Video CNBC]

(tfa)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading