Ada Ancaman Mengerikan Dunia, PBB Ngotot Bahas Soal Ini

Lifestyle - Khoirul Anam, CNBC Indonesia
13 November 2021 21:20
Kekeringa di Turki. (AP/Emrah Gurel)

Jakarta, CNBC Indonesia - Berbagai negara diminta untuk membuat terobosan dalam menangani kenaikan suhu planet bumi. Hal ini menindaklanjuti pembahasan mengenai permasalahan iklim dalam KTT COP26 di Glasgow pada awal November 2021 lalu.

Rancangan kesepakatan akhir yang dirilis Jumat pagi mengharuskan negara-negara untuk menetapkan climate pledges yang lebih tegas pada 2023. Hal ini sebagai upaya untuk menjembatani kesenjangan antara target saat ini dan pemotongan yang jauh lebih dalam yang menurut para ilmuwan diperlukan pada dekade ini untuk mencegah bencana perubahan iklim.

"Kami telah menempuh perjalanan panjang selama dua minggu terakhir dan sekarang kami membutuhkan suntikan terakhir semangat 'can-do' dari (negara) yang hadir di COP ini. Jadi kami mendapatkan upaya bersama ini," kata Presiden COP26 Inggris Alok Sharma dikutip dari cnbc.com, Sabtu (13/11/2021).


Sharma mengumumkan bahwa pertemuan akan berlanjut hingga Sabtu. Adapun ia mengharapkan adanya kesepakatan di kemudian hari, sedangkan rancangan kesepakatan yang direvisi akan dirilis pada Sabtu pagi.

Tujuan utama pertemuan itu adalah untuk mencapai target aspirasi Perjanjian Paris 2015 dalam mengatasi pemanasan global pada 1,5 derajat celcius di atas tingkat pra-industri, yakni batas yang menurut para ilmuwan akan mencegah dampak buruk.

Diketahui, rancangan baru menjadi tindakan penyeimbang untuk memenuhi tuntutan negara-negara yang paling rentan terhadap iklim, seperti kepulauan dataran rendah, pencemar terbesar di dunia, dan negara-negara pengekspor bahan bakas fosil.

"China berpikir rancangan saat ini masih perlu melangkah lebih jauh untuk memperkuat dan memperkaya bagian-bagian tentang adaptasi, keuangan, teknologi, dan pembangunan kapasitas," kata Zhao Yingmin, negosiator iklim untuk penghasil gas rumah kaca terbesar di dunia.

Usulan terakhir ini menggunakan bahasa yang sedikit lebih lemah dari yang sebelumnya dalam meminta negara untuk menghapuskan subsidi bahan bakar fosil, seperti batu bara, minyak, dan gas, yang merupakan penyebab utama pemanasan global buatan manusia.

"Saat ini, sidik jari kepentingan bahan bakar fosil masih ada dalam teks, dan bukan kesepakatan terobosan yang diharapkan orang di Glasgow," ungkap Greenpeace.

Saudi Arabia, produsen minyak terbesar kedua di dunia mengatakan rancangan terbaru tersebut dapat diterapkan.

Rancangan terbaru yang diakui para ilmuwan menyebutkan, dunia harus mengurangi emisi karbon dioksida sebesar 45% dari tingkat 2010 pada 2030, dan menjadi nol pada 'sekitar pertengahan abad' untuk mencapai target 1,5 C. Adapun menurut PBB, saat ini negara-negara akan melihat peningkatan emisi global hampir 14% pada tahun 2030 dari tingkat 2010.

Rancangan baru menyebut, pada 2025 negara-negara kaya harus menggandakan dana yang disisihkan untuk adaptasi dari tingkat saat ini.

"Ini adalah teks yang lebih kuat dan lebih seimbang daripada yang dimiliki dua hari lalu," kata Helen Mountford dari World Resources Institute.

Dari sekitar USD 80 miliar negara kaya yang dihabiskan untuk pendanaan iklim bagi negara-negara miskin pada 2019, hanya seperempatnya yang digunakan untuk keperluan mengadaptasi.


[Gambas:Video CNBC]

(hps/hps)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading