Internasional

Di AS Warga Diminta Sebaiknya Tak Suntik Booster, Kenapa?

Lifestyle - Lynda Hasibuan, CNBC Indonesia
07 October 2021 10:15
cdc as. (Dok: CGTN)

Jakarta, CNBC Indonesia - Penyuntikan vaksin dosis ketiga atau booster vaksin Covid-19 tidak bisa dilakukan sembarangan. Hal ini setidaknya ditegaskan Direktur Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) AS, Dr. Rochelle Walensky saat berbicara ke media AS pekan ini.

Ia mengatakan bahwa suntikan booster dosis ketiga adalah "situasi berjalan dan bukan keharusan". Meski begitu tidak dimungkiri, beberapa orang mungkin sudah melakukan lebih dulu sebelum mereka benar-benar memenuhi syarat mendapatkannya.


Ia mengatakan bisa saja suntikan booster menjadi boomerang. Tak baik" bagi diri sendiri tapi juga perjuangan negara melawan Covid-19.

Menurut CDC, di Amerika, sekitar 5,7 juta orang, atau sekitar 3% dari populasi yang divaksinasi penuh, telah menerima dosis ketiga vaksin Covid sejak awal Agustus. Badan tersebut secara resmi mengizinkan booster dosis ketiga Pfizer pada 24 September.

Namun ini hanya berlaku untuk orang dewasa 65 tahun ke atas, ditambah orang berusia 50-64 tahun dengan kondisi medis yang mendasarinya. Orang berusia 18 tahun ke atas bisa mendapat booster asal tinggal di panti jompo.

Adapun kategori orang yang lebih luas yang mungkin mendapatkan booster, menurut CDC, tergantung pada risiko dan manfaat masing-masing.Ini juga termasuk orang dewasa yang lebih muda berusia 18-49 tahun yang memiliki kondisi medis yang mendasarinya dan orang-orang berusia 18-64 tahun dengan pekerjaan yang meningkatkan risiko mereka terpapar Covid-19.

Lalu alasan apa yang membuat warga AS sebaiknya tidak di booster, jika tidak benar-benar perlu?

Mengutip CNBC International, seorang dokter penyakit menular AS Dr Anna Durbin menjelaskan kembali maksud Walensky. Ia mengatakan, sebenarnya seseorang sudah terlindungi dengan dua vaksin saja.

AS sendiri menggunakan vaksin jenis mrNA seperti Pfizer/BioNTech dan Moderna. Vaksin ke-2 Covid-19 masih terbukti memiliki keampuhan untuk menekan peluang keparahan terhadap semua varian virus.

Respons kekebalan memori tubuh, ujar dia, masih siap untuk membela jika seseorang menghadapi virus lagi. Jika mendapatkan vaksin mRNA dua dosis, maka booster tegasnya, tak dibutuhkan lagi.

"Tubuh Anda tidak dapat menghabiskan semua energinya untuk membuat antibodi tingkat tinggi untuk setiap virus yang pernah Anda lihat," kata Durbin.

"Suntikan booster memang meningkatkan kadar antibodi itu, tetapi Anda tidak membutuhkannya sekarang. Ini bisa digunakan untuk nanti," ujarnya lagi.

"Mengharapkan vaksin untuk mencegah semua gejala benar-benar tidak realistis. Yang ingin kami lakukan adalah mencegah kasus parah dan rawat inap, karena itu korban manusia. Itu korban ekonomi, dan itu korban infrastruktur kesehatan masyarakat."

Namun, menurutnya jika pasien hanya menerima satu suntikan vaksin Covid-19 Johnson & Johnson, maka mungkin saja booster diperlukan. Sayangnya ia tak menyebut jenis vaksin lain.

Kedua, jika seseorang yang tak memenuhi syarat mendapat booster, ini akan mempersulit kinerja CDC AS. Terutama untuk melacak secara akurat berapa banyak orang yang divaksinasi

Data itu penting sebab lembaga AS itu mengandalkan data untuk membuat rekomendasi dan panduan.J ika agensi berpikir lebih banyak orang yang divaksinasi daripada yang sebenarnya, itu dapat melonggarkan pembatasan yang dapat menyebabkan infeksi Covid-19 melonjak dan varian baru muncul.

Warga pun diminta menunggu sampai benar-benar memenuhi syarat untuk mendapatkan vaksin booster. Harapannya ke depan booster mungkin lebih maju dan ditargetkan untuk varian tertentu yang muncul tak terduga.

"Mungkin ada varian baru yang muncul, yang bisa masuk ke Amerika Serikat, dalam hal ini kami mungkin membutuhkan booster. Tapi hanya waktu yang akan memberitahu kita itu," kata Durbin.

Skenario yang paling mungkin, adalah jika varian baru muncul yang menghindari kekebalan yang diinduksi vaksin. Itu akan mengarah pada vaksinasi ulang dengan vaksin yang diformulasikan ulang.

Ini mirip dengan cara vaksin influenza berubah setiap tahun berdasarkan jenis yang beredar. Selama virus bersirkulasi pada populasi yang tidak divaksinasi, varian baru dapat muncul.

"Ini adalah alasan mengapa CDC lebih fokus untuk suntikan ke orang yang belum divaksinasi sama sekali," katanya lagi.


[Gambas:Video CNBC]

(sef/sef)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading