Duh Bunda, 7 dari 10 Anak RI Jarang Belajar Selama Pandemi

Lifestyle - Lynda Hasibuan, CNBC Indonesia
08 September 2021 08:36
Suasana belajar mengajar pembelajaran tatap muka di sekolah SDN 14 Pagi Pondok labu, Jakarta, Senin (30/8). Sekolah tatap muka resmi dilaksanakan kembali untuk 610 sekolah di DKI Jakarta. Daftar sekolah mencakup jenjang TK/PAUD-SMA dan lembaga pendidikan setingkat lain, termasuk informal. Tentunya PTM terbatas tahap I dilakukan dengan penerapan protokol kesehatan ketat. Staff guru pengajar Sekolah SDN 14 pagi pondok labu mengatakan,

Jakarta, CNBC Indonesia - Penelitian terbaru menunjukkan bagaimana dampak pandemi Covid-19 merambah dunia pendidikan. Mengutip penelitian Global Save The Children Indonesia, terungkap kalau tujuh dari 10 anak mengakui jarang belajar selama pandemi terjadi.

Penelitian ini dilakukan berbarengan dengan studi di 45 negara lainnya selama Juli 2020. Bukan hanya materi belajar yang terbatas, anak menjadi jarang belajar karena akses internet, fasilitas gawai hingga demotivasi karena sulitnya memahami pengajaran orang tua dan tidak mendapat bimbingan guru.


"Studi kami sangat jelas menggambarkan bahwa banyak anak-anak di Indonesia menghadapi kesulitan dalam belajar daring, motivasi belajar menjadi menurun dan ini bisa berpengaruh pada kemampuan literasi dan numerasi anak", kata CEO Save the Children Indonesia Selina Patta Sumbung, dalam pernyataannya Rabu (8/9/2021).

Karenanya, dikatakannya, penting bagi seluruh pihak mengantisipasi kesulitan belajar yang menjadikan anak-anak kehilangan kemampuan dan pengalaman belajar. Apalagi ini dikhawatirkan akan berdampak pada kurangnya keahlian anak di saat dewasa (less-skilled workers) untuk bisa berkompetisi di dunia kerja atau usaha, serta berakhir pada menurunnya kemampuan menghasilkan pendapatan (decreased earning capacity).

Salah satu contoh terjadi di Daerah Istimewa Yogyakarta. Dari survei yang dilakukan terdapat 44 dari 105 responden anak (42%) menyampaikan bahwa mereka tidak mendapatkan kuota gratis baik dari pemerintah maupun sekolah, yang menyebabkannya kesulitan belajar.

"Hasil survei kami menemukan bahwa anak-anak yang tidak mendapatkan kuota gratis ini salah satu alasannya karena tidak terdata padahal secara faktor ekonomi mereka sangat membutuhkan. Jadinya banyak anak yang merasa sedih, kecewa bahkan merasa ini tidak adil," kata Koordinator Child Campaigner Save the Children di Yogyakarta, Gya.

Hasil survei ini juga memotret upaya anak-anak yang tidak mendapat kuota internet tetapi tetap melakukan berbagai cara untuk dapat mengakses pembelajaran. Seperti misalnya menghemat penggunaan aplikasi pembelajaran, memanfaatkan fasilitasi wifi gratis bahkan mencari lokasi dengan akses signal yang kuat.


[Gambas:Video CNBC]

(sef/sef)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading