Ini Alasan Penyintas Wajib Tunggu 3 Bulan Sebelum Vaksinasi

Lifestyle - Syahrizal Sidik, CNBC Indonesia
22 August 2021 09:55
Raffi Ahmad menerima vaaksinasi Covid-19 Perdana di Indonesia, 13 Januari 2021. (tangkapan Layar Youtube Sekretariat Presiden)

Jakarta, CNBC Indonesia - Penyintas virus Corona diperbolehkan melakukan vaksinasi Covid-19 setelah dinyatakan sembuh minimal selama 3 bulan.

Advisory Committee on Immunization Practices (ACIP) menyebut, vaksinasi Covid-19 telah terbukti aman untuk diberikan kepada orang yang pernah terinfeksi Covid-19, baik yang bergejala maupun tanpa gejala. ACIP adalah komite di dalam Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC).

Menanggapi ini, praktisi kesehatan, dr Andi Khomeini Takdir, mengatakan pertimbangan jangka waktu 3 bulan agar memastikan penyintas Covid-19 bisa sembuh total, sehingga pemberian vaksin bila dilakukan dengan aman.


"Kedua, antibodi pasca seseorang terinfeksi itu bertahan sekitar 3 bulan. Bahkan ada antibodi yang sudah turun sebelum 3 bulan. Beberapa pasien saya antibodinya sudah turun 2-3 minggu setelah sembuh," kata dr Koko, Jumat (20/8/2021), seperti dilansir DetikHealth.

Adapun, bagi masyarakat yang tidak mengetahui pernah terinfeksi Covid-19, menurut Andi, pada prinsipnya, dari sisi ilmiah maupun keamanan, setiap orang direkomendasikan untuk tes melakukan tes Covid-19 sebelum vaksin.

Hal ini dilakukan guna mengetahui apakah orang tersebut sedang terinfeksi atau tidak. Sehingga vaksinasi dapat dilakukan dengan aman.

"Saya bagikan apa yang kami lakukan pada vaksinasi lain, misalnya hepatitis B. Sebelum vaksin hepatitis B, akan dilakukan screening apakah orang tersebut pernah terinfeksi atau sedang terinfeksi. Pada kasus corona, kalau ada yang ingin melakukan tes COVID-19 silakan," ungkapnya.

Tapi menurutnya, tes Covid-19 bagi penyintas yang akan vaksinasi tidak perlu dijadikan kewajiban.

"Takutnya dianggap membiniskan lagi. Selain itu, tidak semua orang sanggup memeriksakan diri, kecuali dari pemerintah yang melakukannya," tutur dr Koko.

Meski secara akademis dan sisi keamanan merekomendasikan untuk tes virus corona, namun situasi dan kondisi di lapangan juga harus tetap diperhatikan.

"Kembali lagi ke kondisi pasien dan bagaimana tim vaksinator melakukan screening pada tekanan darah sampai suhu badan. Hasilnya harus fit, jangan sampai lagi tidak fit tapi tetap divaksinasi," ungkapnya.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Ternyata Ini Badai Sitokin yang Serang Deddy Corbuzier!


(tas/tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading