Waspada, Ini Risiko Jika Terlalu Banyak Makan Ayam Goreng

Lifestyle - Lynda Hasibuan, CNBC Indonesia
19 May 2021 15:55
Ilustrasi Ayam Goreng (Photo by Yanuar Putut Widjanarko from Pexels)

Jakarta, CNBC Indonesia - Mengonsumsi ayam goreng telah menjadi favorit banyak orang. Tidak hanya memiliki sumber protein, harganya pun lebih terjangkau daripada daging sapi.

Saking enaknya ayam goreng kini telah banyak di restoran cepat saji dan restoran konvensional lainnya. Bahkan banyak pengusaha-pengusaha kecil yang juga ingin ikut membuat ayam goreng garing yang inovatif.




Meski demikian, para konsumen disarankan tidak boleh sering-sering makan ayam goreng. Itu karena ada banyak zat dan kandugan lain yang bisa membahayakan kesehatan.

Bisa dibilang, kandungan tersebut racun bagi tubuh. Dilansir dari Channel New Asia, beberapa kandungan pada makanan cepat saji bisa memicu kanker.

Membangkitkan selera

Makan ayam goreng adalah pengalaman indrawi. Ada bau yang memikat pelanggan sebelum mereka memasuki gerai, serta pemandangan dan suara orang lain yang menggigit adonan.

Namun tahukah Anda, ayam yang digoreng di restoran cepat saji menggunakan metode deep fried di mana ayam direndam dalam minyak panas dalam jumlah banyak. Proses inilah yang bikin ayam goreng sangat garing dan nikmat.

Tapi sayang, proses ini membuat ayam mengandung acrylamide atau senyawa racun yang merusak sistem pencernaan, daya tahan tubuh, dan tiroid.

Tidak hanya itu, ada lemak jenuh juga terdapat pada ayam goreng yang umumnya menimbulkan kolesterol tinggi, hipertensi, penyakit jantung, penurunan fungsi organ, gangguan pada ginjal hingga stroke.

Lebih sehat tapi mahal

Lantas apa yang ada di ayam goreng dari rantai makanan?

Ahli diet utama Raffles Medical Group, Bibi Chia mengatakan jika orang tidak dapat sepenuhnya meninggalkan ayam goreng, ada cara untuk membuatnya kurang sehat.

Mereka dapat menggunakan minyak yang mengandung lebih banyak lemak tak jenuh tunggal, seperti minyak zaitun ekstra ringan dan minyak kanola.

Suhu penggorengan juga harus diatur biasanya berkisar antara 160 dan 190 derajat Celcius, karena daging menyerap lebih banyak minyak pada suhu yang lebih rendah.

Konsumen juga harus memastikan bahwa suhu internal ayam mereka adalah 80 derajat Celcius, agar dagingnya matang dengan benar. Sementara itu, adonan yang lebih tipis akan menyerap lebih sedikit minyak.

Kendati demikian, metode seperti itu akan mendongkrak biaya lebih besar atau dua kali lipat dari harga makanan cepat saji.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Dijual Rp 86 Juta, 'The Golden Boy' Burger Termahal di Dunia


(sef/sef)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading