Lawan Junta, Perenang Myanmar Tolak Ikut Olimpiade Tokyo

Lifestyle - Thea Fathanah Arbar, CNBC Indonesia
30 April 2021 13:42
Win Htet Oo (Tangkapan Layar Instagram @oowinhtet)

Jakarta, CNBC Indonesia - Kudeta yang dilakukan junta militer Myanmar tidak hanya melumpuhkan ekonomi dan bisnis negara tetapi juga mimpi-mimpi banyak orang. Termasuk, atlet yang seharusnya dapat memiliki masa depan gemilang.

Seorang perenang Myanmar meninggalkan mimpinya untuk berkompetisi di Olimpiade Tokyo sebagai protes atas kudeta. Win Htet Oo (26), salah satu perenang terbaik Myanmar, mengatakan dia tidak lagi tertarik untuk pergi ke Tokyo pada awal April kemarin.


"Menerima MOC (Komite Olimpiade Myanmar) seperti yang dipimpin saat ini adalah mengakui legitimasi rezim pembunuh. Saya tidak akan berbaris dalam Parade Bangsa (upacara pembukaan) di bawah bendera yang berlumuran darah rakyat saya," tulisnya dalam sebuah pernyataan di Facebook.

Win Htet Oo mengatakan bahwa meninggalkan tim Olimpiade Myanmar adalah caranya bergabung melawan kudeta yang masih berlangsung hingga kini. Menurutnya para atlet juga bisa bergabung dalam gerakan melawan junta.

"Saya ingin menunjukkan kepada rakyat Myanmar bahwa para atlet dapat mengambil bagian dalam gerakan pembangkangan sipil," tegasnya kepada AFP.

"Bayangan saya berjalan di belakang bendera di Parade Bangsa dan tersenyum, berpura-pura semuanya baik-baik saja, terus terang membuat saya jijik," lanjutnya.

"Ini akan menjadi latihan propaganda, semacam cara untuk memberitahu dunia bahwa semuanya baik-baik saja di Myanmar."

Win Htet Oo meraih waktu seleksi Olimpiade gaya bebas 50 meter di Pesta Olahraga Asia Tenggara 2019. Ini menempatkannya dalam daftar atlet untuk berlomba di Tokyo.

Dia mengatakan telah menulis kepada Komite Olimpiade Internasional (IOC) pada Maret, mengutip kekerasan yang sedang berlangsung di Myanmar. Ia meminta untuk berkompetisi sebagai Atlet Olimpiade Independen.

Namun permintaannya ditolak. IOC pun mengatakan bahwa Win Htet Oo memang belum dipilih oleh tim Myanmar.

"Saya mencoba memberi tahu IOC dan orang-orang tahu bahwa MOC bukanlah komite Olimpiade yang sah dan mereka merusak nilai-nilai Olimpiade," katanya sambil mendesah frustasi.

Berenang di Olimpiade telah menjadi ambisi sejak kecil bagi Win Htet Oo, yang pindah ke Melbourne pada 2017 untuk mempercepat latihannya. Saat ini ia bekerja sebagai penjaga pantai di fasilitas olahraga tempat ia menyaksikan atlet Australia berlatih untuk Olimpiade, dan latihan di antara giliran kerja.

Win Htet Oo mengatakan dia "tidak menyesal" tentang meninggalkan Olimpiade. "Bagi saya, itu hanya impian satu orang untuk pergi ke Olimpiade, tetapi di Myanmar, jutaan anak muda telah menyaksikan impian dan aspirasi mereka telah hilang," katanya.

Myanmar kini berada dalam kekacauan sejak militer menggulingkan pemimpin sipil Aung San Suu Kyi dalam kudeta 1 Februari. Sebagian besar penduduknya turun ke jalan untuk menuntut kembalinya demokrasi.

Untuk memadamkan pemberontakan, pasukan keamanan telah menindak dengan kekerasan mematikan. Langkah itu menurut AAPP, lembaga pemantau tahanan politik, menewaskan lebih dari 750 warga sipil dalam kerusuhan anti kudeta.

Selain protes jalanan, gerakan pembangkangan sipil nasional telah membuat sebagian besar ekonomi negara terhenti. Pegawai negeri dan pekerja memboikot pekerjaan mereka karena menolak untuk mengabdi pada rezim militer.


[Gambas:Video CNBC]

(sef/sef)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading