Sadis! Inilah Bukti Kekejaman Junta ke Petugas Palang Merah

Lifestyle - Thea Fathanah Arbar, CNBC Indonesia
01 April 2021 18:30
Soldiers walk towards anti-coup protesters during a demonstration in Yangon, Myanmar on Tuesday March 30, 2021. Thailand’s Prime Minister Prayuth Chan-ocha denied Tuesday that his country’s security forces have sent villagers back to Myanmar who fled from military airstrikes and said his government is ready to shelter anyone who is escaping fighting. (AP Photo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Keadaan diĀ Myanmar kian mencekam. Tak hanya warga sipil yang menjadi incaran kekejaman junta militer, pekerja kesehatan juga terkena imbasnya.

Dilansir dari Reuters, Federasi Internasional Perhimpunan Palang Merah dan Bulan Sabit Merah (IFRC) melaporkan banyak petugas Palang Merah Myanmar yang ditangkap, diintimidasi dan terluka saat mencoba untuk merawat korban sipil.

"Petugas pertolongan pertama Palang Merah Myanmar dan petugas medis telah ditangkap, diintimidasi atau terluka dan properti Palang Merah serta ambulans telah dirusak. Ini tidak dapat diterima," kata Alexander Matheou, Direktur Regional Asia Pasifik IFRC pada, Kamis (1/4/2021).

"Tenaga kesehatan seharusnya tidak menjadi target. Mereka harus diberikan akses kemanusiaan yang tidak terbatas kepada orang-orang yang membutuhkan."

IRFC mengatakan sangat prihatin dengan krisis kemanusiaan yang berkembang dua bulan setelah junta militer merebut kekuasaan dengan kudeta.



Kini lebih dari 500 warga sipil telah dilaporkan terbunuh saat pasukan junta berusaha menekan protes harian. Sementara tim Palang Merah Myanmar telah merawat lebih dari 2.000 orang, dan mereka juga menjadi sasaran kekejaman militer.

Tetapi, Juru Bicara Palang Merah mengatakan menolak berkomentar lebih jauh soal identifikasi kelompok manapun yang bertanggung jawab atas serangan itu.

Video di media sosial menunjukkan anggota pasukan keamanan menyerang dan menyalahgunakan petugas medis dan setidaknya satu kali menembak ambulans.

Palang Merah memperingatkan krisis Myanmar menimbulkan ancaman kesehatan yang lebih luas dengan jatuhnya layanan dasar seperti transportasi dan perbankan yang dapat membuat sulit untuk mempertahankan program kemanusiaannya.

Kerusuhan juga mengancam upaya untuk menahan epidemi Covid-19, dengan pengujian, penelusuran, dan pengobatan yang semakin menurun tajam.

"Kita bisa menghadapi badai yang sempurna di Myanmar di mana gelombang infeksi COVID-19 lainnya bertabrakan dengan krisis kemanusiaan yang semakin parah yang menyebar ke seluruh negeri," tukas Matheou.



[Gambas:Video CNBC]

(miq/miq)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading