Cerita Dewa Kipas Bertanding dengan Grandmaster Catur

Lifestyle - Anisatul Umah, CNBC Indonesia
20 March 2021 16:50
Warga bermain catur raksasa di Pondok Betung, Tangerang Selatan, Banten, Indonesia, Selasa (19/5/2020). Hal itu guna mengisi kegiatan jelang berbuka puasa sekaligus berolahraga di tengah pandemi COVID-19. (CNBC Indonesia/ Andrean Kristianto)

Jakarta, CNBC Indonesia - Dadang alias Dewa Kipas akhir-akhir ini banyak diperbincangkan masyarakat. Dia dituding melakukan kecurangan saat mengalahkan pecatur asing bergelar International Master (IM) dalam sebuah duel catur di aplikasi catur daring Chess.com.

Levy Rozman yang menggunakan akun GothamChess dikalahkan Dewa Kipas. Buntut dari tuduhan kecurangan ini, akun Dewa Kipas diblokir.

Di dalam dunia percaturan, Dadang bukanlah sosok yang asing lagi. Dia pernah menjadi pengurus Persatuan Catur Seluruh Indonesia (Percasi) di Singkawang, Kalimantan Barat.


Sebagaimana dikutip dari CNN Indonesia, saat ditemui di kediamannya Dadang mengaku sudah belajar catur sejak kelas 2 SMP. Dimulai dengan belajar secara otodidak.

"Pertamanya otodidak terus ketemu teman dikasih buku teori. Beberapa buku saya pelajari. Dari situ mulai tertarik catur," kata Dadang saat ditemui di kediamannya di bilangan Otto Iskandar Dinata, Kota Bandung, Jumat (19/3/2021).

Dia mengaku sering bermain catur dengan orang-orang dewasa di sekitar rumahnya. Lawannya datang dari kalangan bapak-bapak.

Sebelum menetap di Singkawang, Dewa Kipas muda mengasah permainan catur di klub Ganesha ITB. Kemudian, ia pindah ke klub Wibawa Mukti asuhan Pemerintah Kota Bandung. Bahkan ia pernah menjadi pengurus di klub tersebut.

Dadang menceritakan pengalamannya bermain catur dengan Grandmaster terjadi saat ada pertandingan internal dan mengundang Grandmaster.

"Kalau ada pertandingan internal kan suka mengundang pemain Grandmaster, nah di situ biasanya saya ikut main saja," kenangnya.

Dadang mengenang sosok Master Internasional Herman Suradiradja, sosok juara nasional catur 1975 yang meraih norma Master Internasional 1976 itu adalah tetangganya.

"Saya juga pernah belajar dari Pak Herman Suryadiradja karena tetanggaan. Beliau kan pamannya Nia Dinata (cucu pahlawan Otto Iskandar Dinata). Pak Herman Idola saya juga, dia bisa lawan ratusan pemain catur secara simultan," ungkapnya.

Catur bagi Dadang Subur tak lebih dari sekadar hobi. Dewa Kipas juga tak pernah merasakan menjadi atlet. Apalagi turun resmi di turnamen internasional.

"Wah, saya mah pemain hiburan. Saya memang orang Percasi di Singkawang, pernah jadi bendahara. Saya hanya ikut lomba-lomba lokal tingkat kota," tuturnya.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

5 Kebiasaan Simpel yang Bisa Bikin Kamu Makin Cerdas!


(dob/dob)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading