Internasional

Benarkah Berjemur di Panas Matahari Bisa Cegah Corona?

Lifestyle - Thea Fathanah Arbar, CNBC Indonesia
26 June 2020 14:42
People enjoy sunbathing at a beach by the Baltic Sea in Travemuende, Germany, June 30, 2019. REUTERS/Fabian Bimmer     TPX IMAGES OF THE DAY

Jakarta, CNBC Indonesia - Musim panas adalah waktu terbaik untuk menikmati matahari dengan berjemur di pantai sambil menikmati buah tropis dan minuman dingin. Tak hanya itu, sinar matahari pada musim panas diklaim dapat membantu mengurangi risiko tertular virus corona (Covid-19).

Beberapa penelitian baru memperkuat hipotesis bahwa udara panas, kelembaban, sinar matahari yang berlimpah pada musim panas dapat menghambat, tetapi bukan menghentikan, penyebaran virus corona.



Hasil riset ilmuwan Jose-Luis Sagripanti dan Dave Lytle yang diterbitkan melalui Photochemistry and Photobiology pada 5 Juni lalu menyatakan bahwa sinar matahari, terutama radiasi matahari ultraviolet yang kuat, dapat membunuh virus dengan nama resmi SARS-CoV-2 ini dalam waktu kurang lebih 34 menit.

Dalam studi tersebut, para peneliti yang merupakan mantan angkatan darat Amerika Serikat dan anggota Food and Drug Administration (FDA) ini menganalisis seberapa baik sinar ultra violet (UV) matahari dapat menghancurkan virus di berbagai kota pada waktu yang berbeda dalam setahun.

Analisis menunjukkan bahwa 'sinar matahari tengah hari di sebagian besar AS dan kota-kota dunia selama musim panas' dapat membunuh 90% virus corona yang hidup di permukaan hanya dalam kurun waktu 30 menit.

Adapun pada bulan Desember hingga Maret, para peneliti menyimpulkan virus corona dapat hidup di permukaan hingga satu hari atau lebih.

Selanjutnya, hasil penelitian yang diterbitkan oleh JAMA Network Open pada 11 Juni lalu menyarankan bahwa iklim dengan suhu yang lebih hangat dan kelembaban yang lebih tinggi pada musim panas memiliki kemungkinan memperlambat penyebaran virus.

Anthony Amoroso, kepala Divisi Penyakit Menular di Fakultas Kedokteran Universitas Maryland, yang juga merupakan penulis pendamping penelitian ini mengatakan virus tidak dapat menular dengan baik di udara yang lebih hangat dan lebih lembab.

Dengan klaim tersebut, dapat dikatakan jika seseorang yang terjangkit virus ini batuk atau bersin di luar ruangan, maka virus yang tersebar sebagian besar tidak berbahaya dalam kurun waktu satu setengah jam, kata para peneliti sebagaimana dikutip oleh UPI.


Namun, para ahli penyakit menular memperingatkan bahwa aktivitas di luar ruangan saat musim panas bukan berarti virus tidak dapat menyebar dari orang ke orang, sebab tiap individu masih dapat menularkan virus melalui interaksi pribadi dalam kondisi apapun, baik di dalam atau di luar, dan di bawah sinar matahari atau hujan.

Masyarakat diminta untuk tetap menerapkan aturan jarak sosial, dan mengenakan masker wajah untuk melindungi diri dari paparan virus.

"Cuaca adalah faktor sekunder di sini," kata Mohammad Jalali, asisten profesor di Harvard Medical School yang meneliti bagaimana cuaca mempengaruhi penyebaran virus corona, sebagaimana dikutip oleh Washington Post.

Hingga kini juga belum ada informasi virus yang dapat menyebar dari kolam yang terklorinasi, selama para perenang atau pengunjung tetap mempertahankan aturan jarak sosial sejauh enam kaki, menurut pedoman baru dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit.

"Tidak ada bukti bahwa virus yang menyebabkan COVID-19 dapat menyebar ke orang-orang melalui air di kolam, kolam air panas, spa, atau area bermain air. Operasi dan pemeliharaan yang tepat (termasuk desinfeksi klorin dan bromin) dari fasilitas ini harus menonaktifkan virus di dalam air," kata juru bicara CDC Kate Grusich dalam email.

Sebaliknya, para peneliti sangat menyarankan masyarakat untuk tidak berlama-lama berada di dalam ruangan tertutup, seperti di restoran, bar dan gimnasium, sebab persentase terpapar virus lebih besar saat berada di dalam ruangan.

Sementara itu, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang menyebut sinar matahari tidak dapat mencegah atau menyembuhkan seseorang yang terjangkit virus corona. Menggunakan lampu UV untuk menghilangkan virus juga tidak disarankan oleh WHO, sebab dapat menyebabkan iritasi kulit.

"Memaparkan diri pada sinar matahari atau suhu yang lebih tinggi dari 25 derajat celcius tidak mencegah penyakit virus corona," ujar WHO. "Anda masih bisa terpapar Covid-19, tidak peduli seberapa cerah atau panas cuacanya. Negara-negara dengan cuaca panas telah melaporkan kasus Covid-19."

Saksikan video terkait di bawah ini:

Petenis Djokovic dan Istrinya Sembuh dari Covid-19


(sef/sef)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading