Internasional

Covid-19 Melemah? Tak Lagi 'Harimau' tapi 'Kucing Liar'

Lifestyle - Thea Fathanah Arbar, CNBC Indonesia
22 June 2020 08:10
A worker of the Calzaturificio M.G.T shoe factory in Castelnuovo Vomano, central Italy, has his temperature checked at the entrance of the factory upon his returns to work, Monday, May 4, 2020. Italy began stirring again Monday after a two-month coronavirus shutdown, with 4.4 million Italians able to return to work and restrictions on movement eased in the first European country to lock down in a bid to stem COVID-19 infections. (AP Photo/Domenico Stinellis)

Jakarta, CNBC Indonesia - Seorang dokter asal Italia mengklaim bahwa virus corona (Covid-19) telah melemah dan bahkan dapat mereda tanpa vaksin.

Ialah Profesor Matteo Bassetti, kepala klinik penyakit menular di rumah sakit Policlinico San Martino Italia, mengatakan kepada Telegraph bahwa belum lama ini ia melihat pasien lanjut usia yang pulih, padahal pasien tersebut didiagnosis dapat meninggal lebih awal dalam masa pandemi.


"Bahkan pasien berusia 80 atau 90 sekarang duduk di tempat tidur dan bernafas tanpa bantuan. Pasien yang sama akan meninggal dalam dua atau tiga hari sebelumnya," kata Bassetti, sebagaimana dikutip dari The Mirror, dikutip Senin (22/6/2020).

"Itu seperti harimau yang agresif di bulan Maret dan April, tetapi sekarang ini seperti kucing liar," tambahnya.

Bassetti mengatakan bahwa pada puncak pandemi Covid-19 di Italia pada Maret dan awal April, pasien mengalami penyakit yang "sangat sulit untuk dikelola".

Pasien yang paling menderita atas penyakit Covid-19 biasanya membutuhkan oksigen dan ventilasi. Jika parah, beberapa pasien dapat terkena pneumonia atau radang paru-paru.

Namun, Bassetti mengatakan bahwa dalam empat minggu terakhir hal tersebut "berubah total". Perubahan ini dapat disebabkan oleh virus yang bermutasi menjadi bentuk lebih lemah.

Teori lainnya, Bassetti percaya jika aturan jarak sosial dan penggunaan APD, seperti masker wajah dapat memberikan perlindungan yang baik kepada masyarakat, sehingga potensi terpapar virus lebih sedikit dibandingkan tidak menggunakannya.

"Mungkin itu bisa hilang sepenuhnya tanpa vaksin. Kami memiliki lebih sedikit dan lebih sedikit orang yang terinfeksi dan dapat berakhir dengan virus sekarat," ujarnya, menambahkan jika virus dapat mati sebelum vaksin tersedia.




Di sisi lain, Sekretaris Kesehatan Inggris Matt Hancock pada Kamis (18/6/2020) mengatakan bahwa perusahaan obat AstraZeneca sudah mulai memproduksi vaksin yang diproduksi oleh para ilmuwan dari Universitas Oxford.

Hancock mengatakan jika "mereka mulai memproduksi sekarang, bahkan sebelum persetujuan, sehingga kita dapat membangun cadangan dan siap jika disetujui secara klinis."

Vaksin lain yang diproduksi di Imperial College di London juga berada pada tahap pertama uji klinis. Hancock mengatakan pasien yang berusia di atas 50 tahun, pekerja garis depan, dan orang dengan penyakit jantung dan ginjal akan diprioritaskan jika vaksin sudah tersedia.

Hingga kini sudah ada lebih dari 9 juta kasus terjangkit Covid-19 di seluruh dunia, dengan 469 ribu kasus kematian, dan 4,7 juta pasien berhasil sembuh per Senin (22/6/2020), menurut data Worldometers.


Saksikan video terkait di bawah ini:

Petenis Djokovic dan Istrinya Sembuh dari Covid-19


(sef/sef)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading