Raksasa Minyak Shell Pangkas Belanja Modal Rp 82,5 T

Lifestyle - Thea Fathanah Arbar, CNBC Indonesia
23 March 2020 19:02
Terdampak turunnya harga minyak dunia dan corona, Shell memutuskan pangkas belanja modalnya US$ 5 miliar
Jakarta, CNBC Indonesia - Perusahaan minyak raksasa asal Belanda, Royal Dutch Shell mengumumkan rencana pemangkasan belanja mereka di tahun ini sebesar US$ 5 miliar atau sekitar Rp 82,5 triliun. Tidak cuma itu, perusahaan juga menunda buyback saham mereka senilai US$ 25 miliar.

Upaya ini dilakukan karena terus turunnya harga minyak dunia. Denagn pemangkasan ini, total belanja modal perusahaan kini menjadi US$ 20 miliar. Shell juga berencana memangkas belanja operasional mereka sebanyak US$ 3 miliar sampai US$ 4 miliar untuk 12 bulan ke depan.

Pemangkasan belanja modal ini ditujukan untuk menjaga kas perusahaan di US$ 8 miliar dan US$ 9 miiar, sebelum pajak.


Saham Shell sendiri turun 3,5% di awal perdagangan London, terhadap 3% untuk sektor energi lain di Eropa. Shell kemudian mengikuti langkah rival seperti Exxon Mobil, Chevron, BP, dan Total Prancis, yang semuanya mengumumkan rencana pengurangan tajam dalam pengeluaran.



Kepala Eksekutif Shell Ben van Beurden pada bulan Januari mengatakan bahwa perusahaan membutuhkan US$ 20 miliar dari pengeluaran modalnya untuk mempertahankan operasi pada tingkat produksi saat ini.

Selain itu dibutuhkan juga tambahan pengeluaran yang didedikasikan untuk mengembangkan bisnisnya, termasuk US$ 2 miliar hingga US$ 3 miliar untuk membangun daya bisnis energi karbon.

Semua segmen bisnis Shell sedang mengkaji pengeluaran untuk mencapai pemotongan yang ditargetkan, kata seorang juru bicara perusahaan, dikutip dari CNBC Internasional.

"Kombinasi permintaan minyak yang menurun tajam dan pasokan yang meningkat pesat mungkin unik, tetapi Shell telah melewati volatilitas pasar berkali-kali di masa lalu," kata van Beurden dalam sebuah pernyataan.

Bahkan sebelum wabah coronavirus, Shell menghadapi pendapatan yang lebih lemah karena melambatnya permintaan petrokimia, yang membuatnya memperlambat program buyback saham tiga tahun senilai US$ 25 miliar akhir tahun lalu.

Sebelumnya, harga minyak jatuh lebih dari 60% sejak Januari akibat pandemi corona dan perang harga antara produsen utama Arab Saudi dan Rusia setelah runtuh dari pakta pasokan antara Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan sekutunya.

[Gambas:Video CNBC]




(gus/gus)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading