Raksasa Farmasi Johnson & Johnson Uji Coba Vaksin HIV

Lifestyle - Yuni Astutik, CNBC Indonesia
13 July 2019 20:08
Raksasa Farmasi Johnson & Johnson Uji Coba Vaksin HIV Foto: REUTERS/Dadang Tri
Jakarta, CNBC Indonesia - Perusahaan farmasi Johnson & Johnson (J&J) akan melakukan uji coba vaksin HIV di Amerika Serikat (AS) dan Eropa tahun ini.

Vaksin J&J eksperimental adalah imunisasi preventif berbasis mosaik menargetkan berbagai macam virus HIV. Demikian dilansir dari CNBC, Sabtu (13/7/2019).

Sekitar 1,1 juta orang di AS dan dua juta orang di Eropa hidup dengan HIV, virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh dan membuat seseorang lebih mungkin jatuh sakit.


Jika HIV tidak diobati, itu bisa berubah menjadi AIDS, tahap akhir dari HIV di mana virus merusak sistem kekebalan tubuh. Orang dengan AIDS rata-rata hidup sekitar tiga tahun setelah diagnosis.



Perusahaan juga sedang melakukan uji klinis fase 2 untuk vaksin di Afrika, di mana 2.600 wanita di lima negara Afrika selatan akan diimunisasi. Hasil awal dari uji coba itu diharapkan akan rampung pada 2021.

Uji coba J&J dilakukan di tengah janji Presiden Donald Trump untuk mengakhiri epidemi HIV di Amerika Serikat pada tahun 2030, sebuah tujuan yang didukung oleh para pendukung kesehatan masyarakat selama bertahun-tahun.

Raksasa farmasi Gilead Sciences, yang mendominasi pasar obat HIV dengan nilai US$ 26 miliar atau sekitar Rp 363 triliun per tahun, mencapai kesepakatan dengan administrasi Trump untuk menyumbangkan obat-obatan yang mengurangi risiko penularan HIV hingga 200 ribu orang per tahun hingga 2025.



Pada akhir April, J&J dan GlaxoSmithKline yang mayoritas sahamnya dimiliki ViiV Healthcare mengajukan aplikasi obat baru dengan FDA untuk pengobatan injeksi sebulan sekali untuk HIV. Pada bulan Maret, kedua perusahaan mempublikasikan data tahap akhir yang menunjukkan suntikan sama efektifnya dengan pil harian standar untuk mengendalikan HIV. (hoi/hoi)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading