6 Fakta di Balik Kesuksesan Film Bohemian Rhapsody

Lifestyle - Irvin Avriano Arief, CNBC Indonesia
27 November 2018 19:10
6 Fakta di Balik Kesuksesan Film Bohemian Rhapsody
Jakarta, CNBC Indonesia - "I have visions of actually having a film made of my life story, one day, which I would have a key part in. I might not play the lead myself. My dears, the things I've done in my lifetime...it'll be totally triple X-rated, I'll tell you!" ramal Freddie Mercury dalam buku Freddie Mercury: His Life in His Own Words. 

Rating, yang juga dipengaruhi oleh tingkat seksualitas film yang mempengaruhi kelas penonton yang dapat menonton sebuah film, ternyata yang menjadikan aktor nyentrik Sasha Baron Cohen tertarik.  




Meskipun akhirnya bukan Cohen yang menjadi bintang, Film Bohemian Rhapsody masih sukses memperpanjang nafasnya di bioskop-bioskop Jakarta.  

Tak terasa, sejak naik layar pada 31 Oktober, saat ini hampir genap sebulan film tersebut tayang di bioskop dengan menyajikan film biografi (biopic) tentang bintang nyentrik yang akan dikenang sepanjang masa, Freddie Mercury. 

Film yang akhirnya diperankam Rami Malek sebagai bintang utama tersebut, dibuka dengan perjalanan menaiki Rolls Royce suatu pagi menuju panggung Live Aid 1985 di Stadion Wembley, Inggris.

6 Fakta di Balik Kesuksesan Film Bohemian RhapsodyFoto: Instalasi seni dalam perayaan film "Bohemian Rhapsody", di London, Inggris 21 Oktober 2018. REUTERS / Henry Nicholls


Film biografi (biopic) ini memang fokus pada biografi Mercury, sosok sentral dalam band Queen.
 



Padahal, dua band-mate Mercury yaitu gitaris Brian May dan drummer Roger Taylor yang masih hidup dan segar turut menjadi produser film garapan Bryan Singer tersebut, sehingga dominannya Freddie dalam film ini merupakan kelegaan hati terbesar dari rekan band-nya.  

Atau karena tidak ada hal yang menarik dari Queen di luar Mercury? Sehingga judul film ini lebih cocok diganti menjadi Freddie Rhapsody? 

Untuk pemeran utama, Rami Malek memang nama yang masih asing di dalam negeri.  

Beruntung bagi pelanggan tv kabel sekaligus penggemar serial luar negeri yang mungkin sudah lebih dulu akrab melalui seri Mr. Robot, atau jika jeli dapat melihat aktingnya melalui trilogi Night at the Museum di mana Malek selalu menjadi Raja Mesir, Ahkmenrah.  

Namun, tak banyak yang mengetahui bahwa ada beberapa fakta dalam film yang kurang sesuai dengan realitas dan sejarahnya.  

Berikut beberapa di antaranya:

1. Di layar film: masuknya Freddy Mercury (Fred Bulsara, Farrokh Bulsara) ke band kelas kafe 'Smile' berlangsung instan dan cenderung 'too good to be truth'.

Di film, ditunjukkan Mercury menggaet minat anggota Smile dengan cara mempertontonkan sebait lagu andalan band itu melalui sela-sela gigi tonggosnya. 

Saat itu, Brian May (diperankan Gwilym Lee)-Roger Taylor (oleh Ben Hardy) sedang patah arang seketika setelah vokalis-basisnya yaitu Tim Staffel cabut dan bergabung dengan band bernama Humpy Bong. 

Smile juga dinyatakan band pertama Freddy, setelah minat besar musik Mercury terpendam jauh di dasar hati sepanjang dia berprofesi sebagai anak bagasi di Bandara Heathrow. 

Dunia nyata: Freddy bukan hanya fans Smile. Dia merupakan teman Staffel di kampus Ealing Art College dan kemudian kenal baik dengan anggota band yang lain.  

Lambat laun, Staffel yang vokalis merangkap pemain gitar bas (basis) mengajak Freddie manggung dan sempat menjadi vokalis kedua. 

Setelah Staffel keluar dari Smile, Freddie bersemangat untuk meneruskan formasi awal dan mengubah nama band menjadi Queen, hingga akhirnya nantinya menggaet John Deacon sebagai basis tetap.  

Pada periode yang sama dengan lahirnya Queen, Freddie mengganti dan mempopulerkan nama belakangnya yang baru yaitu Mercury. 

Karir Freddy di musik juga tidak memuncrat seketika melalui masuknya ke Smile.

Dia sudah sempat menyalurkan minat seninya itu melalui dua band.
 Sebut saja band asal Kota Liverpool yaitu Ibex yang nantinya berganti nama menjadi Wreckage, dan Sour Milk Sea. Keduanya tidak lama aktif dan bubar jalan.


2.
Di layar film: Bersama dengan manajernya, Jim "Miami" Beach, John Reid, Paul Prenter, Queen bertemu seorang petinggi EMI, Ray Foster.

Ray yang tidak setuju Bohemian Rhapsody, dua kata ampuh yang dijadikan judul lagu yang akhirnya menjadi judul film ini, dijadikan single karena terlalu aneh dan terlalu panjang. Panjang lagu selama 6 menit itu dinilai tidak cocok diputar di radio, media pemutar musik utama saat itu.  

Pertikaian terjadi. Queen kompak, bahkan terlalu kompak, memperjuangkan Boh-Rhap hingga Ray dan Queen setuju untuk tidak setuju.

Ray bahkan sempat menyebut, "Marked these words. No one will play Queen!"
 

Dunia nyata: Ray Foster, yang dibawakan sangat antagonis dan berkarakter oleh Mike Myers, adalah karakter fiktif.  

Kemungkinan, karakter tersebut terinsipirasi oleh banyak pihak yang pernah menyangsikan dan menolak Queen serta Boh-Rhap.

3.
Di layar film: Mercury adalah biang keladi pecahnya/vakumnya Queen demi mengerjakan proyek solo.

Mercury disebut tergiur dengan uang US$ 4 juta dari Studio CBS untuk berkarir solo.

 
Otomatis, penderita hyperdontia (kelainan gigi yang lebih banyak, dalam hal ini di bagian depan) tersebut menyudahi hubungannya dengan tiga teman band-nya dan pindah ke Munich untuk rekaman.  

Dunia nyata: Roger Taylor merupakan anggota Queen pertama yang meluncurkan solo albumnya pada 1981 dengan judul Fun in Space. 

Pada 1983, Taylor menerbitkan album solo kedua bernama Strange Frontier. Brian May menelurkan mini-album bernama Star Fleet Project dengan berkolaborasi dengan Eddie Van Halen. 

Freddie sebetulnya sudah mencoba bersolo karier sejak 1972 dengan nama samaran Larry Lurex, bahkan berproyek bersama May dan Taylor.  

Pada 1982 Mercury berkolaborasi dengan Morgan Fisher dan sejak 1985 ke depannya Mercury berkolaborasi dengan Mike Moran dan Spike Edney dalam proyek-proyek solonya. 

Dua album Mercury di luar Queen adalah Mr. Bad Guy (1985) serta album dengan soprano Montserrat Caballé yang diberi judul Barcelona (1988) yang tak lepas dari pujian.

4.
Di layar film: Selepas vakum dan pecah dari Queen, Mercury ke Munich ditemani teman gay-nya sekaligus asisten pribadi bernama Paul Prenter.

Dia digambarkan beberapa kali menggelar pesta orgy lintas seksual yang tak lepas dari bau miras dan pengaruh narkoba.

 
Seksualitas Freddie terungkap sebelumnya ketika Queen melakukan rekaman di pedesaan, di mana Prenter merayu si tonggos tetapi ditolak. 

Ketika mengadakan tur ke AS, Mercury menelpon satu-satunya wanita dalam hidupnya yaitu Mary Austin (diperankan dengan baik oleh si cantik Lucy Boynton) untuk melepas kangen, tetapi di saat yang sama sorot matanya jatuh pada seorang supir truk laki-laki gagah yang melewati ruang kaca telepon umum dengan melirik penuh nafsu.  

Freddie akhirnya jatuh pada pelukan Prenter (dan seorang laki-laki lain yang tidak dikenal) ketika tur yang melelahkan disambung dengan bangun pagi dengan hanya memakai seprei dengan penuh keanehan dan kekecewaan Freddie terhadap aksi Prenter yang membawa orang asing ke kamarnya. 

Prenter disebut sebagai penganggu rumah tangga Queen, bahkan mengisolasi Mercury dari rekan-rekan Queen, serta sebagai satu-satunya pengaruh buruk yang menyelewengkan seksualitas Mercury menjadi gay. 

Mercury akhirnya mengaku kepada Austin bahwa dirinya biseksual, yang langsung dibantah Mary bahwa Freddie memang layaknya gay, bukan hanya biseksual. 

Dunia nyata: Prenter memang mengacaukan Mercury dan mengacak-acak Queen. Namun, seksualitas Mercury sudah dipertanyakan di dalam dirinya sejak lama.  

Dan ketika di film hanya digambarkan dengan adegan seprei ketika bangun di pagi hari, putus dari Mary, dan lingkungan bar serta orgy, sehingga kurang mendalami asal dan perkembangan seksualitas yang turut mempengaruhi kreativitasnya. 

Keunikan, keanehan, atau lebih tepatnya queerness dari Mercury adalah cikal bakal dari segalanya, termasuk Queen.  

Kejeniusan musik dan meriahnya hidup Freddie yang lahir di Zanzibar (sekarang Tanzania) tidak datang dari renungan di depan koper-koper di Heathrow saja, atau hanya dari musik band Ibex atau Sour Milk Sea saja.  

Namun, suara tinggi yang dijualnya serta kepribadiannya itu berasal dari seluruh kesulitan, kepenatan, kegundahan, kepataharangannya pada keluarga, pekerjaan, pertemanannya, musiknya, semangatnya, nafsunya, kesendiriannya, dan tentunya seksualitasnya lah yang membuatnya unik.  

Dan hal itu tidak dibahas bahkan ada yang menganggap terlalu homofobia.  

Belum lagi keterlibatan dan pengaruh tokoh-tokoh terhadap queerness Freddie, seperti Elvis Presley, Jimi Hendrix, Eltohn John, David Bowie, Michael Jackson, Rod Stewart, dan bahkan Lady Diana Spencer (yes, that Lady Di) yang bahkan beberapa kali diculik untuk merasakan kehidupan malam London.  

Freddie bahkan memiliki panggilan mesra bagi seluruh anggota Queen dan orang-orang dekat mereka.

Freddie memiliki panggilan 'Melina', Brian May 'Maggie', dan Roger Taylor sebagai 'Liz'.
 John Deacon tidak diberi nama banci karena dianggap Freddie terlalu maskulin.

Kawan mereka yaitu Elton John dipanggil 'Sharon', Rod Stewart 'Phyllis', dan Mary Austin dipanggil 'Steve' (dari nama Steve Austin, The Six Million Dollar Man).

5.
Di layar film: Freddie dikatakan mengumumkan kondisinya sudah terjangkit HIV saat berlatih dengan anggota Queen lainnya menuju Live Aid 1985.

Manggung di Live Aid menjadi aksi panggung perdana Queen dan yang menjadi klimaks setelah kembali bersatunya band pascavakum.

 
Freddie harus mengemis kepada sang manajer Jim "Miami" Beach untuk minta maaf dan mendaftarkan mereka untuk tampil dalam Live Aid di Stadion Wembley.  

Sebelum manggung, Mercury juga bertemu dengan cinta sepanjang masanya kembali yaitu Mary Austin berikut pasangannya serta berkonsolidasi kembali dengan keluarganya asal India yang berdarah Persia sekaligus penganut zoroastrianisme. 

Dunia nyata: Mercury digosipkan pers sudah terjangkit HIV baru pada 1986, dan 1987 penyanyi bersuara empat oktaf itu merayakan ultah ke-41-nya di Ibiza dengan menyadari dirinya sudah terkena virus antibodi tersebut selama beberapa bulan lamanya.  

Yang pasti, keduanya terjadi setelah Live Aid 1985. Manggung di Wembley tersebut juga bukanlah kali pertama Queen main bersama kembali.  

Setelah sepanjang 1983 memutuskan vakum tur dan sibuk berkarier solo, band meluncurkan album studio ke-11 mereka pada Februari 1984 bernama The Works dengan lagu andalan Radio Ga Ga dan I Want to Break Free.  

Tur The Works tersebut sempat berlangsung di Afrika Selatan. Pada Januari 1985, Queen menjadi bintang dalam festival rock berjudul Rock in Rio di Rio de Janeiro, Brasil.

Pada April dan Mei 1985, Queen merampungkan tur The Works dengan tampil di Australia dan Japan.
 

Barulah pada Live Aid 13 Juli 1985, Queen manggung di depan penonton TV terbanyak yang mencapai 1,9 miliar pasang mata.

6.
Di layar film: Mary Austin adalah satu-satunya kekasih wanita Mercury.

Pertemuan pertama terjadi sebelum Smile bubar, di mana Freddie memberanikan diri memuji jaket si wanita.


Dari mulai pembentukan Queen, rekaman, tur, dan kehancuran band tersebut, Austin tetap menjadi satu-satunya love of my life-nya Freddie.

Dia dibelikan rumah yang berdekatan dengan rumah Freddie.
 Namun, rekan hidup sejati Mercury hingga dia menutup mata adalah Jim Hutton.

Dia bertemu ketika menjadi pelayan katering ketika ada pesta, dan Hutton meminta Freddie memastikan dirinya dulu jika benar ingin berdua bersama.
 

Keduanya bertemu kembali ketika Mercury kepo-in Hutton dari buku telepon, menghadap keluarga berdua, dan menjadi pendamping hidup hingga akhir hayat Freddie pada 1991. 

Dunia nyata: Austin memang love of my life-nya Freddie. Si perempuan memang benar dibelikan rumah, mewarisi royalti lagu dan rumah, dianggap istri, bahkan menggenggam rahasia terbesar kematin Freddie, yaitu menyimpan abu si empat oktaf. 

Namun, Mary bukan satu-satunya teman tidur serta teman mesra Freddie.

Tercatat ada Rosemary Pearson (1969-1970) ketika Freddie kuliah di Ealing Technical College. Homoseksualitas Mercury tampaknya memicu perpecahan keduanya.
 

Pada pertengahan 1970, Freddie juga memiliki hubungan dengan seorang laki-laki Amerika, yang bekerja sebagai salah satu eksekutif di Elektra Records. 

Kemudian Freddie bertemu Mary Austin yang tadinya adalah kekasih Brian May. Setelah keduanya putus dan Mercury menjadi ujung tombak Queen, barulah Freddie masuk ke dalam orbit Austin yang memang bekerja di Biba pada pertengahan 1970.  

Freddie juga pernah bermesraan dengan laki-laki bernama Joseph Fannelli (1981) dalam waktu singkat, yang diketahui merupakan chef-nya di rumah.  

Wanita lain adalah Barbara Valentin pada pertengahan 1980-an. Aktris film soft-porn tersebut bahkan pernah masuk ke dalam video musik Freddie, It's a Hard Life. 

Rekan tidur terakhir Freddie adalah Jim Hutton (1986-1991), penata rambut asal Irlandia yang bekerja di Hotel Savoy.

Keduanya benar masih bersama hingga kematian Freddie pada 1991. Ketika di meninggal, Mercury mengenakan gelang pernihakan yang diberikan Hutton.   
***

Secara keseluruhan, film ini mampu mentransfer khalayak umum menjadi penggila dan fans Queen serta Mercury dalam 2 jam 14 menit durasi.
 

Selain dari skenario yang pasti memiliki perbedaan dengan aslinya, ada dua faktor lain yang seharusnya dapat menjadi nilai tambah dari akting luar biasa Rami Malek dan skenario yang alurnya sangat halus, atau terlalu halus ini. 

Pertama, alur cerita yang terlewat halus.

Layaknya film ala ala Hollywood lain di mana menganut formula klasik yang dimulai dengan fase perkenalan, usaha, sukses, godaan, jatuh, lalu pembalasan serta akhir yang bahagia.

Bahkan film ini justru menunjukkan kecenderungan pilihan sebagai homoseks baik-baik saja asal berhasil sukses, tidak menunjukkan Freddie akhirnya meninggal dengan HIV dalam darahnya, serta tidak cukup mendalam dalam membahas queerness
Mercury serta pilihan hidup yang cabangnya ribuan, bukan dua jalan berwarna hitam putih semata.

Kedua, penggambaran Rami Malek yang super duper mirip Mercury ketika bernyanyi masih kuraaaang sedikit lagi, yaitu postur tubuh yang kurang besar dan bidang sehingga Rami kelihatan seperti minatur, meskipun faktanya ukuran body keduanya 177 cm-75 kg, dan 170 cm-70 kg, tidak terlalu jauh. 

Untuk karakter, pilihan pertama pada Sasha Baron Cohen juga seharusnya lebih tepat lagi.

Apalagi jalur panjang dengan film urakan Borat: Cultural Learnings of America for Make Benefit Glorious Nation of Kazakhstan, Ali G, dan Bruno, seharusnya merupakan formula sukses dengan diduetkan bersama sutradara Bryan Singer yang biseksual. 

Singer lebih dulu dikenal dengan kesuksesannya dengan film The Usual Suspects, X-Men, X2, Valkyrie, dan Jack the Giant Slayer. 

Sayangnya, Cohen memiliki alasan utama terkait tingkat seksualitas penonton yang ditandai dengan rating.  

Rating yang diharapkan anggota Queen yang masih hidup adalah PG, atau parental guide, yang berarti 0-13 tahun dengan pengawasan orang tua, sedangkan Cohen berharap ratingnya adalah R yang berarti film dewasa dengan penonton hanya untuk 17 tahun ke atas, seperti halnya ekspektasi Mercury. 

Nama Ben Whishaw sempat muncul sepeninggal Cohen.

Whishaw sempat menjadi tokoh utama film Perfume: The Story of a Murderer dan terkenal sebagai pemeran Q dalam Spectre dan Skyfall yang merupakan bagian dari saga James Bond.
 

Meskipun ditinggal Singer, sutradara baru Dexter Fletcher akhirnya sukses menyelesaikan sepertiga pengambilan gambar film tersebut hingga rampung pada Januari 2018. 

Boynton, yang menjadi Mary Austin meskipun perawakannya kurang mirip, ternyata juga mampu melakoni perannya dengan baik sehingga mampu mengajak penonton memaknai peran sebagai groupies sekaligus kekasih Mercury.  

Nama Lucy Boynton memang hanya dapat bersaing dengan Bryce Dallas Howard (The Help, Spiderman 3, Jurassic World) yang memiliki pengalaman panjang di depan kamera. 

Ada juga beberapa nama lain sempat dipertimbangkan menjalani peran itu seperti violis Lindsey Stirling, Maria Bello (Coyote Ugly, History of Violence), dan aktris baru Ashley Johnson. 

Tentunya setelah versi Queen yang soft ini sukses, diharapkan real version dengan rating XXX dari biopic Freddy Mercury dapat diluncurkan untuk memberikan gambaran yang lebih menyeluruh terhadap tokoh musik rock sepanjang masa yang kisahnya tak akan mati tersebut. 

"I am immortal, I have inside me blood of kings," Princess of the Universe-Queen.
 

TIM RISET CNBC INDONESIA
(irv/gus)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading