Hari Perempuan Internasional

Para Perempuan, Ini Posisi Wanita dalam Ekonomi Indonesia

Lifestyle - Raditya Hanung Prakoswa, CNBC Indonesia
09 March 2018 18:36
Para Perempuan, Ini Posisi Wanita dalam Ekonomi Indonesia
Jakarta, CNBC Indonesia- Pada 8 Maret ini dunia merayakan Hari Perempuan Internasional. Sejak tahun 1977, peringatan tersebut diresmikan sebagai perayaan tahunan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk memperjuangkan hak perempuan dan perdamaian dunia.

Dalam menyambut hari istimewa bagi perempuan tersebut, Presiden Joko Widodo juga secara khusus mengucapkan "Hari Perempuan Internasional" kepada seluruh perempuan Indonesia, saat berpidato di acara penyerahan bantuan sosial di GOR Tri Dharma Gresik, Jawa Timur, Kamis (8/3/2018).

Kepala Negara turut berpesan bahwa saatnya perempuan makin aktif berkarya dan bisa mendapatkan hak-haknya untuk kehidupan yang semakin berkeadilan.


Tim riset CNBC Indonesia juga ikut merayakan datangnya Hari Perempuan Internasional, dengan memaparkan pembangunan perempuan dalam perspektif perekonomian di Indonesia. Berikut ulasannya.

Gap Upah antara Laki-Laki dan Perempuan Semakin Melebar

Salah satu komponen pembangunan manusia adalah standar hidup layak yang direpresentasikan dalam pendapatan. Mengutip data Badan Pusat Statistik (BPS), Pada Agustus 2017 rata-rata upah bersih pekerja perempuan tercatat sebesar Rp 2,3 juta/bulan.

Jumlah tersebut meningkat 5,02% dari Agustus 2016 sebesar Rp 2,19 juta/bulan.

Para Perempuan, Ini Posisi Wanita dalam Ekonomi Indonesia


Namun, gap pendapatan antara pekerja laki-laki dan perempuan nampak makin melebar di Agustus 2017, yakni mencapai Rp 690.000/bulan. Gap pendapatan memang sempat menipis pada Agustus 2015 (Rp 370.000/bulan), namun kemudian menanjak secara konsisten dua tahun setelahnya.

Hal ini kemungkinan besar dipengaruhi oleh porsi tenaga kerja wanita yang bekerja di sektor produktif masih sedikit dibandingkan dengan laki-laki.

Berdasarkan data tenaga kerja BPS Agustus 2017, sektor dengan rata-rata upah/gaji bersih per bulan terbesar di antaranya adalah Pertambangan (Rp 4,4 juta/bulan), Listrik, gas, dan air (Rp 3,92 juta/bulan), dan Jasa Keuangan (Rp 3,87 juta/bulan). Sayangnya pada ketiga sektor, itu jumlah tenaga kerja perempuan masih relatif rendah, dibandingkan tenaga kerja laki-laki.

Para Perempuan, Ini Posisi Wanita dalam Ekonomi Indonesia





Jumlah tenaga kerja perempuan di sektor pertambangan per Agustus 2017 tercatat sebanyak 115.063 orang (vs laki-laki 1,28 juta orang), untuk sektor listrik, air, dan gas sebanyak 46.449 orang (vs laki-laki 347,42 ribu orang), dan untuk sektor jasa keuangan sebesar 1.091.838 orang (vs laki-laki 2,66 juta orang).

Di sisi lain, perempuan masih lebih banyak menyumbang tenaga kerja di sektor-sektor yang memiliki upah rata-rata bulanan yang relatif rendah, seperti Perdagangan, restoran, dan hotel (Rp 2,26 juta/bulan), dan Pertanian (Rp 1,77 juta/bulan).

Segregasi inilah yang membuat gap rata-rata upah per bulan laki-laki masih secara konsisten lebih unggul dari perempuan.

Pembangunan Perempuan Masih Lebih Lambat dari Laki-Laki

Melansir hasil kajian pada buku Pembangunan Manusia Berbasis Gender 2017 (dipublikasikan oleh BPS dan Kementerian Pemberdayaan Perempuan, dan Perlindungan Anak), pembangunan perempuan masih konsisten lebih rendah daripada laki-laki. Berdasarkan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) yang dibagi per jenis kelamin, IPM laki-laki sudah termasuk kategori "tinggi" dengan nilai di atas 70, sedangkan perempuan masih pada level "sedang", dalam 7 tahun terakhir.

Sebagai informasi, IPM menjelaskan bagaimana penduduk dapat mengakses hasil pembangunan dalam memperoleh pendapatan, kesehatan, pendidikan, dan sebagainya. IPM dibentuk oleh 3 dimensi dasar, yaitu umur panjang dan hidup sehat, pengetahuan, dan standar hidup layak. Oleh karena itu, beberapa indikator yang digunakan antara lain Angka Harapan Lama Sekolah (HLS), Produk Nasional Bruto (PNB) per kapita, Rata-Rata Lama Sekolah (RLS), dan Angka Harapan Hidup (AHH).

Para Perempuan, Ini Posisi Wanita dalam Ekonomi Indonesia




Mengutip data BPS, IPM Perempuan terus mencatatkan pertumbuhan positif selama 7 tahun terakhir. Hanya saja pada tahun 2016, pertumbuhan IPM Perempuan tercatat masih lebih rendah daripada IPM laki-laki, dimana IPM Perempuan tumbuh 0,69% dan IPM laki-laki tumbuh 0,92%.

Padahal, pada tahun 2015, IPM Perempuan dapat tumbuh hingga 1,07% , sementara IPM laki-laki hanya tumbuh 0,31%.

Para Perempuan, Ini Posisi Wanita dalam Ekonomi Indonesia



Sumber: BPS diolah oleh Tim Riset CNBC Indonesia

BPS menyatakan bahwa pertumbuhan IPM perempuan yang lambat pada tahun 2016, merupakan akibat dari komponen IPM Perempuan yang pertumbuhannya tidak secepat tahun-tahun sebelumnya. Hanya komponen RLS yang pertumbuhannya lebih baik, sementara tiga komponen lainnya (AHH, HLS, dan Pengeluaran) mengalami perlambatan dibandingkan tahun 2015.
Tiga komponen tersebut juga tercatat lebih lambat daripada pertumbuhan laki-laki.

Bagaimana dibandingkan dengan Negara Lain?

Untuk melihat capaian pembangunan manusia yang terpilah gender, United Nations Development Programme (UNDP) memperkenalkan sebuah ukuran yaitu Indeks Pembangunan Gender (IPG). IPG diformulasikan sebagai rasio antara IPM Perempuan dan IPM Laki-laki. Semakin dekat angka IPG ke 100, maka semakin kecil kesenjangan pembangunan laki-laki dan perempuan.

Namun, nilai IPG di bawah 100, masih menunjukkan adanya kesenjangan antara capaian pembangunan manusia antara laki-laki dan perempuan. Berdasarkan Human Development Report 2016, secara global IPG mencapai angka 93,8 pada 2015. Hal ini mengindikasikan pembangunan perempuan lebih cepat dari laki-laki.

IPG tertinggi di dunia diraih oleh Lithuania sebesar 103,2, yang berarti kualitas pembangunan perempuan di Lithuania lebih baik dibandingkan laki-laki.

Capaian ini tidak terlepas dari peran pemerintah Lithuania dalam menegakkan aturan-aturan yang bertujuan memberantas diskriminasi gender dalam segala bidang pada Konstitusi Republik Lithuania. Sementara itu, posisi IPG terendah ditempati oleh Afghanistan sebesar 60,9.
Para Perempuan, Ini Posisi Wanita dalam Ekonomi Indonesia


Sumber: UNDP, diolah oleh Tim Riset CNBC Indonesia

Pada level ASEAN, Vietnam memimpin pada posisi IPG tertinggi sebesar 101,0 pada tahun 2015. Indonesia duduk di posisi ke-6 dengan IPG sebesar 92,6 masih di bawah Singapura, Brunei Darussalam, Filipina, dan Thailand (Tidak ada data dari Malaysia). Nilai Indonesia bahkan masih di bawa nilai rata-rata global yang sebesar 93,8. **
(gus/gus)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading