IHSG di Bawah Bayang-bayang Rilis Pertumbuhan Ekonomi

Investment - Aulia Mutiara Hatia Putri, CNBC Indonesia
07 November 2022 09:24
Karyawan melintas di samping layar elektronik yang menunjukkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Selasa (11/10/2022). (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto) Foto: Karyawan melintas di samping layar elektronik yang menunjukkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Selasa (11/10/2022). (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto)

Jakarta, CNBC Indonesia - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka stagnan di posisi 7.045,53 pada perdagangan pagi ini, Senin (7/11/2022), di tengah penantian pelaku pasar terkait rilis data produk domestik bruto (PDB) Indonesia.

Selang 3 menit setelah perdagangan dibuka, IHSG terpantau masih menguat tipis 0,08% ke 7.051,35. Pukul 09:05 WIB indeks terpantau sudah berbalik arah ke zona merah dengan koreksi 0,1% ke 7.038,16.

Sementara itu, bursa saham Amerika Serikat (AS) pada perdagangan akhir pekan lalu berhasil menguat. Indeks Dow Jones Industrial Average naik 401,97 poin, atau 1,26%, menjadi 32.403,22. Indeks S&P 500 naik 50,66 poin, atau 1,36%, menjadi 3.770,55 dan Indeks Nasdaq Composite bertambah 132,31 poin, atau 1,28%, menjadi 10.475,25.

Dalam sepekan kemarin, Indeks Dow turun 1,39%, S&P turun 3,34% dan Nasdaq turun 5,65% untuk persentase penurunan mingguan terbesar sejak Januari. Wall Street menguat karena laporan pengangguran yang membuat ekspektasi para pelaku pasar bahwa The Fed akan emlonggarkan kenaikan suku bunga acuan.

Pendapatan rata-rata per jam pun naik lebih dari ekspektasi para pelaku pasar. Data pasar tenaga kerja menjadi fokus utama para pelaku pasar karena The Fed mengatakan sedang mencari 'pendingin' untuk mempertimbangkan jeda dalam menaikkan suku bunga.

Sebenarnya pelaku pasar telah mengantisipasi adanya kenaikan suku bunga acuan sebesar 75 basis poin (bps) dalam pertemuan bulan November 2022. Namun Ketua Fed Jerome Powell mengatakan masih "prematur" untuk membahas jeda kenaikan suku bunga dan bahwa suku bunga terminal kemungkinan akan lebih tinggi dari yang dinyatakan sebelumnya.

Pasar saham Tanah Air memang masih belum terbebas dari berbagai sentimen global seperti data inflasi Amerika Serikat dan pertumbuhan ekonomi Indonesia. Badan Pusat Statistik (BPS) akan mengumumkan data produk domestik bruto (PDB) Indonesia hari ini, Senin (7/11/2022), pada pukul 11.00 WIB. Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal III-2022 Diramal akan mencapai 5,60% (year on year/yoy), lebih tinggi dibandingkan kuartal II-2022 yang mencapai 5,44%.

Adapun, konsensus pasar yang dihimpun CNBC Indonesia dari 14 institusi juga memperkirakan pertumbuhan ekonomi mencapai 1,66% dibandingkan kuartal sebelumnya (quarter to quarter/qtq).
Sementara itu, Bank Indonesia (BI) optimistis pertumbuhan ekonomi kuartal III-2022 tumbuh lebih dari 5,5%.

"Kami masih optimistis pertumbuhan ekonomi lebih tinggi dari 5,5% yoy. Berbagai indikator menunjukkan perkembangan yang positif," kata Perry.

Ketahanan ini tercermin dari indikator indeks penjualan riil (IPR), indeks keyakinan konsumen (IKK), pertumbuhan kredit dan pembentukan modal tetap bruto (PMTB) atau investasi.

Merujuk data Bank Indonesia, indeks penjualan riil tumbuh (yoy) sebesar 6,2% pada Juli, 4,9% pada Agustus, dan 5,5% pada September. Sebaliknya, pada periode Juli-September 2021 tercatat negatif.
Pertumbuhan ekonomi Indonesia dapat menjadi sentimen positif bagi laju IHSG di awal pekan hari ini.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Buruan Jadi Investor, Ini Daftar Saham yang Perlu Dicermati


(aum/dhf)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
LAINNYA DI DETIKNETWORK
    spinner loading
Features
    spinner loading