InvesTime

Cuan Terus, Awas Faktor Ini Bisa Bikin Batu Bara Anjlok

Investment - Thea Fathanah Arbar, CNBC Indonesia
06 October 2021 16:02
Pekerja melakukan bongkar muat batu bara di Terminal Tanjung Priok, Jakarta, Selasa (23/2/2021). Pemerintah telah mengeluarkan peraturan turunan dari Undang-Undang No. 11 tahun 2020 tentang Cipta Kerja. Adapun salah satunya Peraturan Pemerintah yang diterbitkan yaitu Peraturan Pemerintah No.25 tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Bidang Energi dan Sumber Daya Mineral.  (CNBC Indonesia/ Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Beberapa negara di dunia kini tengah mengalami krisis energi. Kelangkaan pasokan energi pun memicu naiknya harga energi termasuk gas, minyak, dan batu bara.

Kejadian itu memicu padamnya listrik, serta sulitnya mendapatkan bahan bakar minyak (BBM) di sejumlah negara termasuk di China dan Eropa.

Permintaan gas alam melonjak setelah negara-negara di seluruh dunia, yang sebelumnya berkomitmen untuk mengurangi emisi karbon, tak mampu menyediakan energi yang cukup dari upaya mereka fokus pada energi terbarukan di tengah tingginya demand.


Imbasnya, terjadi kekurangan pasokan, sehingga batu bara dan energi fosil lainnya kembali diburu, harga pun melesat.

Namun Dimas W Pratama, analis NH Korindo Sekuritas, melihat dalam jangka panjang sentimen tren kebutuhan akan green energy dalam hal energi terbarukan akan menjadi batu sandungan bagi kenaikan harga batu bara dan kawan-kawannya dalam waktu panjang.

"Terkait rencana green energy ke depannya pasti akan mengalihkan permintaan dari batu bara ke energi terbarukan. Tapi kalau kita lihat proyeknya masih lama karena infrastruktur harus dibangun terlebih dahulu sebelum terjadinya peralihan masa," katanya dalam program Investime CNBC Indonesia, Selasa (6/10/2021).

Menurut Dimas, perlambatan ekonomi akibat pandemi Covid-19 juga dipastikan akan menahan kembali, sekaligus menurunkan permintaan akan green energy ini.

Selain itu, satu sentimen yang bisa menurunkan harga batu bara yakni kelebihan pasokan.

"Pasokan dari produsen sendiri memang gencar untuk melakukan ekspor, kalau terjadi oversupply nantinya bisa menurunkan harga baru bara," katanya.

Sebelumnya Uni Eropa telah menargetkan untuk menjadi netral karbon pada tahun 2050 dan mengurangi emisi gas rumah kaca sebesar 55% pada tahun 2030, dibandingkan dengan tingkat tahun 2005.

Namun rendahnya produksi listrik dari pembangkit listrik dengan tenaga turbin angin di Eropa memperburuk krisis energi. Cuaca yang tenang menjadi alasan mengapa keluaran turbin angin menjadi rendah.

Adapun harga batu bara naik lagi. Perburuan terhadap si batu hitam membuat harga melambung tinggi. Kemarin, harga batu bara di pasar ICE Newcastle (Australia) ditutup di US$ 280/ton, melonjak 12,45% dibandingkan hari sebelumnya sekaligus jadi yang tertinggi setidaknya sejak 2008.


[Gambas:Video CNBC]

(tas/tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading