InvesTime

Efek Merger Indosat-Tri, kok Saham Emiten Telco Masih Merah?

Investment - Anisatul Umah, CNBC Indonesia
21 September 2021 11:30
ISAT dan TRI/detik

Jakarta, CNBC Indonesia - PT Indosat Tbk (ISAT) milik Ooredoo Qatar, dan PT Hutchison 3 Indonesia, punya Hutchison Group asal Hong Kong telah menyampaikan rencana mergernya.

Hanya saja pengumuman merger sejak 16 September lalu ini tak membuat saham ISAT, dan emiten telekomunikasi lainnya yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) melonjak harganya di tengah upaya konsolidasi emiten telco ini.

Data BEI mencatat, pada perdagangan Jumat (17/9), saham ISAT ditutup minus 3,16% di Rp 6.900, dan berlanjut penurunan saham di Senin kemarin (20/9) -1,45% di Rp 6.800/saham. Pada Selasa pagi, saham ISAT naik 1,47% di Rp 6.900/saham.


Adapun saham PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) juga minus pada perdagangan Senin kemarin -0,28% dan Selasa ini -0,57% di Rp 3.500/saham.

Sementara itu, saham PT XL Axiata Tbk (EXCL) masih merah pada Senin -0,67% di Rp 2.980/saham dan Selasa pagi ini stagnan 0,00%.

Apa yang menyebabkan saham emiten telco masih merah?

Menjawab hal ini, Steven Gunawan, Analis PT Henan Putihrai Sekuritas mengatakan setelah pengumuman merger dan pasar saham dibuka, saham ISAT sempat naik 8% dalam kurun waktu satu jam saja.

"Kalau ditarik sedikit saja, informasi pada hari Kamis malam Ooredoo dan Hutchison di Hong Kong umumkan, berarti tercermin pada perdagangan Jumat pagi. Harga saham langsung naik 8% sejam perdagangan dibuka," paparnya dalam InvesTime CNBC Indonesia, Senin malam, (20/09/2021).

Dia menjelaskan kenaikan harga saham ini disebabkan karena adanya sentimen positif, juga mendapatkan angin segar pascaadanya pengumuman merger.

"Mendapatkan sentimen positif, mendapatkan angin segar," lanjutnya.

Namun kenaikan saham tidak berlangsung lama. Setelah dilakukan analisa pada prospektus bisnis, setelah informasi rencana merger keluar diketahui Hutchison masih membukukan kerugian bersih di akhir tahun 2020 lalu.

"Dan itu mungkin menjadi sentimen negatif bagi pelaku pasar," jelasnya.

Sementara itu dari sisi kinerja semester I tahun 2021 PT Indosat Tbk (ISAT) membukukan laba bersih sebesar Rp 5,6 triliun. Laba ini berasal dari pendapatan yang diakui dari penjualan menara anak usaha perusahaan menara di Singapura.

"Jadi jika pendapatan non operasional dikeluarkan maka masih membukukan kerugian bersih, jadi pas Jumat hari pertama pengumuman kan sudah minus. Seiring perusahaan global juga merah," lanjutnya.

Lebih lanjut dia mengatakan manfaat dari merger ini adalah akan tercipta efisiensi dan biaya operasional. Tapi baru akan diraih pada 2-3 tahun ke depan.

"Berkaca dari kasus XL [PT XL Axiata Tbk] dan Axis pada tahun 2014 lalu. Tercermin pada kinerja operasional XL pada 5 tahun, tahun 2019 karena butuh penyatuan spektrum frekuensi," jelasnya.

Menurutnya jika merger Indosat dan Tri berjalan mulus, maka nantinya masih akan butuh persetujuan dari pemerintah yakni Kemenkominfo. Karena akan ditinjau ulang penataan frekuensinya atau ketercukupan kemampuan suplai pita frekuensi.

"Apakah ada yang perlu dikembalikan ke pemerintah gak, kalau lancar masih perlu konsolidasi efisiensi. Akan terasa di tahun 2023, secara pendapatan topline terasa karena gabungan saja. Indosat Rp 30 triliun ya Tri Rp 15 triliun tinggal gabung jadi Rp 45 triliun."


[Gambas:Video CNBC]

(tas/tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading