InvesTime

Harga Batu Bara Masih On Fire, Awas Tahun Depan Bisa Drop!

Investment - Yuni Astuti, CNBC Indonesia
07 September 2021 17:30
Pekerja melakukan bongkar muat batu bara di Terminal Tanjung Priok, Jakarta, Selasa (23/2/2021). Pemerintah telah mengeluarkan peraturan turunan dari Undang-Undang No. 11 tahun 2020 tentang Cipta Kerja. Adapun salah satunya Peraturan Pemerintah yang diterbitkan yaitu Peraturan Pemerintah No.25 tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Bidang Energi dan Sumber Daya Mineral.  (CNBC Indonesia/ Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Analis mengungkapkan sejumlah alasan kenapa batu bara dunia terus mengalami kenaikan harga yang sangat signifikan kini menembus di atas US$ 170 per ton.

Kepala Riset Praus Capital Management, Alfred Nainggolan mengatakan, permasalahan utama batu bara adalah keterlambatan produksi tak sebanding dengan permintaan dunia.

"Permintaan global memang sempat di kuartal 1. Ekonomi China turun signifikan berlanjut ke kuartal kedua dan kuartal ketiga mulai mengalami kenaikan demand cukup signifikan," ujarnya dalam program InvesTime CNBC Indonesia di Jakarta, Selasa (7/9/2021).


Adanya keterlambatan produksi ini ditambah dengan produsen batu bara yang tak mampu mengejar pasokan membuat harganya naik. Apalagi menurut dia produsen batu bara tidak memperkirakan permintaan global yang mengalami kenaikan signifikan.

"Artinya, ini akan sensitif terhadap produsen batu bara. Tahun 2022 kemungkinan akan mengalami kenaikan suplai [over supply] dan memberikan pengaruh cukup banyak terhadap penurunan batu bara," tegasnya.

Dia menambahkan, peran China masih cukup signifikan terkait kenaikan harga batu bara ini. Baik itu dari sisi produksi hingga dari sisi konsumsi. Saat pandemi, sempat ada tren penurunan permintaan produksi.

"Ada covid-19, pandemi belum teratasi, terjadi permintaan sehingga impor cukup tinggi," katanya.

"Ini membuat permintaan keseluruhan karena kontribusi China juga mempengaruhi harga. Kemudian ada hubungan yang kurang baik antara China dan Australia," imbuhnya.

Melihat ke belakang tepatya pada tepatnya pada Juni 2007, harga batu bara berada di level US$ 60 per ton. Setahun kemudian pada Juli 2008 naik 200% ke level US$ 180 per ton. Namun, 6 bulan kemudian harganya kembali turun hingga level US$ 60-70 per ton.

"Ini akan terulang kembali. Naik cepat, turun cepet. Bukan hanya historis, ini kita optimis 2022 awal kemungkinan produksi bisa menyesuaikan, batu bara naiknya signifikan. Penurunan tahun depan bukan faktor iklim tapi penyesuaian dari sisi produksinya," pungkasnya.

Batu bara memang menjadi salah satu komoditas yang bersinar tahun ini. Dalam sebulan terakhir, harga batu bara melesat 4,12%. Sementara sejak akhir 2020 (year-to-date), kenaikannya mencapai 14,1%.

Data Refinitiv mencatat, akhir pekan lalu, harga batu bara menyentuh US$ 178,75/ton. Ini adalah rekor tertinggi, setidaknya sejak 2008.

Adapun pada perdagangan Senin kemarin (6/9/2021) di pasar ICE Newcastle (Australia) tercatat harga di level US$ 178,35/ton turun tipis 0,22% dibandingkan posisi akhir pekan lalu.


[Gambas:Video CNBC]

(tas/tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading