InvesTime

Stock Split 1:5, Benarkah Saham BCA jadi Lebih Menarik?

Investment - Lidya Julita Sembiring, CNBC Indonesia
05 August 2021 10:50
FILE PHOTO: Logo of Bank Central Asia Tbk (BCA) seen at BCA branch office in Jakarta, Indonesia, July 12, 2016. REUTERS/Beawiharta

Jakarta, CNBC Indonesia - Sejak pekan lalu, pasar saham dihebohkan oleh rencana pemecahan nilai nominal saham (stock split) oleh PT Bank Central Asia Tbk (BBCA). Rencananya, BBCA akan melakukan stock split dengan rasio 1:5.

Dengan stock split ini maka saham BBCA dipecah dari 1 saham menjadi 5 saham. Jadinya, investor terutama ritel yang ingin memiliki saham BBCA tidak perlu mengeluarkan dana yang relatif besar dan karena harga menjadi lebih murah. 

"Ini menarik dan sekarang jadi kesempatan bagi investor ritel domestik yang sebelumnya ingin memiliki saham BBCA tapi melihat harga mahal. Karena harganya yang misalnya Rp 30 ribu per lembar dan untuk membeli 1 lot harus merogoh kocek Rp 3 juta, sekarang kalau stock split harganya menjadi Rp 6 ribu dan 1 lota menjadi Rp 600 ribu saja. Ini tentu menarik," ujar Head of Research PT Henan Putihrai Sekuritas, Robertus Yanuar Hadi dalam InvesTime CNBC Indonesia, Kamis (5/8/2021).


Namun ia menekankan, bahwa langkah stock split korporasi belum tentu berhasil. Sebab, ada juga beberapa korporasi yang gagal melakukan stock split karena setelah itu harganya stagnan dan cenderung turun.

Oleh karenanya, ada beberapa hal yang penting untuk dipertimbangkan investor sebelum membeli saham stock split. Pertama dan yang paling penting adalah valuasi dari perusahaan tersebut.

Setelah melihat valuasi, ada baiknya juga melakukan perbandingan dengan emiten lainnya yang memiliki jenis yang sama, sehingga investor memiliki pilihan untuk menentukan saham yang paling menjanjikan.

"Diharapkan investor sebelum mengambil keputusan beli apa nggak bisa lihat perbandingan dengan emiten lain yang sejenis misalnya BMRI sekarang sekitar 1,4 kali price to book value nya, BNI, BTN dan bank niaga bisa lebih rendah lagi, bisa dibawah 1 kali price to book value dan tentu kedepannya kita melihat rasio price to book value 1 kali atau 2 kali itu bisa berpotensi ya mendekati 3 kali, atau 4 kali, ya kenapa nggak kita bisa pilih itu aja," jelasnya.

Faktor kedua yang harus dipertimbangkan investor sebelum membeli saham stock split adalah fundamental perusahaan. Sebagai contoh BBCA, pada paruh awal 2021 tetap berhasil membukukan laba double digit, ini perlu dilihat apakah bisa melanjutkan kinerja ini atau tidak.

"Nah itu tentu harus menjadi dominan yang ada di benak para investor sebelum memutuskan berinvestasi di saham apakah yang mau stock split atau tidak atau mau right issue atau private placement. Tentu itulah faktor fundamental dan valuasi terutama dibandingkan dengan lainnya, ini yang harus jadi perhatian utama bagi calon investor nantinya," tegasnya.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Berburu Saham Receh, Simak Cara Serok Biar Cuan Besar


(hps/hps)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading