InvesTime

PPKM Darurat, Hindari Trading Saham di Sektor-sektor ini!

Investment - Emir Yanwardhana, CNBC Indonesia
07 July 2021 11:20
Suasana Mal sepi saat PPKM Darurat. (CNBC Indonesia/Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Kondisi pasar modal sedang dipenuhi 'kegalauan', sehingga pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hanya naik tipis-tipis saja kendati masih tangguh di level psikologis 6.000.

Menurut analis, hal ini disebabkan adanya sentimen negatif salah satunya penerapan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat pada 3 - 20 Juli mendatang di Jawa-Bali demi menahan lonjakan angka Covid-19 di Indonesia.

Di tengah kondisi ini, analis PT MNC Sekuritas Aqil Triyadi menilai dari sisi perdagangan atau trading harian, saham emiten big cap tidak bergerak agresif. Hal ini berbeda dengan saham small cap yang masih bisa membuat investor cuan dengan pertumbuhan harga yang signifikan.


Dalam literatur dan menjadi informasi umum, saham big cap adalah emiten dengan kapitalisasi pasar (market capitalization) di atas Rp 100 triliun, sementara mid-cap stocks atau second-liner biasanya memiliki kapitalisasi pasar antara Rp 500 miliar - Rp 10 triliun, dan ada pula yang mematok di bawah Rp 100 triliun.

Adapun saham lapis ketiga atau junk stocks alias small-cap stocks biasanya kapitalisasinya berada di bawah angka Rp 500 miliar.

Aqil Triyadi menjelaskan di tengah IHSG yang membentuk pola sideways alias menyamping, investor harus berhati-hati dalam memilih sektor untuk perdagangan. Hal ini karena adanya penerapan PPKM Darurat tentu berpengaruh ke beberapa kinerja emiten yang terdampak.

"Investor harus menghindari emiten yang terdampak atas pemberlakuan PPKM Darurat, yang imbasnya ke kinerja keuangan emiten tersebut. Kita masih belum tahu kapan Covid-19 bisa dikendalikan dan kapan PPKM Darurat ini akan diperpanjang atau tidak," katanya, dalam Investime CNBC Indonesia, dikutip Rabu ini (7/7).

Dalam aturan PPKM Darurat ini pusat belanja ditutup dan tidak bisa beroperasi. Walaupun sudah banyak emiten ritel dan properti yang mengalihkan penjualan dengan online tapi tidak terlalu besar dampaknya, belum bisa menggantikan jualan offline.

"Makanya yang harus dihindari seperti sektor properti PWON, RALS, CTRA, memang banyak di sektor properti," jelasnya.

Saham-saham yang dimaksud di antaranya PT Pakuwon Jati Tbk (PWON), PT Ramayana Lestari Sentosa Tbk (RALS), dan PT Ciputra Development Tbk (CTRA).

Aqil juga melihat pergerakan pasar juga cenderung masih sideways, karena selain sentimen PPKM Darurat, saat ini investor juga masih menunggu kepastian dari The Fed, bank sentral AS, mengenai aksi tapering atau kebijakan pengurangan pembelian aset.


[Gambas:Video CNBC]

(tas/tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading