InvesTime

Jangan Ketipu! Ini Bedanya Saham Gorengan dan Multibagger

Investment - Anisatul Umah, CNBC Indonesia
10 June 2021 12:05
Kompetisi jual beli saham Oppo Stocks in Your Hand di Bursa Efek Indonesia, Senin (18/2/2019). kompetisi jual beli saham Oppo Stocks in Your Hand (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto)

Jakarta, CNBC Indonesia - Saham multibagger dinilai bisa menjadi opsi untuk dibeli oleh investor pasar modal. Harga sahamnya yang masih di bawah nilai wajar dan fundamental yang kuat berpotensi besar bakal memberikan keuntungan bagi investornya.

Saham multibagger secara definisi literatur pasar modal saham yang harganya undervalue (di bawah harga wajarnya) namun memiliki fundamental perusahaan yang kuat sehingga berpotensi memberikan keuntungan di atas 1.000% atau berkali-kali lipat.

Fendi Susiyanto, CEO PT Elkoranvidi Indonesia Investama, mengatakan dalam menentukan saham multibagger investor harus berhati-hati, salah-salah malah investor bisa 'terjebak' membeli saham gorengan.


Lalu bagaimana cara bedakan saham multibagger dan saham gorengan?

Saham 'gorengan' adalah saham dengan fluktuasi pergerakan harga saham sangat tinggi, tapi tak punya fundamental sehingga sangat berisiko.

Menurut Fendi, saham multibagger memiliki fundamental yang kuat, dibeli di bawah harga wajar dan investasinya cukup lama 1,2, sampai 3 tahun baru bisa merasakan kenaikan dampak dari performa saham.

"Harus punya kekuatan fundamental dan valuasi undervalue dan ada potensi growth, namun bukan berarti saham yang naiknya keceng sekali bukan. Punya fundamental kuat," paparnya dalam acara InvesTime CNBC Indonesia, Rabu malam, (09/06/2021).

Saat ini menurutnya banyak terjadi saham yang tidak didukung oleh fundamental yang kuat, namun dalam waktu singkat naik tinggi. Kondisi objektif ini yang menjadi pembeda antara saham multibagger dan saham gorengan.

"Kita bisa bedakan seperti itu, saham multibagger dan gorengan adalah bagaimana fundamentalnya. Saham gorengan naiknya kenceng berkali-kali lipat gak didukung fundamental," jelasnya.

Dia menjelaskan, misalnya dari rasio harga terhadap laba atau Price to Earning Ratio (PER) naik sangat tinggi di atas kewajaran, bahkan bisa minus sampai 1.000 kali. 

Dia menilai kenaikan PER ini tidak wajar karena rata-rata PER emiten adalah 12-18 kali. Sementara itu, rasio harga terhadap nilai buku atau Price to Book Value (PBV) saham bisa naik menjadi 7-10 kali, namun jika PBV emiten di atas 20 kali itu dinilai tidak wajar.

"Identifikasi sebagai saham gorengan, kalau multibagger naik tapi didukung fundamental strong juga. Dan undervalue. Hati-hati buat trader, prospek di fundamental bagus gak," tuturnya mengingatkan.

Lebih lanjut dia mengatakan, selama fundamentalnya masih kuat dan di bawah harga wajar, saham tersebut masih menarik. Namun harus hati-hati juga karena saham gorengan juga sama-sama naik.

"Kalau gak didukung fundamental dan kemahalan arahnya 90% akan koreksi dalam, jadi karena gak di support fundamental memadai akan kembali rasional," ucapnya. 


[Gambas:Video CNBC]

(tas/tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading