Kriptomologi

Terungkap! Kripto Justru Anti-Bubble, tapi Rentan Risiko Ini

Investment - Arif Gunawan, CNBC Indonesia
27 May 2021 09:05
Ethereum

Jakarta, CNBC Indonesia - Mata uang kripto kian disorot setelah berlomba menyentuh rekor harga tertinggi baru, meski peringatan seputar risiko gelembung (bubble) mengemuka. Di luar risiko bubble, ada risiko yang lebih besar bagi aset kripto, yakni bank sentral.

Volatilitas menjadi karakteristik aset kripto. Bitcoin, mata uang kripto terpopuler, membuat banyak orang tercengang setelah menyentuh rekor tertingginya di kisaran US$ 64.000/keping pada 14 April lalu, nilai itu setara Rp 915 juta (kurs Rp 14.300/US$). Namun kini harganya telah anjlok sekitar 40% ke level US$ 38.000-an.

Hal serupa juga dialami mata uang kripto terpopuler kedua, yakni Ethereum, yang harganya kini terkoreksi di kisaran US$ 2.750-an per keping, atau nyaris 40% dari harga tertinggi yang diraihnya pada 11 Mei sebesar US$ 4.384/keping.


qSumber: Refinitiv

Koreksi terjadi setelah pendiri Ethereum, yakni Vitalik Buterin-seorang programmer berusia 27 tahun-menyinggung risiko terbentuknya gelembung (bubble) di mata uang kripto, meski tidak diketahui pasti kapan ia akan meletus.

"Mungkin sudah usai.. mungkin akan usai berbulan-bulan setelah ini. Kita telah memiliki setidaknya tiga bubble besar di mata uang kripto dan seringkali penyebab terhentinya bubble itu adalah adanya beberapa kejadian," tuturnya kepada CNN Business pada Kamis (20/5/2021).

Dia tidak mengelaborasi kapan saja tiga peluang bubble itu muncul-tetapi batal-dan kejadian apa yang membuat bubble tersebut tidak jadi pecah. Namun umumnya, bubble terbentuk ketika harga sebuah aset naik drastis secara cepat, hingga melewati nilai fundamentalnya.

Reli yang terjadi tanpa basis fundamental tersebut pada ujungnya menjadi kenaikan harga yang mengawang-awang, di mana aksi jual-beli terjadi karena pembeli serakah yang masuk hanya karena takut ketinggalan kereta (fear of missing out/FOMO).

Dalam titik ini, yang berlaku adalah Teori Si Pandir Lebih Bodoh, atau Greater Fool Theory, di mana kenaikan harga aset, yang melampaui valuasi dan nilai fundamentalnya, terus terjadi dan berlanjut semata-mata karena pembeli yang masuk belakangan tak tahu kondisi fundamental sebenarnya dari aset tersebut.

H. Minsky dalam buku berjudul Stabilizing An Unstable Economy (1986) menyebutkan ada lima fase pembentukan bubble di pasar: kemunculan di permukaan (displacement), boom (ledakan permintaan), eforia, aksi ambil untung (profit taking), dan kepanikan (panic selling).

Jika mengikuti pola tersebut, maka Bitcoin dan Ethereum sudah terbilang memasuki eforia, yang kemudian diikuti aksi ambil untung-seperti yang telah dilakukan Tesla (Elon Musk) dengan-cuan US$ 272 juta baru-baru ini. Namun, aksi jual karena kepanikan tidak pernah, atau tepatnya belum pernah, terjadi.

NEXT: Kelemahan yang Jadi Kelebihan

Kelemahan yang Jadi Kelebihan
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2 3
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading