InvesTime

Terungkap! Ini Tipikal Saham Favorit Investor Ritel di Bursa

Investment - Lynda Hasibuan, CNBC Indonesia
19 March 2021 13:38
Aksi panggung Kla Project di Gedung Bursa Efek Indonesia,  Jakarta, Rabu (28/272018). Aksi panggung Kla Project sekaligus menutup IHSG pada perdagangan akhir februari yang melemah 0,03% ke 6.597,22 poin.

Jakarta, CNBC Indonesia - Di tengah kian derasnya arus modal investor asing keluar dari Indonesia, investor ritel domestik tetap maju dan memburu saham-saham di pasar modal.

Data BEI mencatat dalam sepekan terakhir hingga penutupan sesi I Jumat ini (19/3), asing keluar Rp 355 miliar di pasar negosiasi dan tunai, sementara di pasar reguler ada net buy asing Rp 234 miliar.

Dalam 6 bulan terakhir asing keluar Rp 12,38 triliun di semua pasar. Sementara sejak awal tahun hingga Jumat ini, asing masih masuk Rp 10,20 triliun di semua pasar.


Investor asing juga mampu mengimbangi tekanan jual sehingga gerak Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih menguat  5,74% sejak awal tahun hingga penutupan sesi I.

Head Of Equity Trading MNC Sekuritas Medan, Frankie WP mengungkapkan bahwa jenis saham yang termasuk kategori blue chip adalah saham pilihan yang jadi isi portfolio utama investor ritel di bursa.

Para investor ritel saat ini banyak membeli saham blue chip, di mana itu merupakan jenis saham dari perusahaan-perusahaan dengan kinerja terbaik, fundamental oke, dan punya potensi pasar baik. Selain itu saham-saham tersebut juga rekam jejak pergerakan harga saham yang konsisten dalam rentang waktu panjang.

"Kalau menurut saya, sebagai investor itu lebih bagus membeli sesuatu yang diinginkan oleh orang lain. Jadi sekarang orang pengennya beli di momentum stocks, let it be."

"Maksud saya, akan jauh lebih bijak beli sektor blue chips. Karena, kalau once [suatu saat jika] institusi mulai masuk, kan kita udah punya Omnibus Law, kita sudah punya infrastruktur yang lebih bagus, let say dibandingkan 4 tahun lalu," kata Frankie WP dalam Investime, CNBC Indonesia Senin malam (15/03/2021)/

Dia juga menuturkan bahwa saham blue chip paling sulit atau kecil untuk digoreng oleh 'bandar' karena kapitalisasi saham ini sangat besar dan sangat likuid.

Berdasarkan pengalaman dan situasi yang ada, Frankie menyebut bahwa saham blue chip juga banyak diincar karena biasanya sudah beroperasi beberapa generasi, sehingga reputasinya juga melegenda.

"Kita punya infrastruktur, Omnibus Law dengan tujuan supaya institusi masuk."

"Dalam bentuk FDI [Foreign Direct Investment]. Tapi kita percaya, ketika FDI masuk, portfolio investment-nya juga akan masuk. Ketika portfolio investment-nya masuk, yang akan diincar oleh global itu apa, most likely it will be blue chip, karena blue chip itu yang paling bisa close to Indonesia market. Jadi kalau ditanya apakah mau chip in, saya merupakan bagian dari 60-an% itu tadi," ungkap dia.

Sebagai informasi, mengutip MNC Sekuritas, saham blue chip atau saham lapis satu merupakan jenis saham yang memiliki kapitalisasi pasar yang besar, mencapai di atas Rp 10 triliun.

Istilah blue chip awalnya berasal dari permainan poker. Dalam permainan poker, keping koin (chip) berwarna biru memiliki nilai tertinggi dibandingkan warna merah dan putih. Istilah blue chip dipakai dan dikenal secara luas di dunia saham setelah diperkenalkan oleh Oliver Gingold, pegawai di Dow Jones tahun 1923.


[Gambas:Video CNBC]

(tas/tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading