Pegang Emas Antam dari Awal Tahun, Cuannya Rp 141.000/gram

Investment - Haryanto, CNBC Indonesia
12 May 2020 13:03
Emas Antam (CNBC Indonesia/ Tri Susilo) Foto: Emas Antam (CNBC Indonesia/ Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga emas logam mulia acuan yang diproduksi PT Aneka Tambang Tbk (Antam) secara bulan berjalan (month to date/mtd) ini mulai kehilangan gemerlapnya alias pudar di tengah beragam sentimen dari pandemi virus corona (Covid-19) hingga suramnya data ekonomi Tanah Air.

Harga emas Antam secara mtd hingga perdagangan Selasa ini (12/5/2020) turun 2,93% atau sebesar Rp 25.000 menjadi Rp 854.000/gram dari harga 30 April 2020 Rp 879.000/gram.

Kendati harga emas Antam pudar secara mtd, namun jika dihitung secara tahun berjalan (year to date/ytd) harga emas Antam sudah naik 19,77% atau Rp 141.000 dari Rp 713.000/gram pada posisi 31 Desember 2019. Harga akhir Desember ini menjadi harga terendah sepanjang catatan ytd.

Padahal harga emas Antam ytd sempat mencatatkan kenaikan fantastis yang berada di Rp 914.000/gram pada 7 April 2020 untuk e
mas Antam kepingan 100 gram lumrah yang dijadikan acuan transaksi emas secara umum. Adapun khusus harga 1 gram emas Antam naik nyaris Rp 1 juta, tepatnya yaitu Rp 963.000/gram pada periode yang sama (ytd).




Turunnya harga emas Antam secara mtd tak lain juga terdorong oleh data konsumen Indonesia yang tidak lagi optimistis dalam melihat prospek perekonomian saat ini dan masa mendatang. Pesimisme konsumen tercermin dalam Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) yang sudah di bawah 100.

Bank Indonesia (BI) melaporkan IKK pada April 2020 sebesar 84,8, turun drastis dari bulan sebelumnya yaitu 113,8 sekaligus menjadi yang terendah sejak Juli 2008.


Rendahnya tingkat kepercayaan konsumen cenderung berkontribusi pada penjualan aset-aset investasi termasuk aset safe haven emas dan lebih memilih memegang uang tunai untuk sementara waktu yang lebih likuid.

Selain itu, pelonggaran pembatasan wilayah (lockdown) di sejumlah negara guna menghidupkan kembali aktivitas roda perekonomian juga membuat aset-aset berisiko kembali diminati, sehingga menekan harga emas dunia termasuk emas Antam.

Investor menaruh harapan besar terhadap pelonggaran pembatasan sosial (social distancing) yang diberlakukan di berbagai negara. Di Amerika Serikat (AS), Presiden Donald Trump mengubah fokus gugus tugas Covid-19 dari penanganan menjadi membuka kembali 'keran' aktivitas ekonomi masyarakat.

Sementara di Eropa, berbagai negara juga mulai berencana melonggarkan karantina wilayah (lockdown). Tidak terkecuali Jerman, perekonomian terbesar di Benua Biru.

Inggris pun akhirnya mengumumkan akan melonggarkan lockdown, menyusul negara-negara besar lainnya seperti Jerman, Italia, Spanyol hingga Belanda. Perdana Menteri (PM) Inggris, Boris Johnson, Rabu pekan lalu mengatakan pelonggaran lockdown bisa dilakukan pada Senin (11/5/2020).

Harga emas Antam memang cukup fluktuasi dalam beberapa minggu terakhir di tengah beragam sentimen dari kemungkinan trade war AS-China serta pasar tenaga kerja AS hingga rencana pelonggaran pembatasan wilayah di sejumlah negara guna menghidupkan kembali aktivitas ekonomi.


Sementara itu, kenaikan harga emas Antam secara ytd tak lain karena kekhawatiran yang semakin meningkat terkait penyebaran pandemi virus corona terhadap pertumbuhan ekonomi dunia termasuk Indonesia yang menuju resesi.

Proyeksi dari Asian Development Bank (ADB) pada Jumat lalu (3/4/2020), memperingatkan bahwa pandemi virus corona dapat mengurangi separuh pertumbuhan PDB di negara berkembang Asia.

Sebagai hasil dari pandemi, ekonomi global diproyeksikan berkontraksi tajam hingga minus 3% pada tahun ini, jauh lebih buruk dari krisis keuangan 2008-2009.

Selain itu kebijakan bank sentral (termasuk bank sentral AS, The Fed) dalam memberikan pelonggaran kuantitatif (QE) dengan membeli aset-aset finansial berbasis utang juga memicu penurunan yield (imbal hasil obligasi) yang membuat emas menjadi lebih menarik di mata investor.

"Penguatan emas yang terjadi karena kelonggaran moneter ini pada akhirnya harus dilunasi dan mungkin akan dibayar dengan tingkat inflasi yang tinggi nantinya," kata Tai Wong, Kepala Trading Derivatif untuk Logam Dasar dan Logam Mulia di BMO, melansir Reuters.

"Emas kemungkinan mendapat untung dari melimpahnya uang bank sentral dan utang baru," katanya.

 

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

 



(har/har)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading