Kapan yah Saham Bisa 'Ramah' bagi Masyarakat Awam?

Investment - Syahrizal Sidik, CNBC Indonesia
25 November 2019 10:47
Kapan yah Saham Bisa 'Ramah' bagi Masyarakat Awam? Foto: Ilustrasi Sekuritas (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto)

Jakarta, CNBC Indonesia - "Pasar modal bukan hanya untuk mereka yang memiliki rumah di atas awan, tetapi bagi mereka yang bermukim di bumi," begitu kata Darmin Nasution, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian 2015-2019.

Pasar modal Indonesia saat ini masih menghadapi tantangan memperluas pendalaman pasar. Perlu terobosan baru yang harus dilakukan seluruh pemangku kebijakan agar pasar modal semakin membumi, seperti apa yang dikemukakan Darmin.

Harus diakui, dengan kondisi pasar yang masih dangkal, kita tentu sangat rentan menghadapi tekanan dari gejolak eksternal mulai dari masih berkecamuknya perang dagang yang menyebabkan ekonomi dunia melambat hingga potensi resesi ekonomi yang membayangi.


Kapan yah Saham Bisa 'Ramah' bagi Masyarakat Awam?Foto: Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution saat pembukaan perdagangan BEI 2019 (CNBC Indonesia/Bernhart Farras)


Tidak hanya itu, Indonesia juga masih sangat bergantung dari aliran modal asing, hal ini terlihat dari investasi portofolio pada Surat Berharga Negara (SBN).

Kementerian Keuangan mencatat, porsi kepemilikan investor asing di SBN per 15 November 2019 sudah mencapai 38,99% dari Rp 2.741 triliun. Dengan kondisi perekonomian global yang sedang tidak pasti, memperkuat investor domestik menjadi penopang menghadapi gejolak.


Di pasar saham, bila dilihat sejak awal tahun hingga 23 November 2019, pelaku pasar asing melakukan aksi jual bersih (net sell) Rp 23 triliun di pasar reguler (kendati di pasar nego dan tunai terjadi beli bersih asing Rp 62 triliun). Akibatnya, imbal hasil Indeks Harga Saham Gabungan terkoreksi 1,52% secara year to date.

Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Hoesen menyampaikan, upaya pendalaman pasar terus menerus dilakukan, meski hal ini, diakuinya tidaklah mudah, mengingat pasar di Indonesia masih terfragmentasi.

Kata Hoesen, pelbagai inisiasi sudah dilakukan otoritas pasar modal di antaranya dengan menambah kegiatan edukasi dan literasi, mengubah infrastruktur perdagangan hingga memperluas distribusi produk pasar modal melalui marketplace dan fintech.

"Secara umum pendalaman pasar terus dilakukan melalui sosialiasi, sekolah pasar modal yang digagas SRO [Self Regulatory Organization], tujuannya menambah literasi," kata Hoesen, di BEI Jakarta, Kamis (21/11/2019).

Pendalaman pasar keuangan sangat dibutuhkan untuk membangun ketahanan ekonomi nasional. Mengacu Hasil Kajian Teknokratik RPJMN 2020-2024 Bidang Jasa Keuangan yang dipublikasikan Direktorat Jasa Keuangan dan BUMN Bappenas pada 2018, arah pengembangan ke depan pendalaman pasar keuangan harus memperluas instrumen dan intensitas penerbitan aset keuangan, meningkatkan kualitas platform digital untuk perdagangan serta meningkatkan jumlah perusahaan tercatat dan basis investor domestik.

Variasi Instrumen
Pentingnya perluasan instrumen juga ditekankan Direktur Penilaian BEI, I Gede Nyoman Yetna Setia. Sebab, kata Nyoman, kontribusi pasar modal Indonesia terhadap pertumbuhan ekonomi nasional, bila dikalkulasi dari total nilai kapitalisasi pasar atau market capitalization (market cap) masih kalah dibanding Malaysia dan Singapura.

Saat ini, pasar modal Indonesia memberikan kontribusi 46% terhadap pertumbuhan ekonomi nasional dengan acuan total kapitalisasi pasar mencapai Rp 7.160 triliun terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) senilai US$ 1 triliun atau sekitar Rp 15.000 triliun.

Kata Nyoman, kontribusi pasar modal terhadap PDB Malaysia dan Singapura sudah mencapai lebih dari 100%. Sebagai perbandingan, data World Bank 2018 menunjukkan, market cap Bursa Singapura sebesar US$ 687,25 miliar atau Rp 9.618 triliun, dan Bursa Malaysia US$ 486,77 miliar atau Rp 6.804 triliun.

"Kondisi ini setara Vietnam, kita upayakan ke depan untuk boosting [mendorong] kontribusi market cap terhadap GDP bisa saingi Malaysia dan Singapura," kata Nyoman di Gedung BEI, Jumat (27/9/2019).

Tentu ini menjadi tantangan bagi BEI untuk terus meningkatkan nilai kapitalisasi pasar dengan semakin menggairahkan pasar saham melalui berbagai penerbitan instrumen, baik surat utang, saham maupun instrumen derivatif seperti Kontrak Investasi Kolektif seperti DINFRA dan DIRE.

Tidak hanya itu, BEI juga mendorong lebih banyak penerbitan instrumen reksa dana yang dapat diperdagangkan di bursa atau Exchange Traded Fund/ETF). Dengan demikian, nilai kapitalisasi pasar akan meningkat dan pasar modal akan lebih berperan mendorong pertumbuhan ekonomi domestik.

Memperluas Investor Ritel
Selain berperan mendorong pertumbuhan ekonomi, memperluas basis investor ritel juga masih menghadapi tantangan.

Misalnya, kisah yang dialami oleh seorang pekerja swasta, Robby Aldrian. Ia tak bisa menyembunyikan kegundahannya di media sosial karena ingin tahu lebih banyak soal investasi di pasar modal.

"Saya baru pertama kali belajar, bagaimana caranya investasi saham? Apakah saya harus datang ke BEI?" ungkapnya.

Pengalaman seperti Robby akan sering kita jumpai di media sosial. Ternyata, masih banyak masyarakat kita yang masih awam, belum mengetahui informasi bagaimana caranya berinvestasi di pasar modal.

Pengalaman berbeda dialami Medianti, pekerja swasta yang tinggal di Jakarta. Dia mengaku sudah berinvestasi di reksa dana karena tertarik imbal hasil yang lebih tinggi ketimbang menyimpan uang di tabungan.

Kapan yah Saham Bisa 'Ramah' bagi Masyarakat Awam?Foto: Pembukaan Perdagangan BEI 2019 (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)


Sejak dua tahun terakhir, ia rutin berinvestasi di reksa dana saham yang dikelola manajer investasi dan bekerjasama dengan Tokopedia. Ia memilih investasi di instrumen ini untuk berinvestasi jangka panjang. "Rata-rata top up Rp 500.000 per bulan ke reksa dana, imbal hasilnya rata-rata sekitar 7% per tahun," katanya kepada CNBC Indonesia.

Syukurlah, ternyata masih ada sedikit kisah yang membanggakan. Jumlah investor saham dari generasi milenial juga terus meningkat. Buktinya, dari 2,28 juta Single Investor Identification (SID), menurut data Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), sebanyak 43,28% didominasi dari kelompok usia di bawah 30 tahun.

Dari jumlah tersebut, tren pertumbuhan investasi reksa dana paling tinggi dengan pertumbuhan 60,2% sejak awal tahun hingga 23 Oktober 2019.

Direktur Pengembangan BEI, Hasan Fawzi menargetkan, hingga akhir tahun, jumlah investor saham domestik bertambah 250.000. "Target ini tumbuh 30% dari tahun sebelumnya," kata Hasan Fawzi.

Dalam berbagai kesempatan, investor saham kenamaan Indonesia, Lo Kheng Hong, seringkali mendengungkan, investasi di pasar modal lebih tepat untuk tujuan jangka panjang ketimbang hanya mengambil keuntungan (capital gain) sesaat.

"Investasi itu berakit-rakit ke hulu, berenang renang ke tepian," katanya di sela Capital Market Summit & Expo 2019 di Jakarta Convention Center, Jumat (23/8/2019). Hadir dalam acara itu dari pelbagai kalangan, mulai dari remaja, mahasiswa, hingga ibu rumah tangga memenuhi seisi ruangan.


Dia menekankan, beberapa tips dalam berinvestasi di instrumen saham. Pertama, memastikan perusahaan tersebut menjalankan tata kelola perusahaan yang baik (good corporate governance). Selanjutnya, investasi di perusahaan yang memiliki keberlanjutan usaha yang bagus dan terus prospektif. Dia juga menyarankan memilih saham dengan valuasi yang murah.

"Kalau punya saham perusahaan besar seperti punya mesin pencetak uang," tegasnya lagi.

Harus Massif
Kepala Riset Koneksi Kapital Alfred Nainggolan menilai, data 2,28 juta Single Investor Identification (SID) jika dibandingkan dengan populasi jumlah penduduk Indonesia sebanyak 260 juta hasilnya baru 0,007%, sangatlah kecil. Karena itu, kata dia, penguatan literasi sangat penting untuk menghilangkan stigma bahwa pelaku pasar saham hanya dari kalangan tertentu saja.

Sebetulnya, kata Alfred, sejumlah inisiasi BEI yang dilakukan selama ini melalui program edukasi dan literasi sudah cukup baik, di antaranya pelaksanaan paparan publik yang dapat dijangkau melalui siaran langsung (Public Expose Live 2019) di YouTube melalui platform aplikasi Zoom, tapi kata dia hal ini belum menjangkau potensi investor secara massif.

Salah satu yang bisa dilakukan BEI adalah mengenalkan kurikulum investasi di pendidikan tingkat sekolah menengah atas (SMA) untuk tujuan jangka panjang. Di sisi lain, saat ini, BEI juga sudah membuka berbagai galeri investasi di berbagai universitas di Indonesia untuk mengenal dan berinvestasi di pasar modal kepada para mahasiswa.

"Pendalaman pasar mesti ada sesuatu yang massif, yaitu masuk melalui kurikulum pendidikan, itu yang bisa lebih cepat mengenalkan pasar modal. Kalau seperti ini terus tidak akan bisa, selalu ada backlog potensi investor," ungkap Alfred.

Tentu, kita ingin pasar modal, seperti diutarakan Darmin di awal tulisan ini, bukan hanya bagi segelintir kalangan, yang digambarkan mantan Gubernur Bank Indonesia itu seperti berumah di atas awan, tetapi harus membumi bagi masyarakatnya. Semoga!



(tas/tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading