Internasional

Ramai Negara Besar Dunia Kini 'Buang Dolar', Ada Apa?

Investment - Rehia Sebayang, CNBC Indonesia
31 October 2019 17:19
Ramai Negara Besar Dunia Kini 'Buang Dolar', Ada Apa? Foto: Ilustrasi Mata Uang Yuan dan Dolar AS (REUTERS/Jason Lee)
Jakarta, CNBC Indonesia - Dolar Amerika Serikat (AS) telah menjadi mata uang cadangan utama dunia selama beberapa dekade.

Selain itu, dolar dipandang sebagai salah satu aset investasi teraman di dunia (safe haven), dan nilainya cenderung menguat selama masa-masa gejolak ekonomi atau politik.



Tetapi, kini status itu terancam hilang setelah berbagai negara besar mulai 'membuangnya'.


Setidaknya istilah ini yang digunakan Anne Korin, co-director di think tank energi dan keamanan dari Institute for Analysis of Global Security.

"Negara-negara paling berpengaruh (major movers) seperti China, Rusia dan Uni Eropa memiliki motivasi yang kuat untuk melakukan de-dolarisasi," kata Korin, Rabu (23/10/2019).

"Kami tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya, tetapi yang kami tahu adalah bahwa situasi saat ini tidak berkelanjutan. Ada klub dari negara-negara yang sangat kuat yang sedang berkembang."

Satu faktor yang mengurangi antusiasme negara-negara besar itu terhadap greenback (sebutan bagi dolar AS) adalah keharusan untuk tunduk pada yurisdiksi AS ketika mereka bertransaksi dalam dolar.

Ketika dolar AS digunakan atau transaksi diselesaikan melalui bank Amerika, maka entitas tunduk harus pada yurisdiksi AS, bahkan meski transaksi itu tidak ada hubungannya dengan AS, kata Korin kepada "Squawk Box" CNBC International.

Dalam hal ini, Korin menjadikan kasus pengunduran diri AS secara sepihak dari perjanjian nuklir Iran pada 2018 sebagai contoh. Setelah keluar dari perjanjian nuklir, AS juga memberlakukan sanksi pada Iran.


Tapi, sanksi itu 'merembet' ke negara lain karena AS mengancam akan menindak negara manapun yang bertransaksi dengan Iran.

Situasi itu membuat perusahaan multinasional Eropa rentan terhadap hukuman dari AS karena mereka memiliki bisnis dengan Iran.

"Eropa ingin melakukan bisnis dengan Iran. Negara itu tidak ingin tunduk pada hukum AS untuk melakukan bisnis dengan Iran, kan?" katanya.

"Tidak ada yang ingin dijemput di bandara untuk melakukan bisnis dengan negara-negara yang AS tidak sukai."

Oleh karena itu, negara-negara itu semakin ingin untuk mengurangi ketergantungan dalam menggunakan dolar.

Namun sayangnya, jika banyak negara menjual dolar, maka nilainya akan melemah. Hal ini dapat mempengaruhi mata uang negara lainnya, terutama yuan China.

[Gambas:Video CNBC]




(sef/sef)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading