Tips Investasi Saham

Pilih Mana, Beli Saham Sekaligus atau Dicicil?

Investment - Yazid Muamar, CNBC Indonesia
16 August 2019 07:40
Pilih Mana, Beli Saham Sekaligus atau Dicicil? Foto: Infografis/ 4 Tokoh berpengaruh terhadap investasi emas dunia/ Aristya Rahadian Krisabella
Jakarta, CNBC Indonesia - Untuk mewujudkan keinginan-keinginan hidup baik untuk diri sendiri maupun keluarga, seseorang perlu melakukan perencanaan keuangan secara matang. Salah satu instrumen investasi yang dapat digunakan untuk mewujudkan rencana tersebut adalah berinvestasi pada saham.

Saham dulunya merupakan aset keuangan yang berbasis kertas (paper based asset), namun seiring berkembangnya teknologi saat ini saham sudah berubah menjadi instrumen keuangan yang berbasis elektronik atau digital yang mudah dipindah tangankan. 

Instrumen lainnya yang dahulunya berbasis kertas juga telah beralih menjadi berbasis elektronik, yakni: reksa dana, ETF (reksa dana yang bisa diperdagangkan di bursa), obligasi, waran, HMETD dan beberapa efek lainnya.

Saham merupakan salah satu instrumen investasi jangka panjang yang paling mudah dipindahtangankan dengan potensi keuntungan atau imbal hasil yang cukup tinggi, namun perlu diingat risikonya juga tinggi. Maka dari itu saham juga disebut investasi yang high risk high return.


Ada dua metode yang biasanya digunakan dalam membeli saham, yakni membeli saham secara sekaligus atau lump sum dan mencicil atau dollar cost averaging/DCA.

Mari kita bahas secara kedua pendekatan tersebut, lebih untung membeli saham dengan metode lump sum atau DCA?

1. Metode Lump Sum

Membeli saham secara sekaligus sangat baik digunakan bagi investor mahir berinvestasi saham, dengan memahami kondisi situasi pasar dikombinasikan dengan pengetahuan pergerakan harga/analisis teknikal, metode lump sum dapat memberikan keuntungan maksimal saat harga saham berada di level bawah dan berpotensi mengalami kenaikan di masa mendatang karena didukung fundamental perusahaan yang masih baik.

Namun metode membeli saham secara lump sum kurang cocok diterapkan di tengah pasar yang cenderung berfluktuasi, seperti pada contoh ilustrasi  berikut:

Seseorang investor bernama Sinabung membeli saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) di harga Rp 5.000/saham sebanyak 50 lot (5.000 unit saham) dengan dikenakan fee beli 0,15%. Sehingga uang yang dibutuhkan untuk membeli saham tersebut senilai Rp 25.037.500, hasil dari: Rp 5.000 X 5.000 X 100 unit saham, ditambah biaya 0,15%.

Seiring berjalannya waktu, saham tersebut ternyata saham tersebut mengalami penurunan karena banyak dijual pelaku pasar karena kondisi ekonomi kedepannya dirasa kurang baik. Setelah 3 bulan, harganya mulai turun menjadi Rp 4.500/saham.

Lima bulan kemudian, harganya kembali naik menuju harga awalnya di level Rp 5.000/saham. Bisa dikatakan Sinabung tidak memperoleh keuntungan apa-apa karena harganya berfluktuasi selama periode tersebut. Bahkan Sinabung masih mengalami kerugian atas investasinya karena dibebankan biaya pembelian atau fee 0,15%.


2. Metode Dolar Cost Averaging/DCA

Metode DCA sangat baik guna mengurangi fluktuasi harga sebuah saham dalam memaksimalkan keuntungan dari Investasi saham.

Begini ilustrasinya:

Sinabung selalu menyisihkan gajinya sebesar Rp 1.000.000/bulan untuk membeli saham BBRI, yang awalnya berada di harga Rp 5.000/saham. Ternyata saham tersebut mengalami penurunan seiring berjalannya waktu, karena faktor dalam negeri dan kondisi global yang kurang kondusif.

Pada bulan kedua, harga sahamnya turun menjadi Rp 4.750/unit. Sinabung kembali membeli saham tersebut dengan jumlah yang sama yakni Rp 1.000.000.

Pada bulan ketiga harga sahamnya masih mengalami penurunan, kali ini berada pada level Rp 4.500/unit dan Sinabung pun kembali membeli saham BBRI tersebut senilai Rp 1.000.000.

Pada bulan keempat ternyata harga sahamnya mengalami kenaikan menjadi Rp 4.750/unit. Sinabung kembali membeli saham tersebut dengan uang Rp 1.000.000.

Pada bulan kelima, harga sahamnya naik menjadi Rp 5.000/unit alias kembali ke harganya lima bulan lalu. Sinabung kembali membeli saham tersebut sebesar Rp 1.000.000.

Dalam lima bulan tersebut, jika dirata-ratakan harga sahamnya menjadi Rp 4.807/unit (5.000+4.750+4.500+4.750+5.000:5), Sinabung memperoleh keuntungan sebesar 3,85% atau jika dirupiahkan menjadi Rp 192.500.

Dibandingkan dengan metode lump sum, metode DCA lebih menarik untuk memperkecil fluktuasi pergerakan harga. Ada baiknya jika seseorang kurang memiliki waktu karena pekerjaan dan kegiatan lainnya memilih metode DCA.

Lebih Baik Mana? Beli Saham Sekaligus Atau Dicicil?Sumber: Ilustrasi Pergerakan Saham
Ayo Nabung Saham!!!

TIM RISET CNBC INDONESIA (yam)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading