Survei: Mayoritas Perusahaan Jepang Ogah Pakai 5G Huawei

Fintech - Wangi Sinintya, CNBC Indonesia
23 May 2019 20:01
Survei: Mayoritas Perusahaan Jepang Ogah Pakai 5G Huawei
Jakarta, CNBC Indonesia - Mayoritas perusahaan Jepang tidak berminat untuk menggunakan jaringan seluler 5G oleh Huawei atau perusahaan asing lainnya. Mereka lebih memilih untuk mengandalkan operator telekomunikasi domestik karena masalah keamanan

Hal tersebut merupakan hasil dari jajak pendapat yang dilakukan oleh Reuters. Hasil survei diumumkan di tengah kekhawatiran Washington bahwa peralatan dari Huawei itu dapat digunakan untuk memata-matai. Tahun depan operator Jepang akan meluncurkan layanan nirkabel berkecepatan tinggi.

Amerika Serikat telah memperingatkan negara-negara agar tidak menggunakan teknologi China. Mereka juga menyatakan Huawei dapat digunakan oleh Beijing untuk memata-matai Barat. China dan Huawei sangat menolak tuduhan itu.



Dalam komentar tertulis, tidak ada perusahaan Jepang yang menyebut Huawei atau perusahaan asing lainnya dengan nama, tetapi mereka menyatakan keprihatinan tentang masalah keamanan saat menggunakan peralatan perusahaan asing.

"Sama sekali tidak mungkin untuk mengadopsi produk dan layanan dari sebuah perusahaan yang tidak dapat menghilangkan kekhawatiran tentang keamanan nasional," tulis seorang manajer anonim dari perusahaan grosir. Dilansir dari Reuters, Kamis (23/05/2019).

"Dalam hal paten terkait 5G, perusahaan China memegang posisi yang sangat dominan. Tetapi akan sulit untuk mengadopsi mereka mengingat kemungkinan kebocoran informasi," tulis seorang manajer pembuat mesin dalam survei yang dilakukan pada 8-17 Mei.

Survei Perusahaan menemukan 88% perusahaan Jepang mengatakan mereka cenderung memilih operator telekomunikasi domestik ketika menggunakan 5G. Sementara sebanyak 2% memilih perusahaan China termasuk Huawei, 1% memilih Qualcomm Inc dan 11% memilih "yang lain".

Sekitar empat dari lima perusahaan tidak memiliki rencana bisnis khusus untuk menggunakan teknologi nirkabel berkecepatan tinggi. Ini menggarisbawahi fakta bahwa Jepang tertinggal dari negara lain seperti Korea Selatan dan Amerika Serikat yang sudah mulai meluncurkan layanan 5G.


Sekitar sembilan dari 10 perusahaan belum mendapatkan cukup insinyur yang dapat menangani teknologi mutakhir seperti kecerdasan buatan (AI) dan Internet of Things (IoT).

Survei ini dilakukan oleh Nikkei Research untuk Reuters setiap bulan. Survei ini mensurvei 477 perusahaan besar dan menengah yang merespons dengan syarat anonimitas. Sekitar 200-220 responden menjawab pertanyaan tentang masalah 5G dan teknologi.

Perusahaan telekomunikasi Jepang termasuk tiga operator besar (NTT Docomo, KDDI dan SoftBank Corp) secara resmi mendapat alokasi spektrum 5G oleh regulator bulan lalu. Ini merupakan tonggak utama menjelang peluncuran layanan nirkabel berkecepatan tinggi.

Teknologi yang dapat memberikan kecepatan data setidaknya 20 kali lebih cepat dari 4G ini, dipandang penting untuk teknologi dari mobil self-driving dan smart cities hingga AI dan augmented reality.

Jika teknologi yang mendasarinya rentan, ini dapat memungkinkan peretas untuk mengeksploitasi produk tersebut untuk memata-matai atau mengganggu mereka.

Saksikan Video AS Longgarkan Sanksi Bagi Huawei

[Gambas:Video CNBC]
(dob)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading