Facebook Cs Down, Pendiri WhatsApp Pernah Serukan Hapus Akun

Fintech - Bernhart Farras, CNBC Indonesia
15 April 2019 14:49
Facebook Cs Down, Pendiri WhatsApp Pernah Serukan Hapus Akun Foto: REUTERS/Dado Ruvic
Jakarta, CNBC Indonesia - Facebook, Whatsapp dan Instagram mati selama 2 jam pada Minggu (14/4/2019) sebelumnya pendiri WhatsApp pernah menyerukan untuk menghapus akun Facebook.

Pandangan negatif dari pengguna terhadap Facebook tidak hanya karena masalah pemadaman tetapi publik juga mengingat tentang kasus skandal penyalahgunaan data 50 juta pengguna Facebook oleh lembaga konsultan politik Cambridge Analytica.


Co-founder WhatsApp Brian Acton pernah menyerukan kepada pengikut (follower) akun twitter-nya yang berjumlah hampir 21.000 untuk menghapus akun Facebook.


"Ini waktunya. #deletefacebook," tulisnya di platform media sosial itu, dilansir dari CNBC International pada Maret 2018.

Pada 2014, Facebook mengakuisisi WhatsApp senilai US$19 miliar (Rp 261,4 triliun). Acton tetap bekerja untuk WhatsApp selama beberapa tahun sebelum keluar dan memulai Signal Foundation pada 2018.

Facebook Cs Down, Pendiri WhatsApp Pernah Serukan Hapus AkunFoto: CNBC

Acton juga sempat melamar kerja di Facebook tahun 2009 dan membagi soal penolakan yang diterimanya di Twitter.

"Facebook menolak saya. Ini adalah kesempatan yang besar dapat terhubung dengan beberapa orang hebat. Menantikan petualangan hidup selanjutnya," tulisnya.

Skandal Facebook terus menjadi sorotan setelah beberapa pemberitaan muncul dan menyebut Cambridge Analytica mengakses data 50 juta pengguna media sosial itu tanpa izin.

Cambridge Analytica memperoleh data itu dari pembuat sebuah kuis yang diikuti oleh 270.000 pengguna Facebook. Pembuat tes itu meneruskan datanya kepada Cambridge Analytica dan melanggar aturan platform Facebook.

Facebook Cs Down, Pendiri WhatsApp Pernah Serukan Hapus AkunFoto: REUTERS/Dado Ruvic

Raksasa media sosial itu telah mengetahui soal kebocoran data tersebut tahun 2015 namun tidak mengungkapkan apapun kepada publik hingga surat kabar AS The New York Times dan koran Inggris Observer melaporkannya akhir pekan lalu.

Cambridge Analytica didanai sebagian besar oleh Robert Mercer, salah seorang donatur Presiden AS (Amerika Serikat) Donald Trump. Perusahaan membantu Trump menyiapkan target iklan politik pada masa kampanye, namun membantah menggunakan data tersebut dalam prosesnya.

Kala itu, CEO Facebook Mark Zuckerberg dan COO Sheryl Sandberg tidak memberikan pernyataan apapun. Sikap mereka itu menimbulkan lebih banyak kritik dari para analis dan investor dan mereka yang menginginkan regulasi yang lebih ketat terhadap raksasa teknologi.

Simak video FB Messenger, Instagram dan WhatsApp down di bawah ini:
[Gambas:Video CNBC]


(roy/roy)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading