CNBC Insight

Pria Asal Magelang Mendunia, Dijuluki Bapak Kendaraan Listrik Asia

MFakhriansyah,  CNBC Indonesia
29 October 2026 11:35
Profil Prof Ching-Chuen Chan. (Dok. Technology Power)
Foto: Profil Prof Ching-Chuen Chan. (Dok. Technology Power)
Naskah ini merupakan bagian dari CNBC Insight, rubrik yang menyajikan ulasan sejarah untuk menjelaskan kondisi masa kini lewat relevansinya di masa lalu

Jakarta, CNBC Indonesia - Industri mobil listrik yang berkembang pesat saat ini tidak lepas dari kontribusi para ilmuwan yang merintis teknologinya sejak puluhan tahun lalu. Salah satunya adalah C. C. Chan, insinyur listrik yang dikenal sebagai "Bapak Kendaraan Listrik Asia". Siapa sangka, ilmuwan yang berperan dalam perkembangan teknologi kendaraan listrik tersebut lahir di Magelang, Indonesia.

Chan lahir pada 14 Januari 1937 dari keluarga pengusaha keturunan Tionghoa. Ayahnya, Chen Shengchang, merantau dari Fujian, China, ke Jawa dan membangun usaha bus serta taksi. Lingkungan bisnis keluarga inilah yang memperkenalkan Chan sejak kecil pada dunia kendaraan bermotor.

Sepulang sekolah, Chan kerap mendatangi garasi tempat kendaraan milik ayahnya diperbaiki. Di sana, ia melihat pemandangan yang berbeda dari kendaraan yang tampak bagus ketika melaju di jalan raya. Asap dan minyak mengotori kendaraan, sementara para pekerja juga harus berhadapan dengan kondisi garasi yang kotor.

Dalam wawancara dengan Asian Scientist Magazine, Chan mengenang pengalaman yang kemudian memicu rasa ingin tahunya terhadap kendaraan tanpa emisi asap dari mesin pembakaran.

"Di sana, saya melihat minyak dan asap keluar dari kendaraan, sementara para pekerjanya sangat kotor. Kendaraan-kendaraan itu terlihat bagus ketika melaju di jalan raya, tetapi tampak sangat buruk ketika berada di garasi," ungkap Chan, dikutip Kamis (29/10/2026).

Pengalaman tersebut membuatnya bertanya-tanya apakah kendaraan bisa dibuat tanpa menghasilkan minyak dan asap. Saat itu, ia mengaku belum mengetahui jawabannya.

"Saya pun bertanya-tanya apakah mungkin membuat mobil yang tidak menghasilkan minyak dan asap. Tentu saja, saat itu saya belum mengetahui jawabannya," terang Chan.

Pencarian jawaban itu berlanjut ketika Chan menempuh pendidikan di China. Pada 1953, ketika berusia 16 tahun, ia kembali ke negara leluhurnya dan masuk Departemen Elektromekanika di Beijing Mining Institute, yang kini dikenal sebagai China University of Mining and Technology.

Selama belajar, Chan mengetahui bahwa kendaraan bertenaga baterai telah digunakan di pertambangan untuk mengangkut batu bara. Pengetahuan tersebut memperluas pandangannya bahwa kendaraan dapat digerakkan oleh motor listrik, bukan hanya mesin pembakaran internal.

Meski demikian, kendaraan listrik masih menghadapi tantangan besar. Mulai dari kapasitas baterai, keterbatasan jarak tempuh, hingga lamanya pengisian daya. Persoalan teknis tersebut kemudian menjadi bagian penting dari perjalanan riset Chan.

Pada 1981, Chan bergabung dengan University of Hong Kong. Lima tahun berselang, ia mendirikan International Research Centre for Electric Vehicles (IRCEV) di universitas tersebut dengan dukungan Departemen Energi Amerika Serikat dan University of Hawaii. Lembaga ini menjadi wadah penelitian dan kerja sama internasional untuk mengembangkan kendaraan listrik.

Mengutip situs University of Hong Kong, dari kampus inilah, Chan membantu pengembangan kendaraan listrik di China, India, Jepang, AS dan Eropa. Dari sini, menjadi presiden Asosiasi Kendaraan Listrik se-Dunia hingga mendapat julukan "The Father of Asian Electric Vehicles" atau Bapak Kendaraan Listrik Asia pada 2003. 

Ia juga menerima WFEO Medal of Engineering Excellence pada 2013 dan Royal Academy of Engineering Prince Philip Medal pada 2014.

Bagi Chan, kendaraan listrik memiliki peran yang lebih luas daripada sekadar alat transportasi. Teknologi ini juga dapat menjadi bagian dari sistem energi, sehingga pengembangannya membutuhkan kemajuan teknologi, ketersediaan infrastruktur pengisian daya, dukungan kebijakan, dan model bisnis yang tepat.

"Penting juga untuk dipahami bahwa kendaraan listrik bukan sekadar sarana transportasi. Kendaraan ini merupakan pembawa energi yang krusial dalam sistem energi yang lebih luas," ungkapnya. 

Dari pengalamannya melihat bus dan taksi di sebuah garasi di Magelang, Chan menempuh perjalanan panjang hingga menjadi salah satu tokoh penting dalam pengembangan teknologi kendaraan listrik. Rasa ingin tahu yang muncul sejak kecil itu membawanya pada penelitian yang turut membentuk arah perkembangan kendaraan listrik modern.

[Gambas:Instagram]

(mfa/wur)

Most Popular
Features