Kilang Minyak Meledak Tumpahkan Jutaan Barel Efek Kerja Tak Patuh SOP
Jakarta, CNBC Indonesia - Akibat kerja tak sesuai SOP, kilang minyak meledak bak neraka. Hal itu terjadi di Teluk Meksiko, Amerika Serikat, ketika anjungan pengeboran minyak Deepwater Horizon meledak pada 20 April 2010. Tragedi tersebut menewaskan 11 pekerja dan berujung pada tumpahan sekitar 4,9 juta barel minyak ke laut.
Malam itu, kegiatan pengeboran berlangsung di sumur Macondo, Teluk Meksiko. Operasi tersebut menggunakan anjungan Deepwater Horizon, fasilitas pengeboran lepas pantai milik Transocean yang disewa oleh BP.
Mengutip Britannica, lokasi sumur berada sekitar 1.500 meter di bawah permukaan laut, dengan pengeboran yang menembus ribuan meter lapisan batuan. Pekerjaan di sumur Macondo telah dimulai sejak Februari 2010 dan saat itu hampir memasuki tahap penyelesaian sebelum sumur ditutup sementara.
Meski pekerjaan mendekati tahap akhir, kondisi sumur ternyata belum sepenuhnya aman. Beberapa jam sebelum kecelakaan, pengujian tekanan menunjukkan hasil yang tidak normal. Indikasi tersebut mengarah pada kemungkinan bahwa sumur masih mengalami masalah dan berisiko mengalami kebocoran.
Situasi ini semestinya mendorong pemeriksaan lebih lanjut sebelum operasi diteruskan. Namun, pekerjaan tetap berjalan di tengah dorongan untuk menyelesaikan proyek dengan cepat dan efisien.
Risiko tersebut kemudian berubah menjadi kenyataan. Gas bertekanan tinggi dari dalam sumur berhasil melewati lapisan semen yang berfungsi sebagai pelindung. Gas lalu bergerak naik melalui pipa hingga mencapai anjungan pengeboran dan menyebar di area kerja.
Gas yang menyebar kemudian tersulut dan menyebabkan ledakan besar. Perangkat pengaman utama yang dirancang untuk menutup sumur saat keadaan darurat ternyata tidak berhasil menjalankan fungsinya.
Kebakaran dan ledakan membuat kondisi di anjungan menjadi mencekam. Dalam kesaksiannya kepada The Guardian, salah satu pekerja bernama Stephen Davis menceritakan pengalaman saat kejadian berlangsung.
"Seluruh anjungan berguncang. Rasanya seperti berjalan langsung ke neraka," ujarnya.
Davis menggambarkan bagaimana asap hitam memenuhi anjungan sesaat setelah ledakan. Kekuatan guncangan bahkan membuat tubuh para pekerja terlempar hingga sekitar 5 meter.
Proses penyelamatan pun tidak bisa berlangsung seketika. Para pekerja harus bertahan selama berjam-jam karena kebakaran di sekitar anjungan menghambat evakuasi. Setelah kejadian, 11 pekerja dinyatakan tewas dan 17 lainnya mengalami luka-luka.
Di saat upaya penyelamatan berlangsung, kerusakan sumur menimbulkan persoalan lain yang jauh lebih luas. Minyak terus menyembur ke laut dan mencemari perairan Teluk Meksiko. Kebocoran yang awalnya diperkirakan mencapai sekitar 1.000 barel per hari kemudian meningkat hingga lebih dari 60.000 barel per hari.
Upaya menghentikan semburan baru berhasil pada Juli 2010, hampir tiga bulan setelah ledakan. Sumur tersebut selanjutnya disegel secara permanen pada September 2010. Secara keseluruhan, sekitar 4,9 juta barel minyak tumpah ke laut, menjadikan peristiwa tersebut salah satu bencana lingkungan terbesar dalam sejarah.
Pencemaran itu tidak hanya mengancam ekosistem laut, tetapi juga mengganggu kegiatan ekonomi masyarakat pesisir yang menggantungkan hidup pada sumber daya perairan.
Pada awalnya, perusahaan menggambarkan kejadian tersebut sebagai kegagalan teknis. Namun, hasil investigasi yang dibentuk Presiden Amerika Serikat setahun setelah tragedi menunjukkan persoalan yang lebih luas. Bencana itu dinilai tidak semata-mata disebabkan oleh kerusakan teknis, tetapi juga dipengaruhi sejumlah keputusan selama proses pengeboran.
Keputusan yang berkaitan dengan penghematan waktu dan biaya turut menjadi sorotan dalam penyelidikan tersebut.
"Perusahaan-perusahaan yang terlibat membuat keputusan untuk memangkas biaya dan menghemat waktu, yang pada akhirnya berkontribusi pada bencana ini," demikian laporan investigasi, dikutip BBC International, Selasa (27/10/2026).
Konsekuensi bagi BP berlanjut setelah bencana tersebut. Perusahaan itu menghadapi denda dan kewajiban kompensasi dengan nilai total lebih dari US$60 miliar. Besarnya sanksi tersebut menempatkan kasus Deepwater Horizon sebagai salah satu perkara dengan hukuman terbesar dalam sejarah industri energi dan lingkungan.
FILE - In this April 21, 2010, file photo, the Deepwater Horizon oil rig burns in the Gulf of Mexico following an explosion that killed 11 workers and caused the worst offshore oil spill in the nation's history. As the Trump administration rolls back environmental and safety rules for the U.S. energy sector, government projections show billions of dollars in savings reaped by companies will come at a steep cost: increased premature deaths and illnesses from air pollution, a jump in climate-warming emissions and more derailments of trains carrying explosive fuels. (AP Photo/Gerald Herbert, File) Foto: AP/Gerald Herbert |
