CNBC Insight

Fenomena Teror Pocong Muncul Saat Ekonomi RI Lagi Sulit

MFakhriansyah, CNBC Indonesia
Selasa, 02/06/2026 14:21 WIB
Foto: Ilutrasi pocong. (Istimewa)

Jakarta, CNBC Indonesia - Fenomena kemunculan hantu pocong di berbagai daerah di Indonesia ternyata bukan hal baru dalam sejarah. Belakangan sempat viral soal fenomena tersebut di jagat maya.

Dari masa Orde Baru, teror hantu pocong atau makhluk gaib lain juga sudah ada. Menariknya, kemunculan isu-isu tersebut kerap terjadi saat kondisi ekonomi sedang sulit.

Dalam studi berjudul "Mistisisme Pocong Sebagai Representasi Arwah Gentayangan" (2023), pocong sendiri memang dikenal sebagai sosok arwah yang terbungkus kain kafan dan dipercaya belum menemukan ketenangan setelah kematian. Sosok ini dianggap sebagai arwah gentayangan yang masih memiliki keterikatan dengan dunia nyata.


Soal teror pocong, Harian Berita Yudha (19 November 1984) pernah memberitakan keresahan warga Purwokerto akibat kemunculan hantu tersebut. Dilaporkan, pada malam hari hantu pocong meneror rumah warga. Polisi kemudian mengungkap teror itu sebagai cara baru atau modus pencurian.

Empat tahun setelahnya harian Neraca (31 Oktober 1988) juga menyoroti isu teror pocong. Pocong tersebut meneror rumah warga agar takut keluar rumah saat malam. Barulah saat sepi, pocong tersebut melancarkan aksi kejahatan terhadap bangunan usaha. Gudang milik pedagang dibobol, sementara uang jutaan rupiah milik bengkel warga dilaporkan hilang.

"Karena isu bohong itu tersebar luas sampai ke masyarakat, kini warga dibuat tidak berani keluar rumah bila malam hari," tulis Harian Neraca

Pada saat yang sama, kondisi ekonomi Indonesia memang sedang mengalami tekanan. Sejarawan Jan Luiten van Zanden dan Daan Marks dalam buku Ekonomi Indonesia 1800-2010 (2012) mencatat akhir dekade 1980-an menjadi periode sulit bagi perekonomian nasional. RAPBN tahun anggaran 1986/1987 mengalami penurunan sekitar 7% akibat penurunan ekspor migas.

"Pertumbuhan melamban, perdagangan dan investasi menurun tajam, utang meningkat dan pemerintah menghadapi tantangan fiskal yang besar karena jatuhnya pendapatan minyak," tulis keduanya.

Beberapa tahun kemudian, tepatnya pada 1997, teror pocong kembali menghebohkan masyarakat. Contohnya di Ciamis, Jawa Barat. Dalam laporan surat kabar Berita Yudha (3 Juli 1997), satu kota disebut dilanda ketakutan akibat kemunculan pocong setiap malam selepas magrib.

Disebutkan, sasaran kemunculan pocong adalah anak perempuan di bawah usia 17 tahun dan anak laki-laki di bawah lima tahun. Bahkan, dalam satu waktu disebut ada 27 pocong berkeliaran.

"Sasaran operasinya anak gadis di bawah usia 17 tahun atau anak laki-laki usia di bawah 5 tahun," tulis laporan surat kabar tersebut.

Seorang warga bernama Arim mengaku melihat langsung kemunculan pocong itu. Menurut dia, sosok-sosok tersebut tidak datang sendiri, melainkan turun dari sebuah mobil Kijang merah.

"Saya memergoki sejumlah setan pocong keluar dari kendaraan Kijang warna merah. Jalannya tidak melangkahkan kaki tapi loncat-loncat seperti pocong dalam sinetron di TV," ungkap Arim.

Isu kemunculan pocong kemudian menyebar hingga ke Banjar dan Pangandaran. Banyak warga memilih mengunci rumah rapat-rapat pada malam hari agar anak-anak mereka tidak diganggu.

Setahun berselang, pada 1998, suasana mencekam kembali muncul di Jawa Timur. Kali ini bukan hanya soal pocong, tetapi juga isu "ninja misterius" yang merebak setelah maraknya pembunuhan dukun santet di Banyuwangi.

Laporan Surabaya Post (17 Oktober 1998) menyebut masyarakat Surabaya, Gresik, hingga Malang dihantui rasa teror terhadap kemunculan ninja yang turun dari mobil boks sebelum menghilang.

Saat itu para ninja diduga kuat membunuh orang-orang yang terafiliasi ilmu hitam. Jika dikaitkan dengan konteks ekonomi masa itu, periode 1997-1998 sendiri memang menjadi masa krisis berat bagi Indonesia.

Menurut catatan Jan Luiten van Zanden dalam Ekonomi Indonesia 1800-2010 (2012), krisis bermula ketika nilai tukar rupiah jatuh drastis hingga sekitar Rp10.000-12.000 per dolar AS. Akibatnya, krisis pangan dan energi pun terjadi, sehingga berdampak pada kepanikan masyarakat. 

Fenomena-fenomena tersebut memperlihatkan isu makhluk gaib dan teror misterius kerap muncul di tengah situasi sosial yang tegang. Di Indonesia, cerita soal pocong ternyata bukan sekadar kisah horor, tetapi juga bagian dari dinamika sosial yang berulang dalam sejarah.


(mfa/mfa) Add as a preferred
source on Google