CNBC Insight

Harga BBM Meroket, Pejabat RI Ini Tinggalkan Mobil Dinas

MFakhriansyah,  CNBC Indonesia
04 May 2026 10:45
10 Negara dengan Kenaikan Harga BBM Paling Parah
Foto: Infografis/10 Negara dengan Kenaikan Harga BBM Paling Parah/Ilham

Jakarta, CNBC Indonesia - Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) ternyata pernah membuat seorang pejabat di Indonesia rela meninggalkan fasilitas mewah negara.

Demi menghemat anggaran di tengah krisis ekonomi, Ketua DPRD Bandung Mohammad Aten Hawadi tahun 1958 memilih berhenti memakai mobil dinas dan beralih menggunakan sepeda untuk bekerja sehari-hari.

Kisah ini terjadi pada akhir 1950-an saat kondisi ekonomi Indonesia sedang tertekan hebat. Harga-harga kebutuhan pokok melonjak. Antara lain beras yang harganya tembus Rp10 per liter. Lalu, minyak tanah turut melonjak ke kisaran Rp1-1,5 per liter. Sementara harga BBM meroket tinggi dari Rp1 ke Rp1,75 dan Rp2 per liter. 

Kenaikan harga tersebut membuat beban keuangan pemerintah semakin berat. Berdasarkan pemberitaan Pikiran Rakyat (23 Juli 1958), anggaran negara saat itu mengalami defisit hingga Rp6 miliar. Situasi diperparah oleh pergolakan di berbagai daerah yang mengganggu stabilitas ekonomi dan politik nasional.

Kondisi itu juga dirasakan pemerintah daerah, termasuk Kota Bandung. Bahkan, memasuki Oktober 1958, disebutkan kalau di kota tersebut BBM sudah mulai langka karena ada pengiriman pasokan dari Jakarta. Dampaknya, harga bahan baku lain meroket.

Di tengah keterbatasan anggaran dan tingginya biaya operasional, Aten Hawadi memilih mengambil langkah yang tak biasa bagi seorang pejabat.

Padahal, sebagai Ketua DPRD Bandung, dia berhak menggunakan mobil dinas sedan mewah Plymouth asal Amerika Serikat lengkap dengan sopir dan biaya bensin yang seluruhnya ditanggung negara. Namun, di tengah mahalnya BBM dan tekanan anggaran, fasilitas tersebut dianggap terlalu membebani keuangan pemerintah.

Atas dasar itu, Aten memutuskan mengembalikan mobil dinasnya dan mengganti kendaraan operasional dengan sepeda merek Raleigh.

"Ketua DPRD Kota Bandung, Moh. A. Hawadi, telah menggantikan sedan Plymouth-nya dengan sebuah sepeda merek 'Raleigh' untuk kendaraan ke kantornya," tulis Pikiran Rakyat (6 Oktober 1958)

Keputusan itu membuat Aten berbeda dari banyak pejabat lain pada zamannya. Saat sebagian elite masih menikmati fasilitas negara, dia justru memilih hidup sederhana demi menyesuaikan diri dengan kondisi ekonomi rakyat dan pemerintah daerah yang sedang sulit.

Langkah tersebut juga berdampak langsung pada penghematan anggaran. Dari kebijakan sederhana itu, pemerintah disebut bisa menghemat hingga Rp18 ribu per tahun. Ini jumlah yang cukup besar pada masa tersebut.

Sikap Aten Hawadi kemudian dikenang sebagai salah satu contoh efisiensi pejabat publik di tengah krisis ekonomi dan lonjakan harga BBM.

(mfa/mfa) Add logo_svg as a preferred
source on Google
Next Article Ekonomi RI Pernah Sulit, Pemerintah Minta Rakyat Hidup Irit


Most Popular
Features