CNBC Insight

Terusir dari Negaranya, Pangeran Thailand Jadi Tukang di Bandung

M Fakhri,  CNBC Indonesia
08 February 2026 20:15
Warga mengantre untuk menyampaikan belasungkawa kepada Ibu Suri Sirikit setelah pengumuman kematiannya, di Istana Agung di Bangkok, Thailand, 26 Oktober 2025. (REUTERS/Athit Perawongmetha)
Foto: Istana Agung di Bangkok, Thailand, 26 Oktober 2025. (REUTERS/Athit Perawongmetha)

Jakarta, CNBC Indonesia - Pangeran Siam Paribatra Sukhumbandu, yang kini wilayahnya dikenal sebagai Thailand, mengalami perubahan hidup drasti dari kehidupan mewah di lingkungan Istana Raja menjadi rakyat jelata. Dia berakhir menjalani hidup sederhana sebagai tukang kebun di Bandung. Perubahan nasib itu tak lepas dari gejolak politik besar di negerinya.

Sebagai putra Raja Chulalongkorn atau Rama V, Paribatra tumbuh dalam lingkaran elite kerajaan dan memegang sejumlah jabatan strategis di pemerintahan. Dalam buku Thailand: A Short History (2004), ia tercatat pernah menjabat sebagai Panglima Angkatan Laut, Menteri Dalam Negeri, hingga penasihat raja. Namun seluruh kekuasaan dan privilese tersebut runtuh seketika setelah kudeta pada 24 Juni 1932 yang mengakhiri dominasi monarki absolut.

Sebagai bagian dari keluarga kerajaan-baik secara politik maupun garis keturunan-Paribatra ikut terdampak langsung. Ia harus meninggalkan istana yang telah ditempatinya selama puluhan tahun dan praktis kehilangan tempat berpijak di tanah kelahirannya.

Setelah kudeta, Paribatra sempat kebingungan menentukan tujuan hidup berikutnya. Ia sempat mempertimbangkan Eropa, namun akhirnya memilih Hindia Belanda sebagai tempat pelarian. Arsip surat kabar De Indische Courant edisi 6 Agustus 1932 mencatat, Paribatra tiba di Batavia sebelum menetap di kawasan Cipaganti, Bandung. Ia datang bersama sang istri, lima anak, serta beberapa pengikut lainnya-menandai babak baru kehidupan seorang pangeran yang jatuh dari pusat kekuasaan ke kehidupan sederhana di tanah rantau.

Keputusan tinggal di Paris van Java dipilih karena suasana kota itu sesuai dengan dirinya sebagai pensiunan. Dingin, sepi, dan banyak pemandangan alam indah.

Meski dianggap pesakitan di Thailand, Paribatra begitu dihormati di Hindia Belanda. Para pejabat tinggi masih menganggapnya sebagai sosok hebat dan berjasa. Tak heran, dia diberi kebebasan di Bandung.

Harian de Indische Courant (22 Agustus 1933) menuliskan, pejabat Hindia Belanda memberikan tiga rumah besar di Bandung sebagai hunian Paribatra. Kelak, hunian tersebut dimanfaatkan sang pangeran untuk menyalurkan kegiatan terpendamnya: jadi tukang kebun.

Peneliti sejarah Bandung Haryoto Kunto dalam Semerbak Bunga di Bandung Raya (1986) menceritakan, di rumah barunya Paribatra menjadi ahli tanaman anggrek.

Sehari-hari dia menjadi tukang kebun hingga sukses membangun taman indah berbunga di depan rumah. Dari kebun itu pula, Paribatra memperkenalkan bibit anggrek yang kelak disebarluaskan di kawasan Bandung. Mengutip majalah Mooi Indie (1937), dia rela menjadi tukang kebun karena merasa Bandung masih miskin bunga-bunga.

Selain berkebun, Paribatra juga hobi berwisata ke Jawa, Sumatera dan Bali. Setiap kali berlibur, jejak langkah Paribatra selalu jadi sorotan banyak media.

Sepanjang 1933-1938, tercatat dia mengunjungi Malang, Surabaya, Jogja, Bali, Kediri Bogor, Medan, dan sebagainya. Biasanya, Paribatra datang bersama rombongan dan menginap di hotel selama berhari-hari.

Saat mengunjungi Malang, misalnya, koran Soerabaijasch handelsblad (15 Juni 1937) melaporkan, dia dan 12 orang lain diberi fasilitas hotel oleh pejabat lokal. Kemudian, mereka diajak jalan-jalan ke tempat wisata. Atau terkadang juga dia melakukan napak tilas ke beberapa wilayah yang pernah dikunjungi Rama V di Hindia Belanda.

Hidup Paribatra Sukhumbandhu berakhir pada 18 Januari 1944. Dia wafat di usia 62 tahun dan dimakamkan di Bandung. Namun, pada 1948, jenazah Paribatra dipulangkan ke tanah kelahiran untuk dikremasi di Istana Raja, Bangkok.

(hsy/hsy)

Most Popular
Features