CNBC Insight

Warga Jakarta Heboh, Kereta Tabrak Kerbau dan Jembatan-24 Orang Tewas

MFakhriansyah, CNBC Indonesia
Rabu, 29/04/2026 11:30 WIB
Foto: Sejumlah pekerja melakukan proses relokasi temuan rel trem peninggalan zaman kolonial Belanda pada proyek MRT Jakarta fase 2A CP 202 di Jalan Gajah Mada, Jakarta , Rabu (16/11/2022). Objek cagar budaya berusia lebih dari 100 tahun tersebut diperkirakan dibangun pada tahun 1869 dan merupakan rel kereta tertua di Indonesia dan akan direlokasi sementara ke storage pool PPD Jelambar. (CNBC Indonesia/ Andrean Kristianto)
Naskah ini merupakan bagian dari CNBC Insight, rubrik yang menyajikan ulasan sejarah untuk menjelaskan kondisi masa kini lewat relevansinya di masa lalu.

Jakarta, CNBC Indonesia - Kecelakaan antara KRL dengan KA Argo Bromo di Bekasi Timur pada Senin (27/7/2026) kembali mengingatkan publik pada panjangnya sejarah insiden perkeretaapian di Indonesia.

Namun, tak banyak yang tahu kecelakaan kereta pertama di Indonesia ternyata sudah terjadi lebih dari seabad lalu, tepatnya pada 1914. Menariknya, penyebab kecelakaan tersebut bukan karena tabrakan antarkereta atau kerusakan teknis, melainkan gara-gara seekor kerbau yang tiba-tiba melintas di rel.

Pada 2 April 1914, warga Batavia (kini Jakarta) dihebohkan oleh kecelakaan kereta api pengangkut pekerja pribumi di kawasan Kali Mati, Jakarta Utara. Berdasarkan pemberitaan De Express (7 April 1914), kereta berangkat dari Meester Cornelis (kini Jatinegara) menuju Tanjung Priok pukul 06.12 pagi.


Kereta tersebut membawa para pekerja pribumi yang hendak bekerja di kawasan pelabuhan. Namun, di tengah perjalanan, tepatnya saat melintas di Kali Mati, kecelakaan besar terjadi. Penyebabnya sangat tak terduga, yakni seekor kerbau mendadak menyeberangi rel.

"Sekitar 20 meter sebelum jembatan, terdapat seekor kerbau yang sedang makan rumput tiba-tiba menyeberang rel kereta. Masinis tidak sempat berhenti. Meskipun dia mengerem sekuat tenaga, tanpa hasil, tabrakan tak dapat dihindari," ungkap Bataviaasch nieuwsblad (2 April 1914).

Kereta yang melaju sekitar 30 kilometer per jam itu langsung menghantam kerbau hingga anjlok dan menabrak jembatan. Dampaknya sangat parah. Gerbong pertama hancur lalu terjun ke sungai bersama reruntuhan jembatan. Gerbong kedua menggantung di tepi jembatan, sementara gerbong-gerbong lain keluar dari rel.

Foto: Potret kecelakaan kereta api pertama dan terbesar di Indonesia masa kolonial pada 2 April 1914. (Dok. delpher.nl)

Menurut Bataviaasch nieuwsblad (2 April 1914), suasana di lokasi kecelakaan sangat mengerikan. Gerbong-gerbong saling bertumpukan dan ringsek. Sebagian korban bahkan terjebak di gerbong yang tenggelam ke sungai.

"Ketika tiba di lokasi sekitar pukul 8 pagi, kami benar-benar tidak tahu apa yang kami lihat. Sangat mengerikan," ungkap reporter koran Belanda tersebut.

Jeritan korban terdengar bersahut-sahutan di lokasi kejadian. Tangis keluarga dan warga ikut memenuhi area kecelakaan. Warga yang datang berkerumun segera memanggil bantuan. Tak lama kemudian, dokter dan tenaga medis berdatangan untuk melakukan penyelamatan. Namun, keterbatasan alat membuat proses evakuasi berlangsung lama.

Kondisi korban saat ditemukan disebut sangat mengenaskan. Banyak yang mengalami luka berat di kepala dan patah tulang. Sejumlah korban ditemukan sudah meninggal dunia. Meski begitu, ada pula yang masih bertahan hidup dan menjadi korban terakhir yang selamat, salah satunya seorang petugas rem.

"Setelah beberapa waktu, mereka berhasil membebaskan pria itu. Ternyata dia adalah seorang petugas rem. Dia masih hidup. Tapi sangat mengerikan melihat tubuhnya karena dipenuhi banyak luka. Di sana, di tempat roda menekannya, ada luka menganga besar. Darah benar-benar mengalir. Kepalanya hancur, sementara luka besar juga terlihat di dada," ungkap koran tersebut.

Dalam penyelidikan, mengutip surat kabar Nieuwe Tilburgsche Courant (6 Mei 1914), tercatat 24 orang meninggal dunia dan puluhan lainnya mengalami luka-luka. Masinis selamat, tetapi harus menjalani perawatan cukup lama.

Hasil penyelidikan polisi menyebut penyebab utama kecelakaan memang murni karena kerbau tersebut. Hewan itu awalnya sedang mencari makan di sekitar rel, lalu tiba-tiba lepas dari rombongan dan menyeberang tepat saat kereta melaju. Akibatnya, tabrakan pun tak dapat dihindari.

Pasca kejadian, perusahaan kereta api disebut mulai mempertimbangkan pemasangan pelindung di bagian depan lokomotif serta pagar di sepanjang rel untuk mencegah kecelakaan serupa terulang kembali.


(mfa/wur) Add as a preferred
source on Google