CNBC Insight

Di Jakarta, Istri Dibunuh Suami Gara-Gara Minta Baju Lebaran

MFakhriansyah,  CNBC Indonesia
12 March 2026 14:25
Ilustrasi pembunuhan
Foto: (Getty Images/ilbusca)

Jakarta, CNBC Indonesia - Tingginya kebutuhan masyarakat menjelang Lebaran sejak dulu sering kali tidak sebanding dengan pendapatan yang dimiliki. Ketimpangan ini bahkan pernah memicu tindak kriminal tragis pada masa kolonial.

Salah satu peristiwa terjadi pada perayaan Idul Fitri 1350 H atau Januari 1932. Menjelang hari raya umat Islam tersebut, warga Jakarta yang, saat itu masih bernama Batavia, dihebohkan oleh kasus pembunuhan yang dilakukan seorang suami terhadap istrinya sendiri di kawasan Tanjung Priok.

Koran De Indische courant (9 Mei 1932) melaporkan, pembunuhan tersebut dipicu permintaan sang istri yang ingin membeli baju baru untuk Lebaran. Dia meminta uang kepada suaminya, Telo bin Saleh, beberapa hari sebelum 1 Syawal agar bisa membeli satu set pakaian baru.

Namun, permintaan itu tidak dipenuhi. Telo bin Saleh menolak karena kondisi keuangan yang sulit. Dia mengaku tidak memiliki uang dan menyarankan agar mereka merayakan Lebaran secara sederhana dengan memakai pakaian lama. Situasi ekonomi saat itu memang sedang sulit karena Hindia Belanda tengah dilanda krisis ekonomi.

Sayangnya, sang istri tidak menerima alasan tersebut. Dia terus mendesak suaminya agar memberikan uang untuk membeli pakaian baru. Bagi dirinya, Lebaran harus dirayakan dengan suka cita, salah satunya melalui tradisi mengenakan baju baru.

"Diketahui bahwa sudah menjadi tradisi bagi masyarakat pribumi, betapapun miskinnya, untuk berdandan dengan pakaian baru di hari Lebaran," tulis De Indische courant.

Perdebatan antara keduanya terus memanas. Telo bin Saleh tetap bersikukuh menolak permintaan istrinya dengan alasan yang sama. Hingga akhirnya, sang istri terus mendesak dan bahkan melontarkan kata-kata penghinaan kepada suaminya.

Ucapan tersebut memicu kemarahan Telo. Dalam kondisi emosi, dia mengambil pisau dan menusukkannya ke tubuh istrinya. Serangan itu membuat korban tewas seketika. Akibat perbuatannya, Telo bin Saleh harus menjalani Lebaran di balik jeruji besi dalam waktu lama.

Terlepas dari kasus, peristiwa tersebut menunjukkan tradisi membeli baju baru untuk Lebaran sudah mengakar lama di masyarakat Indonesia. Kebiasaan ini bahkan sudah tercatat jauh sebelum kasus tragis pada 1932 itu terjadi.

Penasehat urusan Islam pemerintah kolonial Belanda, Snouck Hurgronje, pernah mencatat fenomena tersebut dalam buku Aceh di Mata Kolonialis (1906). Dia menuliskan bahwa masyarakat di berbagai daerah Nusantara memiliki kebiasaan membeli pakaian baru menjelang Lebaran.

Di Aceh, misalnya, masyarakat justru lebih memprioritaskan membeli pakaian baru dibandingkan membeli daging untuk hidangan hari raya. Akibatnya, pasar pakaian menjadi jauh lebih ramai dibandingkan pasar bahan pangan.

Hal serupa juga terlihat di Batavia. Menurut catatan Snouck, warga kota menghabiskan banyak uang menjelang Lebaran untuk membeli pakaian baru, petasan, serta berbagai makanan. Hal ini terjadi karena Lebaran dipandang sebagai hari yang sangat istimewa sehingga harus dirayakan dengan penuh kegembiraan.

Di sisi lain, kebiasaan tersebut dianggap sebagai bentuk pemborosan oleh sebagian pejabat kolonial. Dua pejabat pemerintah Hindia Belanda, Stienmetz dan De Wolff, bahkan pernah menyampaikan keberatan terhadap tradisi perayaan Lebaran yang dilakukan masyarakat Muslim.

Mereka menilai banyak pegawai pribumi menggelar pesta Lebaran secara besar-besaran meskipun harus meminjam uang untuk membiayainya.

Namun, Snouck Hurgronje tidak setuju jika tradisi tersebut dilarang. Menurutnya, pelarangan tidak serta-merta membuat masyarakat menjadi lebih hemat.

"Tidak ada alasan tepat untuk mengadakan imbauan agar membatasi perayaan lebaran. [...] Bahkan, dengan cara itu pun (pelarangan) belum tentu orang akan dapat lebih membangkitkan hasrat berhemat," kata Snouck, dikutip dari Nasihat-Nasihat Snouck Hurgronje Jilid IV (1991).

(mfa/wur) Add as a preferred
source on Google
Next Article Warga Jakarta Beneran Minum Air Gunung Salak, Bukan dari Aqua Cs


Most Popular
Features