CNBC Insight

Kapal Wisata Lebaran Terbalik di Laut Jawa, 73 Orang Tewas-9 Hilang

MFakhriansyah,  CNBC Indonesia
21 March 2026 16:30
Ilustrasi kapal pengangkut turis tenggelam
Foto: (Getty Images/asbe)
Naskah ini merupakan bagian dari CNBC Insight, rubrik yang menyajikan ulasan sejarah untuk menjelaskan kondisi masa kini lewat relevansinya di masa lalu.

Jakarta, CNBC Indonesia -  Berwisata saat Lebaran memang sudah menjadi tradisi lama di Indonesia. Namun, sejarah mencatat tidak semua perjalanan liburan berakhir bahagia. Salah satu tragedi paling mengerikan terjadi pada 1956 di perairan Laut Jawa, tepatnya di pelabuhan Tegal, Jawa Tengah.

Pada hari Minggu, 13 Mei 1956, sebuah perahu motor yang membawa rombongan wisatawan Lebaran terbalik karena kelebihan muatan. Kapal yang seharusnya hanya mampu menampung 40 orang itu ternyata membawa sekitar 100 penumpang, termasuk orang dewasa dan anak-anak.

"Para korban yang malang tersebut merupakan bagian dari kelompok wisatawan yang melakukan pelayaran wisata sehubungan dengan Lebaran," tulis surat kabar Belanda Java Bode (15 Mei 1956).

Akibat kecelakaan itu, 73 orang tewas, sembilan lainnya hilang, dan hanya 18 orang yang berhasil diselamatkan. Tim penyelamat masih terus mencari korban yang hilang di sekitar perairan pelabuhan.

Menurut laporan Algemeen Indisch Dagblad: De Preangerbode (15 Mei 1956), kapal tersebut diterjang ombak besar sehingga tidak mampu menahan beban penumpang yang jauh melebihi kapasitas. Polisi setempat menegaskan, kapal seharusnya hanya membawa maksimal 40 orang, tetapi pada hari kejadian jumlah penumpang lebih dari dua kali lipat.

Perahu motor itu dimiliki oleh seorang warga bernama Tarjak dari Tegalsari, yang biasanya menggunakan kapal untuk memancing. Setelah tragedi, tiga awak kapal ditahan oleh polisi untuk diperiksa lebih lanjut.

Menurut koran De nieuwsgier (11 Juni 1956), dari kejadian ini pemerintah Tegal semakin memperketat kapal-kapal yang digunakan untuk rekreasi, seperti keberadaan surat izin kapal, bukti perawatan, dan sertifikasi pengemudi. Kemudian, awak kapal yang ditahan divonis hukuman beberapa bulan. 

Peristiwa ini menjadi salah satu kecelakaan wisata laut paling mematikan pada masa itu. Selain menjadi catatan kelam sejarah, tragedi ini juga menjadi pengingat pentingnya keselamatan dalam berwisata, termasuk saat Lebaran. Meski tradisi liburan sudah ada sejak puluhan tahun lalu, keselamatan tetap harus menjadi prioritas utama.

(mfa/mfa) Add as a preferred
source on Google


Most Popular
Features