Presiden AS Tiba-Tiba Muntah dan Pingsan di Depan PM Jepang
Jakarta, CNBC Indonesia - Kondisi kesehatan pemimpin Amerika Serikat selama ini selalu menjadi perhatian serius karena berkaitan langsung dengan stabilitas politik dan kepercayaan publik. Namun sebuah peristiwa tak terduga pernah terjadi pada awal 1990-an, ketika Presiden AS mendadak mengalami gangguan kesehatan di hadapan publik internasional.
Momen tersebut terjadi pada Januari 1992 saat Presiden George H. W. Bush menjalani kunjungan kenegaraan ke Jepang. Dalam agenda resmi itu, ia menghadiri jamuan makan malam yang digelar oleh Perdana Menteri Jepang Kiichi Miyazawa di Tokyo.
Di tengah suasana formal yang berlangsung khidmat, kejadian mengejutkan terjadi. Saat duduk di meja utama dan menikmati hidangan, Bush tiba-tiba terlihat lemah sebelum akhirnya muntah dan kehilangan kesadaran. Tubuhnya bahkan sempat terjatuh dari kursi ke lantai, membuat seluruh ruangan panik.
Peristiwa itu langsung mengubah suasana. Tuan rumah bersama petugas keamanan sigap memberikan pertolongan, sementara para tamu hanya bisa menyaksikan detik-detik ketika salah satu pemimpin paling berpengaruh di dunia tampak tak berdaya.
Beruntung, Bush segera siuman. Dia bangkit, tersenyum, bahkan sempat mengacungkan jempol kepada para tamu sebagai tanda dirinya baik-baik saja. Setelah itu, dia meninggalkan acara untuk beristirahat di suite pribadinya di Istana Akasaka.
Menurut situs History, dokter kepresidenan kemudian memastikan Bush mengalami gastroenteritis akut, semacam gangguan lambung dan usus yang memicu mual hebat. Apakah karena makan sushi? Tidak bisa ditebak pasti. Sebab, 1-2 hari sebelumnya, agenda Bush memang sangat menguras energi.
Keesokan harinya, kondisinya disebut pulih dan dia kembali menjalani agenda kenegaraan seperti biasa.
Namun, dampak politik dari kejadian itu tak berhenti di ruang jamuan makan. Dalam pemberitaan New York Times, rekaman Bush muntah dan pingsan tersebar luas ke seluruh dunia, memicu gelombang olok-olok dari media hingga acara komedi malam di AS. Di tengah tahun politik, insiden tersebut ikut memperkuat citra Bush sebagai sosok yang mulai menua dan tidak lagi sekuat sebelumnya.
Sebaliknya, penantangnya dari Partai Demokrat, Bill Clinton, tampil dengan citra jauh lebih muda, enerjik, dan penuh vitalitas. Kontras itu menjadi keuntungan besar bagi Clinton dalam membangun persepsi publik.
Meski tentu bukan satu-satunya faktor, momen memalukan di Tokyo itu kerap disebut sebagai salah satu simbol melemahnya citra Bush menjelang pemilu 1992. Pada November tahun yang sama, Bush akhirnya kalah dalam upaya merebut masa jabatan kedua, sementara Clinton melenggang ke Gedung Putih.
(mfa/haa) Add
source on Google