Kunjungi Moskow, Presiden RI Disebut Sosok Cemerlang & Pahlawan Bangsa
Jakarta, CNBC Indonesia - Rusia, yang dulu bernama Uni Soviet, bukanlah negara asing bagi para Presiden Indonesia. Dalam catatan sejarah, 7 dari 8 presiden RI pernah berkunjung ke Rusia.
Namun, ada satu momen yang paling berkesan. Seorang pemimpin Rusia pernah secara terbuka menyebut Presiden RI sebagai sosok cemerlang sekaligus pahlawan bangsa.
Peristiwa itu terjadi pada 5 Juni 1961, saat Presiden ke-1 RI, Soekarno, melakukan kunjungan kenegaraan ke Uni Soviet. Lawatan tersebut menjadi kunjungan ketiganya ke negara itu, sekaligus salah satu yang paling istimewa sepanjang karier diplomatiknya.
Setibanya di Bandara Moskow, Soekarno mendapat sambutan luar biasa dari Presiden Leonid Brezhnev dan PM Nikita Khrushchev. Selain itu, menurut harian Merdeka (7 Juni 1961), penyambutan kali ini berbeda dari biasanya karena dihadiri para pejabat senior negara hingga duta besar asing.
"Tidak ketinggalan pula para menteri Uni Soviet lainnya, para duta besar negara asing di Moskow menyambut kedatangan Soekarno," ungkap Merdeka.
Suasana penyambutan makin megah ketika kedatangan Soekarno ditandai dengan 21 kali tembakan meriam, disusul lantunan lagu kebangsaan Indonesia Raya dan upacara kenegaraan resmi.
Dalam upacara tersebut, Presiden berulang kali melontarkan pujian kepada Soekarno. Dia menyebut presiden pertama RI itu bukan sekadar kepala negara, tetapi simbol perjuangan dunia.
"Hari ini adalah hari yang sangat bahagia bagi rakyat Uni Soviet, karena kami menerima seorang pejuang perdamaian dunia, pahlawan bangsanya,'" ungkap Brezhnev.
Pujian itu bukan tanpa alasan. Sejak pagi, ribuan warga Soviet, terutama kalangan pekerja, sudah memadati jalanan Moskow untuk menyambut kedatangan Soekarno. Mereka berdiri di sepanjang rute perjalanan sambil meneriakkan kata yang sangat akrab bagi bangsa Indonesia: "Merdeka!"
Menurut harian Merdeka (7 Juni 1961), di mata pemerintah Soviet, Soekarno dianggap sebagai pemimpin cemerlang yang berhasil membawa bangsanya keluar dari penjajahan dan memperjuangkan cita-cita nasional.
"Ke mana saja Soekarno boleh pergi dalam kunjungan di negeri kami, ke mana yang Soekarno suka. Rakyat uni soviet akan menyambut Soekarno dengan meriah dimana-mana," ungkap sang Presiden.
Sambutan luar biasa itu membuat Soekarno mengaku terharu. Dalam laporan yang dikutip koran Nasional (7 Juni 1961), dia menyebut kemeriahan penyambutan menjadi bukti kuat eratnya hubungan Indonesia dan Uni Soviet.
"Kedatangan kami disambut dengan meriah sebagai tanda bahwa simpati Uni Soviet terhadap Indonesia sudah lama," kata Soekarno.
Bagi Soekarno, Uni Soviet bukan sekadar sahabat diplomatik, tetapi juga mitra strategis untuk mewujudkan berbagai ambisi besar Indonesia, Mulai dari pembangunan nasional hingga penguatan posisi RI di panggung internasional.
Popularitas Soekarno sendiri saat itu memang sudah mendunia. Namanya melambung sebagai simbol anti-kolonialisme dan pemimpin negara-negara berkembang, terutama setelah keberhasilannya menggelar Konferensi Asia Afrika di Bandung pada 1955, forum penting yang menentang neokolonialisme Barat.
Dalam perjalanan sejarahnya, Soekarno memang dikenal semakin dekat dengan Blok Timur, termasuk Beijing dan Moskow. Kedekatan ini bahkan membuat Amerika Serikat merasa tidak nyaman.
Dalam autobiografi Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia (1965), dia mengenang reaksi Washington atas langkah diplomatiknya.
"Mereka (AS) melihat kunjunganku ke Beijing dan Moskow adalah langkah yang salah," ungkap Soekarno.
Momen penyambutan megah di Moskow pada 1961 itu akhirnya menjadi bukti bahwa Presiden RI pernah berada di puncak pengaruh diplomasi global, hingga dipandang negara komunis itu sebagai pahlawan perdamaian dunia dan sosok cemerlang.
(mfa/luc)