CNBC Insight

Presiden RI Ini Curhat Gajinya Tak Cukup, Harus Minjam ke Ajudan

MFakhriansyah,  CNBC Indonesia
18 April 2026 19:45
Uang Gaji
Foto: iStock
Naskah ini merupakan bagian dari CNBC Insight, rubrik yang menyajikan ulasan sejarah untuk menjelaskan kondisi masa kini lewat relevansinya di masa lalu.

Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden pertama RI Soekarno pernah mengeluhkan kecilnya gaji yang dia terima hingga harus kerap meminjam uang, bahkan dari ajudannya sendiri, di tengah kondisi ekonomi negara yang masih kacau pada awal kemerdekaan.

Tak lama setelah proklamasi, pemerintah menetapkan gaji presiden sebesar f.1.000 per bulan melalui Penetapan Pemerintah No. 1/O.P pada November 1945. Tahun 1945, 1 gulden setara Rp1 rupiah. Artinya f.1000 sama dengan Rp 1.000.

Namun, nominal ini bersifat sementara, menyesuaikan kondisi negara yang saat itu masih dalam masa genting. Bagi keluarga istana, jumlah tersebut tergolong sangat terbatas.

Ibu Negara Fatmawati dalam memoarnya Fatmawati: Catatan Kecil Bersama Bung Karno (2017) menceritakan, setiap bulan dia menerima amplop berisi gaji Bung Karno yang jumlahnya tidak seberapa. Uang itu harus dicukup-cukupkan untuk kebutuhan makan keluarga dan keperluan rumah tangga lainnya karena hanya ada satu sumber penghasilan.

"Aku sendiri tak mencari uang untuk dapat membantu mencukupi kebutuhan," ungkap Fatmawati.

Kondisi serba terbatas ini juga diakui langsung oleh Soekarno. Dalam autobiografinya Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia (1965), dia mengaku sering kesulitan memenuhi kebutuhan keluarga.

"Dan adakah seorang kepala negara lain yang melarat seperti aku dan sering meminjam-minjam dari ajudannya? Gajiku US$200 sebulan dan tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan keluargaku," kenangnya.

Curhat tersebut menggambarkan beratnya kondisi ekonomi bahkan di level kepala negara pada masa awal republik. Situasi ini tak lepas dari kondisi Indonesia yang baru saja merdeka pada 17 Agustus 1945, tanpa fondasi ekonomi yang kuat.

Saat itu, Indonesia menghadapi hiperinflasi, kerusakan infrastruktur, terganggunya jalur distribusi, serta sistem administrasi yang belum tertata. Di sisi lain, perang mempertahankan kemerdekaan melawan Belanda juga menyedot anggaran besar.

Kondisi makin memburuk setelah Belanda menjalankan blokade ekonomi yang menghambat aktivitas ekspor-impor dan mempersempit pemasukan negara. Akibatnya, pemerintah harus mencari berbagai cara untuk bertahan, mulai dari patungan hingga menjual aset yang masih bisa menghasilkan dana.

Di tengah tekanan tersebut, gaji presiden pun ikut terdampak. Soekarno harus menjalani kehidupan sederhana, jauh dari kesan mewah yang kerap melekat pada sosok kepala negara.

(mfa/mfa) Add as a preferred
source on Google
Next Article Negara Kaya Ini Nyaris Bangkrut, Inflasi 600%-Warga Tak Percaya Uang


Most Popular
Features